KOMPAS.com – Menguap sering kali dianggap sebagai hal sepele, sekadar respons alami tubuh saat lelah atau mengantuk.
Namun dalam ajaran Islam, fenomena ini tidak dipandang netral sepenuhnya. Ada dimensi etika, spiritual, bahkan simbolik yang menyertainya.
Dalam sejumlah hadis, Nabi Muhammad memberikan perhatian khusus terhadap perilaku menguap.
Tidak untuk melarang secara mutlak, tetapi untuk mengarahkan bagaimana seorang Muslim menyikapinya dengan adab yang tepat.
Dalam riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah mencintai bersin dan membenci menguap. Hadis ini tercantum dalam Sahih Bukhari dan juga diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Makna “dibenci” dalam konteks ini tidak serta-merta menunjukkan keharaman. Para ulama menafsirkannya sebagai sesuatu yang tidak disukai karena berkaitan dengan kondisi malas dan kurangnya kesiapan fisik maupun mental dalam beribadah.
Dalam kitab Jawahir Al-Bukhari karya Musthafa Muhammad Imarah, dijelaskan bahwa menguap dikaitkan dengan sifat lalai.
Berbeda dengan bersin yang menunjukkan tubuh aktif dan sehat, menguap sering muncul saat seseorang kehilangan fokus atau energi.
Baca juga: Bacaan Doa Minum Air Zamzam Lengkap: Adab, Manfaat, dan Keutamaannya
Pertanyaan ini sering muncul, apakah menguap termasuk perbuatan yang dilarang?
Jawabannya tidak. Menguap bukanlah perbuatan haram. Ia adalah refleks alami yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, Islam mengajarkan untuk mengendalikan dan meminimalkan dampaknya.
Dalam buku Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah karya Fida’ Abdilah dan Yusak Burhanudin dijelaskan bahwa menguap tidak dilarang, tetapi tidak disukai karena berasal dari setan.
Maksudnya adalah, kondisi yang memicu menguap, seperti malas dan lengah merupakan celah yang dimanfaatkan oleh setan.
Dengan kata lain, yang menjadi perhatian bukan sekadar aktivitas menguap, melainkan kondisi batin yang menyertainya.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menyebut bahwa menguap berasal dari setan. Pernyataan ini sering disalahpahami secara literal.
Dalam kitab At-Taujiih wal Irsyaadun Nafsi karya Mufir bin Said Az Zahrani, dijelaskan bahwa setan memanfaatkan kondisi lemah manusia, seperti kantuk dan malas, untuk mengganggu kekhusyukan ibadah.
Ketika seseorang menguap, ia cenderung:
Kondisi inilah yang disebut sebagai “ruang masuk” bagi godaan setan.
Bahkan dalam hadis riwayat Muttafaq ‘alaih disebutkan bahwa ketika seseorang menguap hingga mengeluarkan suara “haa”, setan akan menertawakannya.
Ini bukan sekadar gambaran simbolik, tetapi peringatan agar manusia menjaga kehormatan dan kesadaran dirinya.
Baca juga: 10 Waktu Mustajab untuk Berdoa dan Adab Agar Doa Dikabulkan Allah
Islam tidak hanya memberikan penilaian, tetapi juga solusi praktis. Ada beberapa adab yang diajarkan Rasulullah SAW ketika seseorang tidak mampu menahan menguap.
Rasulullah menganjurkan agar menguap ditahan sebisa mungkin. Ini menunjukkan pentingnya kontrol diri, bahkan dalam hal kecil.
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, disebutkan bahwa jika menguap tidak dapat ditahan, maka hendaknya menutup mulut dengan tangan.
Selain bernilai adab, hal ini juga relevan secara medis untuk mencegah penyebaran kuman.
Mengeluarkan suara keras saat menguap, seperti “haa”, dianjurkan untuk dihindari. Dalam buku 50 Adab Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah karya Arfiani, hal ini termasuk bagian dari menjaga etika di hadapan orang lain.
Menguap yang dibuat-buat atau dilebih-lebihkan bertentangan dengan prinsip kesederhanaan dalam Islam. Sikap berlebihan sering kali berkaitan dengan kelalaian.
Situasi ini sering terjadi, terutama saat membaca dalam kondisi lelah.
Dalam kitab At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Imam Nawawi menjelaskan bahwa jika seseorang menguap saat membaca Al-Qur’an, maka ia dianjurkan untuk berhenti sejenak hingga menguapnya selesai. Setelah itu, barulah melanjutkan bacaan.
Hal ini bertujuan menjaga kehormatan Al-Qur’an serta memastikan bacaan tetap dilakukan dengan fokus dan adab yang baik.
Baca juga: Adab Islami yang Kian Terlupakan, Padahal Penentu Kualitas Iman
Secara ilmiah, menguap berkaitan dengan kebutuhan tubuh akan oksigen dan regulasi suhu otak.
Namun dalam psikologi, menguap juga sering dikaitkan dengan kelelahan mental dan rendahnya stimulasi.
Islam, melalui ajarannya, secara tidak langsung mendorong gaya hidup yang lebih disiplin:
Dengan demikian, ajaran tentang menguap tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga relevan dengan kesehatan modern.
Menguap memang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Ia adalah bagian dari mekanisme tubuh. Namun Islam mengajarkan bahwa bahkan dalam kondisi refleks, manusia tetap memiliki ruang untuk mengontrol sikapnya.
Di sinilah letak keunikan ajaran Islam, mengatur hal besar hingga detail kecil dalam kehidupan. Menguap bukan sekadar tanda kantuk, tetapi juga cerminan kondisi batin seseorang.
Ketika seseorang mampu menahan, menutup mulut, dan menjaga adabnya saat menguap, ia sebenarnya sedang melatih kesadaran diri. Sebuah latihan kecil yang berdampak besar dalam membentuk karakter.
Dan dari situlah pesan utama ajaran ini muncul, bukan pada menguapnya, tetapi pada bagaimana manusia menyikapinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang