Editor
KOMPAS.com – Penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M mengalami perubahan besar, mulai dari peralihan kelembagaan hingga skema pembagian kuota jemaah.
Pemerintah memastikan sistem baru ini dirancang untuk meningkatkan keadilan dan kualitas layanan bagi calon jemaah Indonesia.
Mulai musim haji 2026, pengelolaan haji resmi dialihkan dari Kementerian Agama ke Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj), yang dibentuk pada 8 September 2025. Langkah ini menjadi tonggak reformasi tata kelola haji nasional.
Baca juga: Aturan Pakaian Ihram Haji 2026, Ini Ketentuan dan Larangan yang Wajib Diketahui Jemaah
Total kuota haji Indonesia tahun ini mencapai 221.000 jemaah, terdiri dari 203.320 jemaah reguler (92 persen) dan 17.680 jemaah khusus (8 persen)
Menariknya, pembagian kuota kini menggunakan formula baru berbasis proporsi daftar tunggu di setiap daerah.
Sistem ini diharapkan mampu meratakan waktu tunggu haji di seluruh Indonesia.
Pemerintah melalui Keputusan Menteri Haji dan Umrah telah menetapkan jadwal resmi:
Transportasi udara akan dilayani oleh Garuda Indonesia (11 embarkasi) dan Saudia (6 embarkasi)
Sementara di Makkah, jemaah Indonesia diproyeksikan mulai menempati Novotel Thakher Makkah yang berjarak sekitar 2,5 km dari Masjidil Haram.
Hotel ini akan dikembangkan sebagai bagian dari proyek Kampung Haji Indonesia dengan kapasitas hingga 24.000 jemaah ke depan.
Jemaah kini bisa memantau estimasi keberangkatan secara mandiri melalui Satu Haji dan Pusaka Kemenag.
Kedua aplikasi ini menyediakan fitur pengecekan nomor porsi dan status keberangkatan secara real-time.
Pemerintah juga memperketat syarat kesehatan (istithaah). Setidaknya ada 11 kondisi medis yang tidak memenuhi syarat keberangkatan, antara lain:
Kebijakan ini bertujuan memastikan keselamatan jemaah selama menjalankan ibadah di tengah kondisi cuaca ekstrem dan kepadatan tinggi di Arab Saudi.
Baca juga: Pembatasan Masuk Makkah Berlaku Jelang Haji 2026, WNI Diminta Jangan Coba Jalur Ilegal
Perubahan besar dalam penyelenggaraan haji 2026 ini menandai era baru layanan ibadah haji Indonesia yang lebih modern, transparan, dan berorientasi pada keselamatan jemaah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.