KOMPAS.com – Hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi selama ini dikenal erat dalam bidang keagamaan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara mulai meluas ke ranah yang lebih luas, kebudayaan.
Dilansir dari Saudi Gazette, pertemuan antara Menteri Kebudayaan Arab Saudi Pangeran Badr bin Abdullah dan Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon di Jakarta menjadi penanda penting arah baru hubungan bilateral tersebut.
Tidak lagi hanya berfokus pada ibadah haji dan umrah, kedua negara kini berupaya membangun jembatan budaya yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Indonesia dan Arab Saudi memiliki ikatan historis yang kuat, terutama karena posisi Arab Saudi sebagai pusat dunia Islam dan Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Namun, seperti dijelaskan dalam buku Soft Power: The Means to Success in World Politics karya Joseph S. Nye Jr., kekuatan suatu negara tidak hanya terletak pada militer atau ekonomi, tetapi juga pada kemampuan membangun pengaruh melalui budaya.
Dalam konteks ini, kerja sama budaya antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi bagian dari strategi diplomasi lunak (soft power) yang semakin relevan di era globalisasi.
Pangeran Badr dalam pertemuan tersebut menegaskan kebanggaannya atas hubungan yang telah terjalin, sekaligus membuka peluang baru untuk memperluas kolaborasi lintas budaya.
Baca juga: Jelang Haji 2026, Arab Saudi Terapkan Izin Masuk Makkah Secara Online, Begini Caranya
Salah satu bentuk konkret kerja sama yang disorot adalah kolaborasi antara Yayasan Diriyah Biennale dan sejumlah museum di Indonesia.
Kerja sama ini mencakup peminjaman karya seni yang ditampilkan dalam Biennale Seni Islam 2025.
Langkah ini menunjukkan bagaimana karya seni tidak hanya menjadi objek estetika, tetapi juga medium dialog antarperadaban.
Dalam buku The Arts of Islam karya Titus Burckhardt, seni Islam dipahami sebagai ekspresi spiritual yang melampaui batas geografis.
Karena itu, pertukaran karya seni antara dua negara Muslim besar ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pameran.
Selain itu, partisipasi Indonesia dalam Pekan Kerajinan Internasional Saudi (Banan) pada November 2025 juga menjadi bukti keterlibatan aktif dalam memperkenalkan identitas budaya Nusantara ke panggung global.
Dalam kunjungannya, Pangeran Badr menyambangi Museum Nasional Indonesia, museum terbesar dan tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1868.
Dengan koleksi lebih dari 160.000 artefak, museum ini tidak hanya menyimpan sejarah Indonesia, tetapi juga merekam perjalanan berbagai peradaban, termasuk pengaruh Islam yang telah mengakar selama berabad-abad.
Menurut Eilean Hooper-Greenhill dalam Museums and the Interpretation of Visual Culture, museum modern bukan sekadar tempat penyimpanan benda, melainkan ruang dialog yang memungkinkan masyarakat memahami identitas dan sejarahnya.
Kunjungan ini memperlihatkan ketertarikan Arab Saudi terhadap kekayaan budaya Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam pengelolaan museum dan pertukaran koleksi.
Baca juga: Saudi Tawarkan Hak Penamaan 5 Stasiun Metro, Pemenang Dapat Kontrak Panjang
Selain Museum Nasional, delegasi Arab Saudi juga mengunjungi Galeri Nasional Indonesia. Di sana, Pangeran Badr bertemu dengan Direktur Eksekutif Badan Warisan Budaya Indonesia, Indira Estiyanti Nurjadin.
Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas kerja sama yang telah berjalan, tetapi juga rencana jangka panjang, termasuk pertukaran keahlian dan program peminjaman karya seni secara berkelanjutan dengan Museum Kebudayaan Dunia di Arab Saudi.
Didirikan pada 1999, Galeri Nasional Indonesia menyimpan lebih dari 1.700 karya seni, mulai dari lukisan hingga patung.
Koleksinya mencerminkan perkembangan seni rupa Indonesia sejak abad ke-19 hingga era kontemporer.
Dalam perspektif kebudayaan, kerja sama ini membuka ruang bagi seniman Indonesia untuk dikenal lebih luas di Timur Tengah, sekaligus memperkaya wawasan masyarakat Indonesia terhadap seni global.
Tidak hanya seni dan museum, kerja sama juga menyentuh bidang pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Arab.
Kolaborasi antara Akademi Bahasa Arab Global Raja Salman dan sejumlah universitas di Indonesia menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan intelektual kedua negara.
Bahasa, dalam konteks ini, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana memahami budaya dan nilai-nilai suatu peradaban.
Dalam buku Language and Culture karya Claire Kramsch, bahasa disebut sebagai “cermin budaya” yang mencerminkan cara berpikir suatu masyarakat.
Dengan meningkatnya kerja sama di bidang bahasa, hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya bersifat formal, tetapi juga menyentuh aspek pemahaman yang lebih mendalam.
Baca juga: Kemenhaj Arab Saudi Tegaskan Visa Haji Satu-satunya Izin Resmi untuk Ibadah Haji
Kerja sama budaya antara Indonesia dan Arab Saudi menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak harus selalu berpusat pada ekonomi atau politik. Budaya justru dapat menjadi fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Dalam konteks dunia Islam, kolaborasi ini juga memiliki dimensi religius. Seni, bahasa, dan warisan budaya menjadi sarana untuk memperkuat identitas bersama sekaligus memperkaya keberagaman.
Seperti yang diungkapkan dalam berbagai kajian peradaban, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material, tetapi juga oleh kemampuannya merawat dan mengembangkan budayanya.
Pertemuan di Jakarta itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, dampaknya berpotensi jauh lebih panjang.
Dari museum hingga bahasa, dari karya seni hingga pendidikan, kerja sama Indonesia dan Arab Saudi kini bergerak menuju arah yang lebih luas dan mendalam.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, kolaborasi budaya seperti ini bukan hanya mempererat hubungan dua negara, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan peradaban, mengingatkan bahwa di balik perbedaan, selalu ada ruang untuk saling memahami.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang