Editor
KOMPAS.com - Kedatangan jamaah haji Indonesia di Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, Arab Saudi, menghadirkan suasana berbeda pada musim haji 2026.
Ribuan jamaah yang tiba terlihat bergerak lebih tertib dengan alur pelayanan yang rapi sejak keluar pesawat.
Di tengah padatnya arus kedatangan, wajah-wajah jamaah tampak lebih tenang.
Baca juga: Haji 2026 Dimulai: Saudi Siapkan 3,1 Juta Kursi, RI Matangkan Layanan Jemaah
Mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi langsung diarahkan bergerak bersama rombongan masing-masing sejak pertama menginjak area bandara.
Langkah jamaah juga tampak lebih terarah karena langsung dibagi dalam kelompok kecil atau rombongan.
Sistem baru ini menjadi salah satu strategi penting dalam pelayanan haji tahun ini.
Baca juga: MUI Minta Jemaah Haji Doakan RI di Tanah Suci, Ini Pesannya
Kepala Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, menyebut pengelompokan sejak awal kedatangan menjadi fondasi utama pelayanan haji yang terintegrasi.
“Kalau sejak awal rombongan sudah tertata, maka saat turun pesawat, keluar gate, hingga naik bus akan lebih tertib dan cepat,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Musim haji identik dengan lonjakan jumlah manusia dalam waktu bersamaan. Tahun ini, kepadatan arus kedatangan juga menjadi tantangan tersendiri, terutama risiko jamaah terpisah dari kelompoknya.
Karena itu, sistem rombongan dinilai penting untuk menjaga keteraturan pergerakan jamaah sejak di bandara.
Setiap rombongan terdiri dari sekitar 40 orang. Jumlah tersebut dinilai cukup ideal agar tetap terkendali sekaligus efisien dalam mobilisasi.
Sejak keluar dari pesawat, jamaah diarahkan untuk tetap berada dalam lingkaran rombongan masing-masing. Pendamping dari Tanah Air juga diminta aktif menjaga formasi kelompok.
“Diharapkan, saat hendak keluar dari gate bandara mereka sudah mengatur rombongannya. Sehingga saat keluar sudah urut,” jelas Abdul Basir.
Pola ini membuat pergerakan jamaah terasa seperti arus yang mengalir, bukan kerumunan besar yang saling berhimpitan.
Skema rombongan tidak berhenti di area terminal. Sistem tersebut berlanjut hingga proses keberangkatan menuju hotel menggunakan bus.
Petugas lapangan diarahkan memastikan satu bus diisi satu rombongan. Meski kapasitas bus mencapai sekitar 45 orang, pengisian tetap menyesuaikan struktur kelompok jamaah.
Hasilnya bukan hanya efisiensi, tetapi juga kenyamanan selama perjalanan dari bandara menuju penginapan.
Ahmad Fitria (52), jamaah asal Langkat, mengaku merasakan langsung manfaat sistem baru tersebut.
Menurut dia, perjalanan dari ruang tunggu menuju bus terasa singkat dan tidak membingungkan.
“Sejak turun pesawat langsung disambut petugas. Banyak senyum dan sapaan. Kami juga diatur supaya tetap tertib,” katanya.
Ia menilai pembatasan berdasarkan rombongan justru membuat suasana di dalam bus lebih nyaman.
“Lebih enak, tidak terlalu penuh. Kendaraannya juga bagus,” tambahnya.
Pengaturan di bandara menjadi gambaran dari sistem pelayanan haji yang lebih besar.
Pengelompokan rombongan bukan sekadar soal teknis, tetapi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman ibadah yang lebih tertata sejak awal kedatangan.
Di Tanah Suci, ketika jutaan orang bergerak dalam waktu bersamaan, keteraturan menjadi kebutuhan utama.
Di Madinah tahun ini, semua rangkaian kegiatan jamaah haji 2026 dimulai dari satu langkah sederhana, berjalan bersama dalam satu rombongan.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Dari Gate ke Bus: Cara Baru Tata Jamaah Haji Sejak Langkah Pertama di Madinah".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang