Editor
KOMPAS.com - Persiapan layanan transportasi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi terus dimatangkan menjelang kedatangan kloter pertama.
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan ribuan armada bus untuk mendukung mobilitas jemaah selama musim haji 2026.
Armada tersebut akan melayani perjalanan dari bandara, hotel, hingga puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Koordinasi dengan pihak bandara dan perusahaan transportasi juga telah disiapkan.
Baca juga: Tradisi Peusijuek Antar Jemaah Haji Asal Aceh besar Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Dilansir dari Antara, PPIH Arab Saudi menyiapkan sekitar 6.000 armada bus untuk mengangkut jamaah calon haji Indonesia dengan menggandeng belasan perusahaan transportasi.
Hal ini dilakukan untuk memastikan layanan angkutan jemaah berjalan lancar. Mayoritas armada yang digunakan merupakan bus besar dengan kapasitas puluhan penumpang.
Kepala Seksi Transportasi Daerah Kerja Madinah Achmad Muslichuddin Tamdjiz mengatakan Kemenhaj telah menjalin kerja sama dengan 15 perusahaan transportasi. Mayoritas bus yang dipakai dalam layanan untuk jamaah adalah tipe bus besar.
Baca juga: Warga dan Jemaah Haji di Arab Saudi Bisa Melihat Hujan Meteor Lyrid dengan Mata Telanjang
"Ini kan layanan AKAP, antarkota perhajian. Tipe busnya Coach, tipe bus besar dengan kapasitas mulai dari 45 sampai ada yang 51. Akan tetapi, kita membatasi (jumlah penumpang). Ada 15 perusahaan transportasi. Untuk armada estimasi sekitar 6000-an ya," kata Achmad Muslih dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Selama musim haji, Pemerintah Indonesia biasanya menyiapkan tiga jenis layanan bus untuk mendukung kebutuhan transportasi jemaah di Arab Saudi.
Pertama, Bus Antarkota Perhajian (AKAP) yang digunakan untuk mengangkut jamaah dari bandara ke hotel di Madinah atau Makkah dan sebaliknya.
Kedua, bus antar jemput di Makkah yang sebelumnya dikenal sebagai Bus Shalawat, yakni layanan gratis 24 jam dari penginapan menuju Masjidil Haram.
Ketiga, Bus Masyair yang dikhususkan untuk melayani pergerakan jemaah saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Daerah Kerja Madinah mulai menyiapkan layanan transportasi menjelang kedatangan jemaah calon haji Indonesia pada 22 April 2026.
Muslih mengatakan petugas transportasi akan menyiapkan sejumlah dokumen penting, termasuk formulir kedatangan yang berisi jumlah jemaah, asal embarkasi, serta kebutuhan armada bus.
"Kemudian, masing-masing rombongan kita tulis datanya, dan tugas transportasi yang bertanggung jawab atas catatan tersebut," ujarnya.
Menurut Muslih, alur kedatangan jemaah di Madinah relatif lebih sederhana karena jarak dari Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz menuju hotel sekitar satu jam perjalanan.
Adapun terkait alur pergerakan jamaah di Madinah, menurut Muslih, tidak terlalu rumit mengingat dari Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) ke hotel di Madinah tersebut jaraknya kurang lebih satu jam saja.
"Karena kita akan ada komunikasi tek-tok dengan pihak bandara, terutama transportasi bandara. Ketika jamaah tersebut sudah diberangkatkan dari bandara, diinformasikan ke kami di hotel Madinah, tentu kita akan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan," kata Muslih.
PPIH Arab Saudi juga menyiapkan langkah antisipasi apabila ada jemaah yang tertinggal di hotel atau lokasi tertentu. Petugas akan menurunkan kendaraan tambahan di luar armada utama.
PPIH juga mengantisipasi seandainya terdapat jamaah yang tertinggal, baik di hotel maupun di lokasi-lokasi tertentu.
Jika terdapat kejadian seperti jamaah tertinggal di kamar hotel, ia memastikan timnya akan melakukan koordinasi dengan seksi akomodasi.
"Jika ada jamaah yang ketinggalan, kita akan siapkan kendaraan di luar bus, entah kendaraan operasional Daker atau minibus Coaster yang biasa digunakan teman-teman petugas," kata Muslih.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang