Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Ashar Hari Jumat, Ini Amalan Agar Hajat Cepat Terkabul

Kompas.com, 24 April 2026, 14:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Banyak orang mencari waktu terbaik untuk berdoa, berharap setiap hajat yang dipanjatkan benar-benar sampai dan dikabulkan.

Dalam tradisi Islam, salah satu waktu yang paling sering disebut adalah momen menjelang Maghrib di hari Jumat, waktu yang oleh para ulama diyakini sebagai saat mustajab.

Keyakinan ini bukan tanpa dasar. Sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW menyebut adanya satu waktu istimewa di hari Jumat yang jika dimanfaatkan dengan doa, maka Allah akan mengabulkannya.

Di antara amalan yang sering dikaitkan dengan momen ini adalah dzikir yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir, yang dilakukan setelah sholat Ashar hingga terbenamnya matahari.

Baca juga: Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan

Waktu Mustajab di Hari Jumat dalam Hadits

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW menyebut bahwa hari Jumat memiliki satu waktu yang sangat istimewa:

“Pada hari Jumat itu ada dua belas jam. Tidak ada seorang hamba Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, kecuali Allah akan mengabulkannya. Maka carilah waktu itu di jam terakhir setelah sholat Ashar.”

Hadits ini menjadi landasan kuat bagi banyak ulama untuk menempatkan waktu setelah Ashar sebagai momen terbaik untuk berdoa.

Pendapat ini juga diperkuat oleh ulama besar Nusantara, Imam Nawawi al-Bantani, dalam karyanya Muraqil ‘Ubudiyyah Syarh Bidayatul Hidayah.

Ia menjelaskan bahwa waktu mustajab tersebut memang sengaja “disembunyikan” oleh Allah, agar manusia terdorong untuk memperbanyak doa sepanjang hari Jumat.

Namun, sebagian besar ulama cenderung menguatkan bahwa waktu tersebut berada di penghujung hari, setelah Ashar.

Penjelasan Ulama: Mengapa Setelah Ashar?

Menurut penjelasan dalam kitab klasik, salah satu alasan kuat mengapa waktu setelah Ashar dianggap mustajab adalah karena keterkaitannya dengan peristiwa penciptaan Nabi Adam.

Disebutkan bahwa Nabi Adam diciptakan pada hari Jumat setelah waktu Ashar. Selain itu, dalam tradisi fikih, waktu setelah Ashar juga dikenal sebagai waktu yang memiliki “penekanan spiritual” lebih kuat, termasuk dalam konteks sumpah dan doa.

Dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi juga menegaskan bahwa memperbanyak doa di hari Jumat, khususnya menjelang Maghrib, merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Baca juga: 7 Amalan Subuh Pembuka Rezeki, Lengkap Doa Arab dan Artinya

Amalan Nabi Khidir: Dzikir Hingga Matahari Terbenam

Dalam literatur tasawuf klasik, tepatnya kitab Hadaiq al-Awliya’, terdapat kisah menarik tentang amalan yang diajarkan oleh Nabi Khidir.

Dikisahkan, seorang ulama pernah bertemu dengan Nabi Khidir di kawasan Baitul Maqdis. Dalam pertemuan tersebut, Nabi Khidir memberikan sebuah amalan sederhana namun sarat makna:

“Siapa saja yang sholat Ashar pada hari Jumat, lalu menghadap kiblat, kemudian membaca ‘Yaa Allah, Yaa Rahman’, lalu meminta sesuatu kepada Allah, maka Allah akan mengabulkannya.”

Amalan ini dilakukan dengan duduk menghadap kiblat, memperbanyak dzikir “Ya Allah, Ya Rahman” secara berulang hingga matahari terbenam, kemudian ditutup dengan doa sesuai hajat masing-masing.

Meskipun kisah ini bersumber dari literatur tasawuf dan bukan hadits shahih, banyak ulama memandangnya sebagai bagian dari fadha’il al-a’mal (keutamaan amal) yang boleh diamalkan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.

Perspektif Ulama: Antara Dalil dan Pengamalan

Dalam kajian ilmu hadits dan fikih, penting untuk membedakan antara amalan yang bersifat wajib, sunnah, dan keutamaan (fadhilah).

