Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya

Kompas.com, 2 Mei 2026, 09:46 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Bagi jutaan umat Muslim yang menginjakkan kaki di tanah suci Madinah Al-Munawwarah, pandangan mata hampir selalu tertuju pada satu titik ikonik di sudut tenggara Masjid Nabawi.

Sebuah struktur megah berwarna hijau tua yang berdiri kontras di antara puluhan kubah perak lainnya, yang sering disebut sebagai "kompas rindu" bagi mereka yang ingin menziarahi makam Rasulullah SAW.

Namun, tahukah Anda bahwa warna hijau yang kini menjadi identitas permanen tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan penuh makna spiritual?

Baca juga: Panduan Menyimpan Sandal di Masjid Nabawi agar Tidak Hilang dan Tertukar

Awalnya Tanpa Kubah

Dilansir dari Crescent International, pada masa Rasulullah, Masjid Nabawi dibangun sangat sederhana. Dindingnya dari tanah, sementara atapnya hanya pelepah kurma.

Bahkan, area makam Nabi—yang dahulu merupakan rumah Aisyah—tidak memiliki kubah sama sekali.

Kubah baru dibangun jauh setelah masa Nabi, tepatnya pada 1279 M oleh Sultan Mamluk Al-Mansur Qalawun.

Struktur pertama ini masih terbuat dari kayu dan belum memiliki warna khas.

Berubah-ubah Warna dari Masa ke Masa

Seiring perjalanan waktu, kubah tersebut mengalami beberapa perubahan bentuk dan warna.

Awalnya, kubah dibiarkan tanpa warna. Kemudian, dalam fase berikutnya, kubah sempat dicat putih dan biru tua, warna yang saat itu cukup populer di dunia Islam.

Perubahan penting juga terjadi setelah kebakaran besar pada 1481 M. Sultan Qaitbay memperkuat struktur kubah dengan bata dan melapisinya agar lebih kokoh.

Awal Mula Warna Hijau

Warna hijau baru muncul pada abad ke-19. Pada masa Kekaisaran Ottoman, Sultan Mahmud II membangun kembali kubah di atas struktur lama dan kemudian memerintahkan pengecatan hijau.

Cat hijau tersebut pertama kali diaplikasikan sekitar tahun 1837.

Sejak saat itu, warna hijau dipertahankan hingga sekarang dan menjadi identitas khas yang membedakan kubah makam Nabi dari kubah lain di Masjid Nabawi yang berwarna perak.

Pemilihan warna hijau bukan sekadar estetika. Dalam tradisi Islam, warna ini memiliki makna yang dalam:

  • Melambangkan kesucian dan keimanan
  • Identik dengan gambaran surga dalam Al-Qur’an
  • Memberikan kesan ketenangan dan harapan
  • Menjadi penanda khusus lokasi makam Nabi bersama Abu Bakar dan Umar bin Khattab

Simbol yang Tak Tergantikan

Kekuatan simbolis Kubah Hijau sangatlah besar bagi penduduk Madinah dan umat Muslim dunia.

Pada tahun 2007, sempat muncul rencana untuk mengecat ulang kubah ini menjadi perak agar serasi dengan kubah lainnya di Masjid Nabawi.

Namun, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari warga Madinah karena dianggap akan menghilangkan identitas historis dan nilai cinta yang telah melekat selama hampir dua abad.

Baca juga: Rahasia Jendela Masjid Nabawi Tak Pernah Tutup, Bukti Cinta Hafshah kepada Nabi

Kini, Kubah Hijau tetap berdiri kokoh, memayungi manusia paling mulia dengan warna yang menyejukkan mata.

Ia bukan sekadar tumpukan bata dan lapisan cat, melainkan saksi bisu sejarah panjang penghormatan umat manusia kepada Nabi Muhammad SAW.

Setiap kali peziarah memandangnya, warna hijau tersebut seolah membisikkan pesan kedamaian dan kerinduan yang mendalam dari jantung Kota Nabi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu
Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu
Aktual
3 Opsi Keringanan Tawaf Ifadah bagi Haji Perempuan Haid
3 Opsi Keringanan Tawaf Ifadah bagi Haji Perempuan Haid
Aktual
Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya
Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya
Aktual
Apa Itu Haji Mabrur? Ini Makna dan Ciri-cirinya yang Perlu Dipahami Jemaah
Apa Itu Haji Mabrur? Ini Makna dan Ciri-cirinya yang Perlu Dipahami Jemaah
Aktual
Satu Calon Haji Asal NTB Ditolak Masuk Arab Saudi, Ini Penyebabnya
Satu Calon Haji Asal NTB Ditolak Masuk Arab Saudi, Ini Penyebabnya
Aktual
PPIH Medan Minta Petugas Haji Utamakan Pelayanan Jamaah di Tanah Suci
PPIH Medan Minta Petugas Haji Utamakan Pelayanan Jamaah di Tanah Suci
Aktual
Jemaah Haji NTB Diimbau Fokus Ibadah dan Tidak Sibuk Membuat Konten Medsos
Jemaah Haji NTB Diimbau Fokus Ibadah dan Tidak Sibuk Membuat Konten Medsos
Aktual
Jemaah Haji Diimbau Bijak Berbelanja untuk Hindari Over Bagasi Saat Berpindah dari Madinah ke Makkah
Jemaah Haji Diimbau Bijak Berbelanja untuk Hindari Over Bagasi Saat Berpindah dari Madinah ke Makkah
Aktual
Alasan Kemenhaj Larang Jemaah Haji Lakukan City Tour Sebelum Armuzna: Jaga Fisik dan Fokus Ibadah
Alasan Kemenhaj Larang Jemaah Haji Lakukan City Tour Sebelum Armuzna: Jaga Fisik dan Fokus Ibadah
Aktual
Jemaah Haji Indonesia Mulai Jalani Umrah Wajib di Masjidil Haram
Jemaah Haji Indonesia Mulai Jalani Umrah Wajib di Masjidil Haram
Aktual
Panduan Lokasi Terminal Bus Shalawat di Masjidil Haram, Jemaah Haji Indonesia Wajib Tahu
Panduan Lokasi Terminal Bus Shalawat di Masjidil Haram, Jemaah Haji Indonesia Wajib Tahu
Aktual
KBIH Lamongan Bantah Isu Jual Beli Kuota Haji Usai Jemaah Gagal Berangkat Meski Merasa Sudah Lunasi Biaya
KBIH Lamongan Bantah Isu Jual Beli Kuota Haji Usai Jemaah Gagal Berangkat Meski Merasa Sudah Lunasi Biaya
Aktual
Imam Pertama Perempuan, Kisah Ummu Waraqah Syahidah di Madinah
Imam Pertama Perempuan, Kisah Ummu Waraqah Syahidah di Madinah
Aktual
Penjualan Kambing Kurban di Kebumen Meningkat Jelang Idul Adha 2026, Harga Rp 1,5 sampai 3,5 Jutaan
Penjualan Kambing Kurban di Kebumen Meningkat Jelang Idul Adha 2026, Harga Rp 1,5 sampai 3,5 Jutaan
Aktual
Kemenhaj Prioritaskan Layanan untuk Jemaah Haji Lansia dan Difabel
Kemenhaj Prioritaskan Layanan untuk Jemaah Haji Lansia dan Difabel
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com