Penulis
KOMPAS.com - Di tengah memanasnya konflik global, kabar wafatnya Ali Larijani mengguncang panggung politik internasional.
Sosok yang selama ini dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di Iran itu dilaporkan meninggal dalam serangan yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel, sebagaimana dilaporkan Russia Today.
Pernyataan resmi dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), melalui Russia Today, menyebut Larijani sebagai salah satu tokoh politik paling berpengaruh dan strategis di negara tersebut.
Bahkan sejumlah media Barat menempatkannya sebagai figur kedua paling kuat setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Baca juga: Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ayatollah Ali Khamenei
Larijani bukan nama baru dalam politik Iran. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen dan menjadi penasihat dekat bagi Ali Khamenei.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran—posisi yang membuatnya berada di pusat pengambilan keputusan strategis negara.
Perannya semakin penting di tengah spekulasi suksesi kepemimpinan Iran. Banyak pihak melihat Larijani sebagai figur kunci dalam proses tersebut, bahkan dianggap sebagai pemimpin de facto dalam masa transisi politik.
Kematian Larijani dilaporkan terjadi dalam gelombang awal serangan pada akhir Februari, bersama sejumlah tokoh lain, termasuk putranya dan pejabat keamanan senior.
Di sisi lain, dinamika geopolitik semakin kompleks. Donald Trump dan Benjamin Netanyahu secara terbuka menyebut perubahan rezim di Iran sebagai salah satu tujuan utama dalam konflik yang berlangsung.
Namun, pejabat Iran menegaskan bahwa strategi tersebut tidak akan berhasil. Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai figur penerus disebut sebagai bukti bahwa stabilitas pemerintahan tetap terjaga meski kehilangan tokoh penting.
Muhammad Ma'ruf PhD, Direktur Global Thinker Institute, menjelaskan, di balik citranya sebagai politisi dan ahli strategi keamanan, Larijani menyimpan sisi lain yang jarang terungkap ke publik.
Ia dikenal sebagai seorang akademisi yang mendalami filsafat Barat, khususnya pemikiran Immanuel Kant.
Karya-karyanya banyak membahas hubungan antara sains, matematika, dan metafisika—sesuatu yang jarang ditemui dalam figur politik modern.
Bahkan, seorang pensiunan kolonel Perancis, Jacques Hogard kepada Media televisi Perancis, TV Liberte, menyebut Larijani sebagai representasi peradaban Persia yang kaya akan tradisi intelektual.
"Larijani adalah salah satu pemikir arsitektur militer Iran. Kerapian, tahapan, perencanaan, detil matematika dan metafisika Immanuel Kant mempengaruhi Larijani dalam menyusun doktrin militer Iran," kata Ma'ruf, lulusan doktor dari Tehran kepada Kompas.com, Minggu (5/4/2026).
Namun mungkin yang paling menyentuh adalah sisi personalnya.
Dalam sebuah pengakuan, sang istri menyebut Larijani sebagai sosok yang sederhana di rumah—mencuci piring, memasak, hingga berbelanja sendiri tanpa diminta.
"Gambaran ini kontras dengan citra publiknya sebagai tokoh besar negara, sekaligus memperlihatkan bahwa di balik kekuasaan, ia tetap manusia biasa," jelas mahasiswa yang sedang dalam proses post doctoral di Moscow, Rusia, ini.
Larijani juga dikenal kerap hadir langsung bersama masyarakat. Ia pernah terlihat mengikuti pawai Al-Quds bersama rakyat Iran, berdiri berdampingan dengan Presiden Masoud Pezeshkian.
Kehadirannya di tengah publik menunjukkan gaya kepemimpinan yang tidak berjarak—sebuah pendekatan yang membuatnya dekat dengan masyarakat.
Kepergian Larijani memang meninggalkan kekosongan di panggung politik Iran. Namun, bagi banyak kalangan, warisan pemikirannya justru semakin terasa.
Baca juga: Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel
Di kalangan generasi muda Iran, sosoknya mulai dilihat sebagai simbol keteguhan, intelektualitas, dan keseimbangan antara kekuasaan dan kemanusiaan.
Dalam dunia yang sering menilai pemimpin dari kekuatan politik semata, kisah Ali Larijani menawarkan sudut pandang berbeda—bahwa kepemimpinan juga tentang pikiran, nilai, dan cara hidup.
Ia mungkin telah gugur dalam konflik, tetapi cerita tentang dirinya justru terus hidup—menjadi pengingat bahwa di balik gejolak dunia, selalu ada sisi manusia yang layak dikenang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang