KOMPAS.com – Skala penyelenggaraan ibadah haji kembali menunjukkan wajahnya sebagai salah satu mobilitas manusia terbesar di dunia.
Menjelang musim haji 1447 Hijriah/2026, berbagai negara, terutama Arab Saudi sebagai tuan rumah, mulai mematangkan persiapan logistik dalam skala masif.
Di saat yang sama, Indonesia sebagai salah satu pengirim jemaah terbesar juga memperkuat kesiapan dari dalam negeri.
Otoritas penerbangan Arab Saudi, General Authority of Civil Aviation (GACA), menyiapkan lebih dari 3,1 juta kursi penerbangan untuk musim haji 2026.
Kapasitas ini didukung oleh lebih dari 12.000 penerbangan, baik reguler maupun charter, yang akan melayani arus masuk dan keluar jemaah dari seluruh dunia.
Operasional ini tidak dilakukan secara sembarangan. Dilansir dari Saudi Gazette, Jumat (24/4/2026), enam bandara utama menjadi tulang punggung mobilitas udara diantaranya:
Langkah ini mencerminkan kompleksitas manajemen haji modern. Tidak hanya soal jumlah jemaah, tetapi juga sinkronisasi jadwal penerbangan, kapasitas bandara, hingga keamanan dan keselamatan perjalanan udara.
Dalam konteks ini, GACA berperan sebagai regulator yang memastikan seluruh sistem berjalan terintegrasi.
Kebijakan tersebut juga selaras dengan visi besar Saudi Vision 2030, yang menargetkan peningkatan kualitas layanan haji dan umrah, termasuk dari sisi transportasi dan pengalaman jemaah.
Baca juga: Saudi Siapkan 12.000 Penerbangan dan 3,1 Juta Kursi untuk Haji 2026
Musim haji 2026 menunjukkan pergeseran pola kedatangan jemaah. Sejak 18 April 2026, jemaah internasional sudah mulai berdatangan ke Arab Saudi.
Hal ini dilakukan untuk menghindari penumpukan ekstrem menjelang puncak ibadah di akhir Mei.
Strategi ini menandai pendekatan baru dalam manajemen kerumunan (crowd management), di mana distribusi waktu kedatangan menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran dan keselamatan jemaah.
Selain jalur udara, sebagian jemaah juga datang melalui jalur darat dan laut, meskipun jumlahnya tidak sebesar transportasi udara.
Kombinasi moda transportasi ini memperlihatkan betapa luasnya cakupan logistik haji, yang tidak hanya bergantung pada satu sistem.
Di dalam negeri, kesiapan logistik juga terus dimatangkan. InJourney Airports memastikan kesiapan 19 bandara untuk melayani keberangkatan sekitar 205.333 jemaah haji Indonesia mulai 22 April 2026.
Dari jumlah tersebut, 14 bandara ditetapkan sebagai embarkasi haji utama, sementara 5 lainnya berfungsi sebagai embarkasi haji antara. Bandara-bandara besar seperti Soekarno-Hatta, Juanda, Kualanamu, hingga Sultan Hasanuddin menjadi titik utama keberangkatan.
Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad R Pahlevi, menegaskan bahwa kesiapan tidak hanya mencakup fasilitas, tetapi juga koordinasi lintas sektor.
“Infrastruktur sisi udara seperti runway, taxiway, dan apron telah dipastikan siap mendukung pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 dan Airbus A330,” ujar Pahlevi dilansir dari Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Hal ini penting mengingat penerbangan haji membutuhkan kapasitas besar dalam satu waktu, dengan tingkat ketepatan jadwal yang tinggi.
Baca juga: Menkes Saudi Cek RS di Makkah, Siap Layani Jemaah Haji 2026
Selain transportasi, aspek kesehatan menjadi perhatian krusial dalam penyelenggaraan haji Indonesia.
Pemerintah telah menyiapkan layanan kesehatan berlapis, mulai dari pemeriksaan sebelum keberangkatan hingga pendampingan medis di Tanah Suci.
Jemaah diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan (istitha’ah) untuk memastikan kesiapan fisik.
Di embarkasi, tersedia pos kesehatan dan tim medis yang siaga menangani kondisi darurat sebelum keberangkatan.
Sementara di Arab Saudi, petugas kesehatan Indonesia ditempatkan di berbagai titik strategis, termasuk klinik kesehatan haji Indonesia (KKHI).
Layanan ini penting mengingat risiko kesehatan selama haji cukup tinggi, mulai dari kelelahan, dehidrasi, hingga penyakit pernapasan akibat kepadatan jemaah.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dalam fikih ibadah yang menempatkan kesehatan sebagai bagian dari kesiapan menjalankan ibadah secara optimal.
Transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan haji 2026. Salah satu inovasi utama adalah penggunaan kartu Nusuk, identitas digital yang diterbitkan oleh pemerintah Arab Saudi.
Kartu Nusuk berfungsi sebagai “akses utama” jemaah selama di Tanah Suci. Di dalamnya tersimpan data identitas, izin akses ke area tertentu seperti Masjidil Haram, serta integrasi dengan layanan transportasi dan akomodasi.
Dengan sistem ini, mobilitas jemaah menjadi lebih tertata dan aman. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) turut memastikan distribusi dan pemahaman penggunaan kartu Nusuk bagi jemaah sebelum keberangkatan.
Selain itu, digitalisasi juga mencakup dokumen perjalanan, manifest penerbangan, hingga sistem pelaporan jemaah secara real-time.
Semua ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus meminimalkan potensi kendala administratif.
Salah satu terobosan penting dalam penyelenggaraan haji tahun ini adalah perluasan layanan Mecca Route.
Program ini memungkinkan proses keimigrasian Arab Saudi dilakukan langsung di bandara keberangkatan di Indonesia.
Tahun 2026, layanan ini tersedia di empat bandara utama: Soekarno-Hatta, Juanda, Adi Soemarmo, dan untuk pertama kalinya di Sultan Hasanuddin Makassar.
Dengan sistem ini, jemaah tidak perlu lagi menjalani pemeriksaan imigrasi panjang saat tiba di Arab Saudi. Proses menjadi lebih cepat, efisien, dan mengurangi kelelahan setelah perjalanan panjang.
Di sisi lain, sistem keamanan juga diperkuat sejak di asrama haji, dengan penggunaan teknologi seperti x-ray, walk-through metal detector, dan pemeriksaan berlapis oleh petugas Aviation Security.
Penyelenggaraan haji 2026 memperlihatkan dua skala besar yang berjalan bersamaan.
Di tingkat global, Arab Saudi menyiapkan jutaan kursi penerbangan dan sistem transportasi udara yang terintegrasi.
Di tingkat nasional, Indonesia memastikan kesiapan jemaah melalui bandara, layanan kesehatan, hingga digitalisasi dokumen.
Dalam kajian modern, seperti yang diulas dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya Eric Tagliacozzo, haji bukan lagi sekadar ritual keagamaan, tetapi juga fenomena manajemen global yang melibatkan teknologi, logistik, dan tata kelola yang kompleks.
Pada akhirnya, semua persiapan ini bermuara pada satu tujuan, yaitu memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
Di balik jutaan kursi pesawat, ratusan ribu jemaah, dan sistem digital yang canggih, tersimpan satu harapan yang sama, perjalanan spiritual yang lancar menuju ibadah haji yang mabrur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang