Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nenek Jumaria: 20 Tahun Menabung di Ember demi Naik Haji

Kompas.com, 8 Mei 2026, 10:01 WIB
Add on Google
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com - Di sebuah rumah sederhana di Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tersimpan ember tua di bawah kolong tempat tidur.

Bukan sembarangan, karena tabungan pada ember inilah yang menjadi perantara Jumaria P Sire Said (70) berangkat haji tahun ini.

Ember tua ini berisi lembaran rupiah yang dikumpulkan selama hampir dua dekade.

Uang tersebut diperoleh dari keringatnya menggarap kebun tetangga maupun hasil panen dari sawah peninggalan orang tuanya.

Hidup seorang diri tanpa kehadiran suami maupun anak di masa tuanya, tak membuat asanya layu untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.

Baca juga: “Jangankan Dorong, Gendong Mama Pun Amri Siap”, Kisah Mengharukan Haji Ibu dan Anak

Dia harus disiplin menyisihkan sebagian pendapatannya.

“Saya simpan mi di ember-ember uangnya. Saya taruh di bawah tempat tidur, ditutup kain-kain jelek supaya tidak ada yang tahu,” ujar Nenek Jumaria, Kamis (7/5/2026).

Pecahan uang yang ia simpan sangat beragam.

Kadang ia bisa langsung menyimpan uang dalam jumlah besar.

“Kadang Rp 500 ribu, kadang Rp 700 ribu. Ada juga dari kebun yang saya kerjakan, dikasih Rp 200 ribu, saya simpan,” ungkapnya.

Namun tak jarang pula hanya nominal kecil yang ia sisihkan.

Perjuangan ini dia lakukan sampai sekitar 20 tahun.

"Kadang 50, kadang 20, kadang 100, kadang 200 gitu, hampir mi kapan 20 tahun."

Makan dari Hasil Sendiri

Untuk menjaga tabungannya tetap utuh, Nenek Jumaria menerapkan gaya hidup yang sangat bersahaja.

Berbekal air minum secukupnya, ia menjadikan sawah sebagai denyut nadi kesehariannya.

“Kalau pagi jam 6 pergi ke sawah, bawa air setengah liter. Habis itu pulang, mandi, makan, tidur sebentar lalu shalat,” tuturnya menjelaskan rutinitasnya.

Bahkan untuk urusan perut, ia pantang menyentuh uang di dalam ember tersebut.

Ia lebih memilih memakan apa yang disediakan oleh alam di sekitar rumahnya.

“Ambil saja daun ubi, saya masak. Masak apa yang ada saja,” tegasnya.

Sesekali, ia melengkapi gizinya dari hasil ternak sendiri, seperti memasak telur ayam.

Segala perjuangan, rasa lapar, dan peluh selama puluhan tahun itu bermuara pada satu pesan mendalam dari mendiang orang tuanya yang terus terngiang di telinga Jumaria.

“Kalau kau punya uang, pergi ko tanah suci. Pergi mako karena saya sudah tidak bisa pergi,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca menirukan pesan tersebut.

Saat kakinya akhirnya memijak Kota Suci Madinah, ada kebingungan dan haru yang bergejolak di batinnya.

Ia tak menyangka impian yang dijaga di dalam ember tua di bawah tempat tidurnya kini mewujud nyata di depan mata.

“Saya suka di sini, tenang. Saya berdoa semoga panjang umur dan bisa ke sini lagi,” tutupnya dengan senyum syukur.

Fisik Masih Bugar

Usia yang senja nyatanya tidak menggerus ketahanan fisik Nenek Jumaria.

Ia tak hanya sukses mengumpulkan syarat finansial, tetapi juga memenuhi syarat istitha'ah, yaitu mampu secara fisik dan mental dengan sangat sempurna.

Ketua Kloter UPG 14, Siti Hawaisyah, mengungkapkan kekagumannya terhadap rekam medis sang nenek.

"Itu Pak buktinya tidak merah dia (kartu kesehatannya), berarti dia sehat," ujar Siti.

Lebih lanjut, Siti memaparkan betapa disiplinnya Jumaria selama masa persiapan keberangkatan.

Meski cuaca panas maupun hujan, Jumaria selalu hadir.

“Beliau tidak pernah absen manasik. Lebih dari 80 kali pertemuan selalu hadir,” kata Siti.

Selain itu, Nenek Jumaria disebut mandiri dan memiliki fisik yang kuat meski usianya sudah lanjut.

“Dia mandiri, kuat sekali,” tambahnya.

Kekuatan fisik ini bahkan membuat rekan sekamarnya, Ibu Marwati, kewalahan saat harus mengimbangi langkahnya di Tanah Suci.

"Sampai-sampai saya berjalan dengan kencang begitu, bahkan dia (Nenek Jumari) masih bisa lari tarik saya," cerita Marwati.

Jadi Ikon Haji

Dedikasi tanpa batas ini membuat Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) merekomendasikan Nenek Jumaria sebagai Ikon Haji 2026.

Baca juga: Kisah Abdul Hanan, Petani Lombok yang Berangkat Haji Berkat Bantuan Anak

Kisahnya semakin mendunia ketika Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengangkat perjalanan hidupnya melalui dokumentasi Program Mekkah Route di Embarkasi Makassar, dan mengunggahnya di kanal Instagram resmi @makkahroute.

Pengambilan gambar tentang Jumaria dilakukan selama satu hari penuh di Desa Kuru Sumange.

Proses pengambilan gambar itu pun menjadi hiburan tersendiri bagi warga setempat.

“Waktu itu masyarakat datang semua, berbondong-bondong menyaksikan proses syuting,” ujar Siti Hawaisyah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Aktual
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Jangan Asal Beli, Ini Oleh-oleh Haji yang Dilarang di Pesawat
Aktual
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Museum Biografi Nabi Muhammad di Madinah, Wisata Religi Futuristik Dekat Masjid Nabawi
Aktual
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Nekat Jalan Kaki Lewat Gurun ke Makkah, 5 WN Afghanistan Ditahan
Aktual
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Daker Bandara Jeddah Terima 49 Koper Cadangan untuk Jamaah Haji yang Kopernya Rusak
Aktual
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Jelang Haji 2026, Saudi Siapkan Call Center 24 Jam dalam 11 Bahasa
Aktual
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Pernah Overstay di Arab Saudi, JCH Asal Polman Gagal Berangkat Haji 2026 karena Dicekal Imigrasi
Aktual
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba
Aktual
Hukum Nikah Siri Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Kemenag
Hukum Nikah Siri Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Kemenag
Aktual
Keutamaan Haji Mabrur, Pulang Suci Bak Bayi yang Baru Lahir
Keutamaan Haji Mabrur, Pulang Suci Bak Bayi yang Baru Lahir
Aktual
4 Cara Meminta Maaf kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dalam Ajaran Islam
4 Cara Meminta Maaf kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dalam Ajaran Islam
Aktual
Saudi Terapkan Sekolah di Makkah Belajar Daring Jelang Musim Haji 2026
Saudi Terapkan Sekolah di Makkah Belajar Daring Jelang Musim Haji 2026
Aktual
Doa Masuk & Keluar Kamar Mandi Lengkap Arab, Latin, Arti & Adab Sunnah
Doa Masuk & Keluar Kamar Mandi Lengkap Arab, Latin, Arti & Adab Sunnah
Doa dan Niat
Pahala Orang Tua yang Sabar Saat Anak Meninggal Dunia, Jadi Penolong di Akhirat hingga Dijanjikan Surga
Pahala Orang Tua yang Sabar Saat Anak Meninggal Dunia, Jadi Penolong di Akhirat hingga Dijanjikan Surga
Aktual
Kemenag Siapkan Seleksi Majelis Masyayikh 2026–2031, AHWA Resmi Dibentuk
Kemenag Siapkan Seleksi Majelis Masyayikh 2026–2031, AHWA Resmi Dibentuk
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com