Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenkes: Jamaah Haji 2026 Perlu Menata Mental dan Ekspektasi agar Bisa Beribadah dengan Tenang

Kompas.com, 22 April 2026, 20:19 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan mengingatkan pentingnya kesiapan mental bagi jamaah haji 2026 selain persiapan fisik.

Menata ekspektasi dan menggunakan pendekatan holistik dinilai dapat menjadi kunci agar jamaah mampu menghadapi dinamika ibadah dengan lebih tenang.

Kondisi cuaca ekstrem, kepadatan jutaan jamaah, hingga aturan baru di Arab Saudi disebut dapat memicu tekanan psikologis. Karena itu, jamaah diminta mempersiapkan kesehatan jiwa sejak sebelum keberangkatan.

Baca juga: Kanwil Kemenhaj Jelaskan Alasan Calhaj yang Hamil 16-24 Minggu Tak Diberangkatkan ke Tanah Suci

Tantangan Kesehatan Jemaah Haji 2026: Kondisi Fisik dan Mental

Dilansir dari Antara, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan haji 2026 menjadi salah satu perhelatan spiritual terbesar dengan lebih dari 1,8 juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 221.000 jamaah asal Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 orang merupakan jamaah lanjut usia yang menghadapi tantangan lebih berat, baik secara fisik maupun mental.

Baca juga: Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji

"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa. Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jamaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental," ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Gangguan Tidur dan Kesehatan Jiwa Perlu Diwaspadai

Laporan Kemenkes menunjukkan sekitar 10 hingga 15 persen jamaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa.

Sementara itu, gangguan tidur dialami oleh 30 hingga 40 persen jamaah akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah yang padat.

Adapun menurut data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia juga menegaskan bahwa lansia menjadi kelompok paling rentan, dengan 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia.

Cuaca Panas dan Tekanan Psikologis Jadi Tantangan

Imran menyoroti cuaca di Makkah saat ini mencapai rata-rata 35 hingga 38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah.

Kondisi tersebut dapat memicu dehidrasi, kelelahan, serta gangguan tidur pada jamaah.

Selain itu, aturan baru dari pemerintah Saudi yang lebih ketat terkait visa, akses ke Makkah, serta penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah lapisan tekanan psikologis.

Kondisi ini terutama dirasakan jamaah yang kurang terbiasa dengan teknologi atau khawatir terkena sanksi bila melanggar aturan.

Tawaf dan Sa'i Bisa Picu Kelelahan Emosional

Pelaksanaan tawaf dan sa’i yang intens disebut dapat menimbulkan kelelahan emosional.

Sementara masa kepulangan juga menuntut adaptasi ulang setelah jamaah menjalani pengalaman spiritual yang intens.

Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan interaksi dalam kerumunan besar dapat menimbulkan rasa frustrasi hingga isolasi.

"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jamaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani oleh harapan yang terlalu tinggi," katanya.

Kemenkes Sarankan Pendekatan Holistik

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kemenkes menilai pendekatan holistik sangat diperlukan.

Konseling pra-keberangkatan yang menyertakan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat cukup, serta perhatian terhadap hidrasi dan nutrisi menjadi strategi utama.

Praktik relaksasi, doa, dan zikir juga dinilai membantu menenangkan pikiran.

Selain itu, dukungan sosial dari sesama jamaah dapat menciptakan rasa kebersamaan yang meredakan kecemasan.

Petugas Haji Disiagakan Tangani Masalah Psikologis

"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," ujarnya.

Dengan kesiapan mental yang matang, ekspektasi realistis, disiplin mengikuti aturan, serta dukungan keluarga dan komunitas, ibadah haji 2026 diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Saudi Tingkatkan Persiapan Haji 2026, Kerajaan Minta Seluruh Otoritas Beri Pelayanan Maksimal Kepada Jamaah
Saudi Tingkatkan Persiapan Haji 2026, Kerajaan Minta Seluruh Otoritas Beri Pelayanan Maksimal Kepada Jamaah
Aktual
Kisah Ashanty Dua Kali Gagal Berangkat Haji hingga Sempat Mempertanyakan Diri Sendiri
Kisah Ashanty Dua Kali Gagal Berangkat Haji hingga Sempat Mempertanyakan Diri Sendiri
Aktual
Bandara YIA Resmi Mulai Layani 26 Kloter Haji 2026 dari DIY dan Jawa Tengah
Bandara YIA Resmi Mulai Layani 26 Kloter Haji 2026 dari DIY dan Jawa Tengah
Aktual
Kemenkes: Jamaah Haji 2026 Perlu Menata Mental dan Ekspektasi agar Bisa Beribadah dengan Tenang
Kemenkes: Jamaah Haji 2026 Perlu Menata Mental dan Ekspektasi agar Bisa Beribadah dengan Tenang
Aktual
Arab Saudi Resmikan Terminal Keempat Inisiatif Rute Makkah di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Arab Saudi Resmikan Terminal Keempat Inisiatif Rute Makkah di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Aktual
Kanwil Kemenhaj Jelaskan Alasan Calhaj yang Hamil 16-24 Minggu Tak Diberangkatkan ke Tanah Suci
Kanwil Kemenhaj Jelaskan Alasan Calhaj yang Hamil 16-24 Minggu Tak Diberangkatkan ke Tanah Suci
Aktual
Menabung 13 Tahun, Pensiunan Guru SD di Tangerang Akhirnya Berangkat Haji di Usia 69 Tahun
Menabung 13 Tahun, Pensiunan Guru SD di Tangerang Akhirnya Berangkat Haji di Usia 69 Tahun
Aktual
 Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji
Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji
Aktual
8 Hal yang Dilarang Dilakukan Saat di Masjidil Haram,  Jemaah Haji Wajib Tahu
8 Hal yang Dilarang Dilakukan Saat di Masjidil Haram, Jemaah Haji Wajib Tahu
Aktual
Hari Bumi 22 April 2026: Perintah Menjaga Alam dalam Al-Qur’an
Hari Bumi 22 April 2026: Perintah Menjaga Alam dalam Al-Qur’an
Aktual
3 Kloter Perdana Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Layanan Fast Track Lancar
3 Kloter Perdana Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Layanan Fast Track Lancar
Aktual
Bolehkah Makan Ikan Sapu-Sapu? Ini Hukum dalam Islam dan Penjelasannya
Bolehkah Makan Ikan Sapu-Sapu? Ini Hukum dalam Islam dan Penjelasannya
Aktual
10 Sektor Penginapan Jemaah Haji 2026 di Makkah, Cek Jaraknya dari Masjidil Haram
10 Sektor Penginapan Jemaah Haji 2026 di Makkah, Cek Jaraknya dari Masjidil Haram
Aktual
Pemerintah Imbau Masyarakat Hindari Praktik Haji Non-Prosedural, WNI Wajib Kantongi Visa Resmi
Pemerintah Imbau Masyarakat Hindari Praktik Haji Non-Prosedural, WNI Wajib Kantongi Visa Resmi
Aktual
Kisah Mansa Musa Pergi Haji 1324: Raja Terkaya yang Mengguncang Dunia
Kisah Mansa Musa Pergi Haji 1324: Raja Terkaya yang Mengguncang Dunia
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com