Amalan seperti dzikir yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir tidak termasuk ibadah wajib, namun dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah jika dilakukan dengan niat yang benar.

Dalam buku Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kekuatan doa tidak hanya terletak pada lafaznya, tetapi juga pada kondisi hati, keikhlasan, serta momentum waktu yang tepat.

Karena itu, waktu mustajab di hari Jumat menjadi kombinasi ideal antara dimensi spiritual (waktu yang diberkahi) dan dimensi psikologis (ketenangan menjelang akhir hari).

Baca juga: 4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab

Menjemput Waktu Mustajab di Tengah Kesibukan

Di tengah rutinitas yang padat, sering kali waktu-waktu istimewa justru terlewat tanpa disadari.

Padahal, Islam telah memberikan “ruang khusus” setiap pekan melalui hari Jumat, bukan hanya untuk ibadah formal seperti sholat Jumat, tetapi juga untuk memperbanyak doa dan refleksi diri.

Amalan sederhana seperti duduk sejenak setelah Ashar, berdzikir, lalu berdoa dengan penuh harap, bisa menjadi titik balik yang tidak terduga dalam kehidupan seseorang.

Pada akhirnya, bukan hanya soal apakah doa itu langsung dikabulkan, tetapi bagaimana proses berdoa itu sendiri membentuk ketenangan, harapan, dan kedekatan dengan Allah.

Dan bisa jadi, di antara detik-detik menjelang matahari terbenam di hari Jumat, ada satu waktu yang selama ini kita cari, waktu di mana langit seakan lebih dekat dan doa lebih mudah sampai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ketika Dunia Jadi Tujuan, Agama Hanya Tinggal Formalitas
Ketika Dunia Jadi Tujuan, Agama Hanya Tinggal Formalitas
Aktual
Tak Pernah Gelap, Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 69 Miliar Per Bulan
Tak Pernah Gelap, Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 69 Miliar Per Bulan
Aktual
Menkes Saudi Cek RS di Makkah, Siap Layani Jemaah Haji 2026
Menkes Saudi Cek RS di Makkah, Siap Layani Jemaah Haji 2026
Aktual
Setelah Ashar Hari Jumat, Ini Amalan Agar Hajat Cepat Terkabul
Setelah Ashar Hari Jumat, Ini Amalan Agar Hajat Cepat Terkabul
Aktual
Abdullah bin Umar, Periwayat 2.630 Hadits yang Sangat Hati-Hati
Abdullah bin Umar, Periwayat 2.630 Hadits yang Sangat Hati-Hati
Aktual
MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
Aktual
Perintah Sudah Turun, Tapi Nabi Menunda Haji 4 Tahun, Kenapa?
Perintah Sudah Turun, Tapi Nabi Menunda Haji 4 Tahun, Kenapa?
Aktual
4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab
4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab
Aktual
Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Shalat Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Sesuai Syariat
Bolehkah Setelah Mandi Junub Langsung Shalat Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Sesuai Syariat
Aktual
Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat, Batal Wudhu atau Tetap Sah?
Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat, Batal Wudhu atau Tetap Sah?
Aktual
Khutbah Jumat Singkat 24 April 2026: Memaknai Bulan Dzulqa’dah sebagai Momentum Damai dan Introspeksi
Khutbah Jumat Singkat 24 April 2026: Memaknai Bulan Dzulqa’dah sebagai Momentum Damai dan Introspeksi
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Khutbah Jumat 24 April 2026: Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Aktual
Kisah Mak Emen: 60 Tahun Nabung dari Jual Ikan Asin, Akhirnya Tiba di Tanah Suci
Kisah Mak Emen: 60 Tahun Nabung dari Jual Ikan Asin, Akhirnya Tiba di Tanah Suci
Aktual
Tagihan Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 64 Miliar per Bulan, Ini Penyebabnya
Tagihan Listrik Masjidil Haram Tembus Rp 64 Miliar per Bulan, Ini Penyebabnya
Aktual
Polisi Makkah Tangkap Sindikat Penipuan Haji, Iklan Palsu Beredar di Media Sosial
Polisi Makkah Tangkap Sindikat Penipuan Haji, Iklan Palsu Beredar di Media Sosial
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com