Editor
KOMPAS.com - Saalah satu keunikan dari tradisi keberangkatan jamaah haji di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah dengan menghias rumah secara meriah.
Sejumlah rumah milik calon jamaah haji dipenuhi dekorasi bernuansa Islami sebagai simbol kebahagiaan dan rasa syukur.
Hiasan yang dipasang beragam, mulai dari baliho, umbul-umbul, payung warna-warni, hingga ornamen bergambar Masjidil Haram.
Tradisi ini terus lestari dan menjadi bagian budaya masyarakat setempat setiap musim haji tiba.
Baca juga: Tradisi Peusijuek Antar Jemaah Haji Asal Aceh besar Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Dilansir dari TribunLombok.com, gang menuju rumah calon jamaah haji telah dipasangi baliho besar berisi foto dan ucapan selamat.
Di bagian dinding rumah terlihat lukisan khas Makkah, lampu hias yang tertata rapi, hingga miniatur pesawat. Suasana meriah itu menjadi penanda adanya warga yang akan berangkat ke Tanah Suci.
"Ini memang tradisi kami dan ini juga simbol sebagai tamu Allah," kata Amaq Iwan calon jamaah haji asal Kecamatan Suela saat ditemui pada Kamis (23/4/2026).
Baca juga: PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
Untuk mewujudkan kemeriahan tersebut, keluarga calon jamaah haji rela mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah.
Dana itu digunakan untuk dekorasi sekaligus konsumsi warga yang bergotong royong memasang hiasan.
"Biayanya sekitar Rp 1 juta lebih lah dengan biaya konsumsi warga dan tetangga setempat saat bergotong royong memasang pernak pernik ini," kata Amaq.
Ia menilai biaya tersebut bukan persoalan karena menjadi bagian dari kebahagiaan bersama menjelang keberangkatan ibadah haji.
"Memang tradisi kami, ini simbol sebagai tamu Allah. Biaya untuk semua hiasan ini bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung seberapa meriah yang diinginkan," ujar Amaq Iwan.
Tokoh masyarakat setempat, Hudri, mengatakan pernak-pernik yang dipasang bukan sekadar hiasan. Menurut dia, dekorasi tersebut merupakan bentuk rasa syukur karena mendapat panggilan menunaikan ibadah haji.
"Ini adalah bentuk syukur kepada Allah SWT karena telah dipanggil menjadi tamu-Nya. Juga menjadi penanda bahwa penghuni rumah tersebut bisa menunaikan rukun Islam kelima," ujarnya.
Tak jarang, dinding rumah juga dihiasi tulisan “Selamat Datang Haji atau Hajah” lengkap dengan nama pemilik rumah. Selain itu, ada pula ucapan doa seperti “Semoga Menjadi Haji Mabrur”.
Pernak pernik di salah satu rumah jamaah haji di Kecamatan Suela Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (23/4/2026). Di Lombok Timur, rumah jamaah haji yang hendak berangkat biasanya mulai dihias sejak bulan Syawal atau menjelang acara selamatan haji yang dikenal dengan begawe.
Tetangga dan kerabat bergotong royong membantu memasang dekorasi sebagai bentuk kebersamaan dan ikut berbahagia.
"Biasanya sebelum begawe itu kita pasang pernak-pernik itu, warga dengan bergotong royong untuk memasang pernak-pernik tersebut," jelasnya.
Sebagian keluarga bahkan memasang tenda atau teratak dari daun kelapa di halaman rumah untuk menjamu tamu yang datang bersilaturahmi. Kehadiran tamu menjadi bagian dari tradisi sosial menjelang keberangkatan haji.
"Tulisan - tulisan ini juga bagian dari doa, seperti tulisan Semoga Menjadi Haji Mabrur dan lainnya," tutup Hudri.
Meski membutuhkan biaya besar, tradisi menghias rumah calon jamaah haji di Lombok Timur tetap dipertahankan sebagai wujud kegembiraan yang tak ternilai harganya.
Artikel ini telah tayang di TribunLombok.com dengan judul "Jemaah Haji di Lombok Timur Rela Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur" dan"Keunikan Rumah Jemaah Haji di Lombok Timur yang Dipenuhi Pernak-pernik".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang