KOMPAS.com – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat dan ambisi yang tak ada habisnya.
Karier, harta, dan pencapaian duniawi menjadi ukuran keberhasilan, sementara dimensi spiritual perlahan tergeser ke pinggir.
Dalam situasi seperti ini, agama kerap hadir hanya sebagai simbol, dijalankan sekadarnya, tanpa kedalaman makna.
Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.
Dalam surat Al-An’am ayat 32, Allah menyebut dunia sebagai permainan dan kelalaian, sementara kehidupan akhirat adalah yang lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٣٢
Wa mā al-ḥayātud-dunyā illā la‘ibun wa lahwun, wa lad-dāru al-ākhiratu khayrun lilladzīna yattaqūn, afalā ta‘qilūn.
Artinya: “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
Pesan ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga kritik terhadap cara pandang manusia yang terlalu menuhankan dunia.
Baca juga: Hubungan Antara Hakikat Martabat dan Tanggung Jawab Manusia
Dalam perspektif Islam, dunia tidak pernah diposisikan sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk.
Ia bersifat netral, bisa menjadi jalan menuju kebaikan atau justru menjadi jebakan yang menyesatkan. Namun masalah muncul ketika dunia ditempatkan sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah hubb al-dunya (cinta berlebihan terhadap dunia).
Cinta ini membuat manusia kehilangan orientasi akhirat, sehingga seluruh aktivitas hidupnya hanya berputar pada kepentingan materi dan kesenangan sesaat.
Akibatnya, agama tidak lagi menjadi pedoman hidup, melainkan sekadar pelengkap identitas. Ibadah dilakukan bukan karena kesadaran spiritual, tetapi karena tuntutan sosial atau kebiasaan.
Fenomena agama sebagai formalitas dapat dilihat dalam praktik sehari-hari. Banyak orang yang mengaku beriman, tetapi lalai dalam menjalankan kewajiban dasar seperti shalat.
Bahkan ketika ibadah dilakukan, sering kali tanpa kekhusyukan dan tanpa kesadaran akan maknanya.
Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa kualitas amal sangat bergantung pada niat. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar gerakan fisik, tetapi refleksi dari kondisi hati.
Ketika hati kosong dari keikhlasan, maka ibadah kehilangan ruhnya dan berubah menjadi rutinitas tanpa makna.
Dalam buku Minhajul Abidin, Al-Ghazali juga menegaskan bahwa amal tanpa niat yang benar ibarat tubuh tanpa jiwa, ada bentuknya, tetapi tidak hidup.
Baca juga: Khutbah Jumat 24 April 2026: Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Kekuatan ibadah tidak selalu ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi oleh kekuatan hati. Dalam realitas kehidupan, tidak sedikit orang yang secara fisik lemah, karena usia atau kondisi kesehatan, namun tetap istiqamah dalam ibadah. Mereka bangun malam, berzikir, dan menjaga shalat dengan penuh kesungguhan.
Sebaliknya, banyak pula yang secara fisik sehat dan kuat, tetapi justru lalai dalam ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa sumber utama amal bukanlah tubuh, melainkan hati.
Dalam kitab Madarij as-Salikin, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa hati adalah pusat kendali manusia.
Jika hati hidup, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam ketaatan. Namun jika hati mati, maka amal pun akan melemah.
Islam tidak melarang umatnya untuk mencari dunia. Bahkan, bekerja, berdagang, dan mencari rezeki adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Namun yang ditekankan adalah orientasi, apakah dunia menjadi tujuan atau sekadar sarana.
Dalam Al-Qur’an, dunia sering disebut sebagai “mata’ al-ghurur” (kesenangan yang menipu). Ia tampak indah di permukaan, tetapi tidak kekal. Kenikmatan dunia memiliki batas, bahkan sering kali berujung pada kejenuhan.
Sebaliknya, kenikmatan ibadah justru menghadirkan ketenangan yang lebih dalam. Rasulullah SAW menyebut shalat sebagai “penyejuk mata”, sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa ibadah bukan beban, melainkan sumber kebahagiaan.
Baca juga: Sibuk Dunia tapi Rugi Akhirat? Ini Cara Agar Aktivitas Bernilai Ibadah
Menghadapi realitas dunia yang melalaikan, Islam menawarkan jalan keseimbangan. Dunia tidak harus ditinggalkan, tetapi harus dikelola dengan benar.
Harta bisa menjadi sarana ibadah, jabatan bisa menjadi alat untuk menebar kebaikan, dan waktu bisa menjadi ladang amal.
Kuncinya terletak pada kesadaran bahwa hidup ini tidak berhenti di dunia. Ada kehidupan yang lebih panjang, lebih kekal, dan lebih menentukan, yaitu akhirat.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs, Sa'id Hawwa menjelaskan bahwa proses penyucian jiwa dimulai dari kesadaran akan tujuan hidup.
Ketika seseorang memahami bahwa ia hidup untuk akhirat, maka seluruh aktivitas duniawinya akan terarah dan bermakna.
Agama sejatinya bukan sekadar identitas, tetapi jalan hidup yang menuntut kesungguhan. Ia tidak cukup dijalankan di permukaan, tetapi harus meresap hingga ke dalam hati dan memengaruhi cara berpikir serta bertindak.
Ketika agama hanya menjadi formalitas, maka ia kehilangan daya transformasinya. Namun ketika dijalankan dengan kesadaran dan keikhlasan, ia mampu mengubah cara pandang, membentuk karakter, dan menghadirkan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu direnungkan bukanlah seberapa banyak ibadah yang telah dilakukan, tetapi seberapa dalam makna yang dihadirkan dalam setiap ibadah itu.
Karena bisa jadi, di tengah kesibukan mengejar dunia, ada satu hal yang perlahan hilang, kedekatan dengan Allah. Dan ketika itu terjadi, semua pencapaian dunia tidak lagi terasa cukup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang