Editor
KOMPAS.com - Mandi junub atau mandi wajib merupakan salah satu cara bersuci dalam Islam untuk menghilangkan hadas besar.
Ibadah ini dilakukan dalam kondisi tertentu seperti setelah berhubungan suami istri, keluarnya mani, atau mimpi basah.
Di sisi lain, wudhu berfungsi untuk menyucikan diri dari hadas kecil sebelum melaksanakan shalat.
Baca juga: Perlukah Wudhu Setelah Mandi Junub? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Perbedaan fungsi ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah setelah mandi junub seseorang masih perlu berwudhu sebelum shalat.
Pertanyaan tersebut cukup sering muncul di tengah masyarakat. Sebab, sebagian orang mengira mandi wajib dan wudhu harus dilakukan secara terpisah.
Baca juga: Panduan Lengkap Mandi Junub Usai Hubungan Suami Istri, Tata Cara dan Sunnahnya
Dilansir dari laman MUI, dalam riwayat Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mandi junub kemudian langsung melaksanakan shalat tanpa memperbarui wudhu.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ، وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ وَصَلَاةَ الْغَدَاةِ، وَلَا أَرَاهُ يُحْدِثُ وُضُوءًا بَعْدَ الْغُسْلِ
Artinya: “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah sering mandi kemudian melakukan shalat dua rakaat dan shalat subuh. Dan aku tidak melihatnya memperbarui wudhunya setelah mandi.” (HR Tirmidzi)
Sementara itu, Syekh Mulla al-Qari menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi dasar bahwa mandi junub memiliki cakupan kesucian yang lebih luas dibandingkan wudhu.
أَيْ: اكْتِفَاءً بِوُضُوئِهِ الْأَوَّلِ فِي الْغُسْلِ، وَهُوَ سُنَّةٌ، أَوْ بِانْدِرَاجِ ارْتِفَاعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ تَحْتَ ارْتِفَاعِ الْأَكْبَرِ بِإِيصَالِ الْمَاءِ إِلَى جَمِيعِ أَعْضَائِهِ، وَهُوَ رُخْصَةٌ
“Maksudnya, cukup dengan wudhu yang pertama dalam mandi itu, dan hal ini merupakan sunnah. Atau karena terangkatnya hadas kecil sudah tercakup di bawah terangkatnya hadas besar, yaitu dengan mengalirkan air ke seluruh anggota tubuh, dan ini sebagai bentuk keringanan.” (Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 2, h. 430)
Penjelasan serupa disampaikan Imam asy-Syaukani yang menukil pendapat para ulama bahwa wudhu telah tercakup dalam mandi wajib.
وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُ ذَلِكَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ حَتَّى قَالَ أَبُو بَكْر بْن الْعَرَبِيِّ: إنَّهُ لَمْ يَخْتَلِفْ الْعُلَمَاءُ أَنَّ الْوُضُوءَ دَاخِلٌ تَحْتَ الْغُسْلِ وَأَنَّ نِيَّةَ طَهَارَةِ الْجَنَابَةِ تَأْتِي عَلَى طَهَارَةِ الْحَدَثِ وَتَقْضِي عَلَيْهَا؛ لِأَنَّ مَوَانِعَ الْجَنَابَةِ أَكْثَرُ مِنْ مَوَانِعِ الْحَدَثِ فَدَخَلَ الْأَقَلُّ فِي نِيَّةِ الْأَكْثَرِ وَأَجْزَأَتْ نِيَّةُ الْأَكْبَرِ عَنْهُ
“Dan telah diriwayatkan hal semisal itu dari sejumlah Sahabat Nabi dan generasi setelah mereka, hingga Abu Bakar Ibn al-Arabi berkata: Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah tercakup dalam mandi, dan niat bersuci dari janabah juga mencakup bersuci dari hadas. Niat tersebut sudah memadai untuknya, karena hal-hal yang terlarang akibat janabah lebih banyak daripada hal-hal yang terlarang akibat hadas kecil. Maka, yang lebih sedikit telah masuk dalam niat yang lebih besar, serta niat untuk bersuci dari hadas besar sudah mencukupi darinya.” (Nail al-Author Syarh Muntaqo al-Akhbar [Mesir: Dar al-Hadis], vol. 1, h. 308)
Terkait hal tersebut, Syekh Zakariya al-Anshari menjelaskan bahwa mandi junub dapat mencukupi hadas besar sekaligus hadas kecil, baik terjadi bersamaan maupun berurutan. Namun, hal tersebut berlaku selama tidak terjadi hal yang membatalkan wudhu saat mandi.
وَلَوْ أَحْدَثَ، وَأَجْنَبَ مَعًا أَوْ مُرَتَّبًا أَجْزَأَهُ الْغُسْلُ عَنْهُمَا لِانْدِرَاجِ الْأَصْغَرِ، وَإِنْ لَمْ يَنْوِهِ فِي الْأَكْبَرِ لِظَوَاهِرِ الْأَخْبَارِ كَخَبَرِ: أَمَّا أَنَا فَيَكْفِينِي أَنْ أَصُبَّ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثًا ثُمَّ أُفِيضُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِي. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ، وَلِأَنَّ وَضْعَ الطَّهَارَاتِ عَلَى التَّدَاخُلِ فِعْلًا وَنِيَّةً بِدَلِيلِ أَنَّهُ إذَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ أَحْدَاثٌ كَفَى فِعْلٌ وَاحِدٌ وَنِيَّةٌ وَاحِدَةٌ
“Apabila seseorang berhadas lalu junub secara bersamaan ataupun berurutan, maka mandi wajib sudah mencukupi untuk keduanya, karena hadas kecil telah tercakup di dalam hadas besar. Hal itu tetap sah meskipun ia tidak meniatkan hadas kecil bersama hadas besar, berdasarkan zahir beberapa hadis, seperti sabda Nabi SAW: ‘Adapun aku, maka cukup bagiku menuangkan air ke atas kepalaku tiga kali, kemudian aku menyiramkan air ke seluruh tubuhku.’ Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan dinyatakan sahih oleh Imam an-Nawawi. Selain itu, ketentuan berbagai bentuk bersuci memang dibangun atas prinsip saling mencakupi, baik dalam pelaksanaan maupun niat. Buktinya, apabila seseorang menanggung beberapa hadas sekaligus maka cukup baginya satu kali perbuatan bersuci dan satu niat saja.” (Asna al-Matalib Fi Syarh Raud at-Thalib [Mesir: al-Mathba’ah al-Maimuniyah], vol. 1, h. 35)
Dengan demikian, seseorang yang telah mandi junub diperbolehkan langsung melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi. Hal ini karena hadas kecil telah tercakup dalam mandi wajib.
Namun, ketentuan tersebut berlaku selama tidak terjadi hal yang membatalkan wudhu saat mandi, seperti buang angin, buang air kecil, atau buang air besar.
Meski demikian, berwudhu setelah mandi junub tetap dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga kesucian sebelum shalat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang