Editor
KOMPAS.com – Bagi banyak anak muda di Arab Saudi, pekerjaan kini bukan lagi soal satu kantor, satu jabatan, dan satu sumber penghasilan.
Di balik rutinitas kerja utama, muncul tren baru yang diam-diam mengubah cara mereka memandang karier: side hustle.
Fenomena ini bukan sekadar pekerjaan sampingan biasa. Ia menjadi simbol perubahan besar—tentang identitas, kebebasan, dan cara generasi muda membangun masa depan.
Secara sederhana, side hustle adalah pekerjaan atau usaha tambahan yang dijalankan di luar pekerjaan utama. Namun berbeda dengan pekerjaan sampingan biasa, side hustle biasanya berangkat dari passion, kreativitas, dan keinginan membangun sesuatu milik sendiri.
Misalnya:
Bagi generasi muda, ini bukan sekadar “tambahan uang”, tapi ruang untuk berekspresi.
Dulu, kesuksesan sering diukur dari stabilitas satu pekerjaan tetap. Kini, pola itu mulai bergeser.
Laporan dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa generasi muda semakin nyaman menjalankan beberapa peran sekaligus, alih-alih bergantung pada satu identitas profesional.
Hal ini terlihat jelas di Arab Saudi, di mana aktivitas freelance dan wirausaha meningkat, didukung oleh platform digital yang semakin mudah diakses.
Menariknya, banyak anak muda tidak memulai side hustle karena terpaksa, melainkan karena ingin.
Seperti yang dialami Faisal Al-Harbi, yang tetap bekerja sebagai eksekutif marketing sambil membangun toko online.
“Pekerjaan utama memberi struktur, tapi tidak selalu memberi rasa memiliki. Di side hustle, saya bisa bereksperimen dan menjadi diri sendiri,” ujarnya.
Bagi banyak orang, pekerjaan utama adalah stabilitas. Sementara side hustle adalah kebebasan.
Perkembangan teknologi menjadi kunci utama tren ini.
Platform e-commerce, media sosial, hingga marketplace freelance membuat siapa saja bisa memulai tanpa modal besar:
Bahkan, penelitian dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa pekerjaan yang memberi otonomi dan makna lebih tinggi cenderung membuat individu lebih terlibat dan puas.
Meski terlihat menjanjikan, side hustle bukan tanpa tantangan.
Menjalankan dua peran sekaligus berarti waktu pribadi sering tergerus. Malam dan akhir pekan bisa berubah menjadi jam kerja tambahan.
Layan Al-Qahtani merasakan hal itu secara langsung.
“Ada hari ketika saya selesai kerja, lalu langsung lanjut ke pekerjaan kedua. Melelahkan, tapi terasa bermakna,” katanya.
Di sinilah muncul fenomena hustle culture—tekanan untuk terus produktif tanpa henti.
Menurut International Labour Organization, fleksibilitas kerja seperti freelance memang memberi kebebasan, tetapi juga berisiko:
Namun di Arab Saudi, tren ini cenderung lebih aman karena side hustle umumnya melengkapi pekerjaan utama, bukan menggantikannya.
Bagi generasi muda, side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari identitas.
Mohammed Al-Dossary melihatnya sebagai dua sisi kehidupan.
“Saya tidak melihat ini sebagai dua pekerjaan. Ini dua bagian dari diri saya,” ujarnya.
Pola pikir ini semakin populer di media sosial, di mana anak muda membagikan perjalanan mereka membangun proyek pribadi.
Tren ini juga sejalan dengan transformasi ekonomi Arab Saudi melalui Vision 2030.
Pemerintah mendorong kewirausahaan, memperluas dukungan UMKM, dan menyediakan sistem lisensi freelance. Semua ini membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk berkembang.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah side hustle akan terus berkembang, tetapi bagaimana ia akan membentuk masa depan dunia kerja.
Baca juga: Saat Warga Arab Saudi “Turun Level” ke Ponsel Jadul demi Kesehatan Mental
Dari sekadar pekerjaan tambahan, side hustle telah menjadi:
Bagi anak muda Arab Saudi, pekerjaan 9-to-5 bukan lagi akhir cerita.
Ia hanyalah awal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang