Editor
KOMPAS.com - Bulan Dzulqaidah (Dzulqa'dah) merupakan bulan ke-11 dalam kalender Hijriah yang termasuk salah satu bulan istimewa dalam Islam.
Secara historis, bulan ini memiliki banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW serta persiapan menuju musim haji.
Letaknya yang berdekatan dengan Dzulhijjah membuat Dzulqaidah juga sering dikaitkan dengan ibadah haji dan umrah.
Berikut ulasan mengenal sejarah, keutamaan, serta amalan yang dianjurkan pada bulan Dzulqaidah, seperti dirangkum Kompas.com dari laman MUI, Baznas Kota Semarang, dan Baznas Sumedang.
Baca juga: Setelah Syawal Bulan Apa? Ini Keistimewaan Zulkaidah
Dzulqaidah dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia dalam Islam.
Sstatusnya sebagai bulan haram (Asyhurul Hurum) bersama tiga bulan lainnya yaitu Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab menjadikan bulan ini sebagai bulan yang disucikan oleh.
Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, termasuk peperangan.
Baca juga: Bacaan Doa Awal Bulan Zulkaidah: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Selain itu, pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.
Bulan Dzulqaidah juga menjadi momentum memperkuat ibadah sebelum memasuki bulan Dzulhijjah yang identik dengan puncak ibadah haji.
Menurut sejarahnya, terdapat beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Dzulqaidah.
Pada bulan Dzulqaidah tahun kelima Hijriah, terjadi Perang Bani Quraizhah.
Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab sirahnya mencatat bahwa sehari setelah Rasulullah SAW kembali ke Madinah, Malaikat Jibril datang kepada beliau pada waktu Zuhur.
Jibril menyampaikan bahwa para malaikat belum meletakkan senjata mereka dan meminta Rasulullah berangkat bersama sahabat menuju perkampungan Bani Quraizhah.
Rasulullah SAW kemudian memerintahkan para sahabat berangkat ke pemukiman Bani Quraizhah dengan pesan agar tidak melaksanakan shalat Ashar hingga tiba di tujuan.
Pasukan Muslim mengepung benteng mereka selama 25 malam atau menurut riwayat lain 25 hari.
Pengepungan itu menimbulkan rasa takut hingga akhirnya mereka menyerah dan tunduk pada keputusan Rasulullah SAW.
Peristiwa besar lainnya adalah Perjanjian Hudaibiyah. Syekh Ali as-Shalabi menjelaskan bahwa ketika kekuatan umat Islam semakin besar, mereka mulai memikirkan hak untuk beribadah di Masjidil Haram yang telah dihalangi kaum musyrikin selama enam tahun.
Pada hari Senin bulan Dzulqaidah tahun ketujuh Hijriah, menurut sebagian riwayat tahun keenam, Rasulullah SAW berangkat dari Madinah bersama 1.400 sahabat tanpa membawa senjata perang.
Setibanya di Dzulhulaifah, Rasulullah SAW memulai ihram untuk umrah. Setelah terjadi dialog dengan kaum Quraisy, tercapailah kesepakatan damai yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Perjanjian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan umat Islam dan kaum Quraisy di Makkah.
Salah satu fakta penting dalam sejarah Islam adalah seluruh umrah Rasulullah SAW dilakukan pada bulan Dzulqaidah.
Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW melaksanakan umrah sebanyak empat kali.
Empat umrah tersebut meliputi umrah dari Hudaibiyah, umrah pada tahun berikutnya, umrah dari Ji'ranah, dan umrah yang dilakukan bersamaan dengan ibadah haji beliau.
Pelaksanaan umrah pada bulan Dzulqaidah menjadi bentuk ibadah sekaligus persiapan spiritual menghadapi musim haji di bulan berikutnya.
Bulan Dzulqaidah juga dikaitkan dengan peristiwa agung saat Nabi Musa AS menerima wahyu Taurat dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Peristiwa itu diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-Araf ayat 143.
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"."Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan telah berfirman (langsung) kepadanya (Musa)."
Menurut penafsiran Imam Ibnu Katsir ad-Dimisyqi yang mengutip mayoritas ulama tafsir seperti Imam Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraih, peristiwa tersebut terjadi pada bulan Dzulqaidah.
Ada beberapa keutamaan dari bulan Dzulqa’dah yang lebih besar dibandingkan bulan lainnya.
Bulan Dzulqaidah menjadi waktu yang baik untuk meningkatkan amal ibadah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak shalat sunnah, puasa, sedekah, dan membaca Al-Qur'an.
Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sebelum datangnya bulan haji.
Selain ibadah mahdhah, Dzulqaidah juga menjadi waktu tepat untuk meningkatkan amal sosial.
Tindakan sederhana seperti membantu sesama, berbagi rezeki, dan menebar manfaat menjadi bagian dari amal saleh yang bernilai besar.
Bulan Dzulqaidah juga menjadi momen introspeksi diri. Umat Islam dapat memanfaatkan bulan ini untuk memperbanyak dzikir, doa, muhasabah, serta memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.
Melalui refleksi spiritual, seseorang dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan menyiapkan diri menyambut bulan Dzulhijjah dengan hati yang lebih bersih.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama RI, 1 Dzulqaidah 1447 H jatuh pada Minggu, 19 April 2026.
Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Dzulqaidah 1447 H jatuh pada Sabtu, 18 April 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang