BANYUWANGI, KOMPAS.com - Menjaga lisan menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam.
Pengasuh PP Darul Maghfur Al Khotiby Banyuwangi KH Hasan Toha Al Hafidz mengingatkan umat agar tidak meremehkan, mengolok, apalagi menghina orang lain karena hal itu dilarang tegas dalam Al-Qur’an.
Dalam kajiannya, KH Hasan menekankan larangan menghina bukan sekadar persoalan adab sosial, melainkan perintah agama yang memiliki pesan mendalam tentang kerendahan hati dan penghormatan terhadap sesama.
“Jangan sok menghina orang lain. Hinaan itu akan kembali kepadamu,” ujar KH Hasan.
Baca juga: Hukum Sholat Sambil Baca Al-Qur’an di HP, Sah atau Tidak?
Ia merujuk Surah Al-Hujurat ayat 11-12 yang berisi larangan saling mengolok, mencela, memanggil dengan julukan buruk, berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, hingga ghibah.
Menurutnya, ayat ini menjadi panduan akhlak seorang Muslim dalam menjaga hubungan sosial.
KH Hasan menjelaskan frasa asaa dalam ayat tersebut bukan bermakna “barangkali”, melainkan tahqiq atau penegasan yang bermakna sungguh.
Artinya, orang yang dihina benar-benar bisa lebih baik daripada orang yang menghina.
“Allah berfirman khairun minhum, yang dihina itu bisa lebih baik dari yang menghina. Ini penegasan, bukan kemungkinan,” jelasnya.
Menurutnya, manusia kerap menilai orang dari tampilan lahir, status sosial, atau kekurangan yang tampak di mata.
Padahal kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari hal-hal itu, melainkan ketakwaannya.
Ia menegaskan, sikap merendahkan orang lain kerap lahir dari kesombongan yang halus, sementara Islam justru mengajarkan tawadhu (rendah hati) dan menghormati sesama.
Karena itu, menjaga lisan dari hinaan merupakan bagian dari menjaga hati.
Dalam Surah Al-Hujurat, Allah berfirman,
...يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.”
Ayat ini, kata KH Hasan, cukup menjadi peringatan agar umat berhati-hati dalam berbicara.
Ia juga mengingatkan bahwa hinaan yang dilontarkan kepada orang lain pada hakikatnya dapat kembali menjadi keburukan bagi pelakunya, baik berupa rusaknya hubungan sosial maupun dampak spiritual.
Baca juga: Abdullah bin Umar, Periwayat 2.630 Hadits yang Sangat Hati-Hati
“Kalau tidak mampu memuliakan orang lain, jangan menghina. Bisa jadi yang kita remehkan justru lebih mulia di hadapan Allah,” ujarnya.
KH Hasan mengajak umat menjadikan ayat-ayat dalam Surah Al-Hujurat sebagai pedoman memperbaiki akhlak, terlebih di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai cemoohan dan saling merendahkan, termasuk di media sosial.
Menurutnya, menjaga lisan, menjauhi hinaan, dan memuliakan sesama merupakan bagian dari akhlak orang beriman yang harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang