KOMPAS.com - Pembagian daging kurban saat Idul Adha selama ini identik dengan kantong plastik kresek hitam.
Praktis dan murah, namun kebiasaan tersebut ternyata mulai menjadi sorotan karena dinilai berisiko bagi kesehatan sekaligus memperparah pencemaran lingkungan.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu sampah plastik, penggunaan plastik sekali pakai untuk membungkus daging kurban kini mulai ditinggalkan.
Baca juga: Bagaimana Pembagian Daging Kurban Sapi 7 Orang, Berapa Kg per Bagian?
Terlebih, harga plastik juga disebut mengalami kenaikan menjelang Idul Adha akibat naiknya harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik global.
Tidak sedikit masjid, panitia kurban, hingga komunitas lingkungan yang mulai beralih menggunakan wadah alami dan reusable untuk distribusi daging kurban.
Selain lebih aman, langkah ini dianggap sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga alam dan menghindari kerusakan di bumi.
Lalu, benarkah plastik pembungkus daging kurban mengandung zat berbahaya? Apa saja alternatif wadah ramah lingkungan yang mulai banyak digunakan masyarakat?
Dilansir dari TribunJogja.com, Selasa (12/5/2026), Ketua Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Agung Nugroho, mengingatkan bahwa penggunaan kantong plastik kresek, terutama plastik hitam hasil daur ulang, memiliki risiko kesehatan serius.
“Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam,” kata Agung.
Ia menjelaskan, sebagian besar plastik kresek berasal dari proses daur ulang limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida.
Oleh karena itu, penggunaan plastik untuk membungkus bahan makanan, termasuk daging kurban, dinilai tidak ideal.
Penjelasan serupa juga pernah disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI pada 2019 mengenai bahaya penggunaan plastik daur ulang untuk kontak langsung dengan makanan panas maupun bahan pangan segar.
Dalam buku Pengelolaan Sampah Plastik dan Lingkungan karya Prof. Dr. Emil Salim disebutkan, plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang pencemaran terbesar karena sulit terurai secara alami dan dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan.
Masalahnya, penggunaan plastik saat Idul Adha masih sangat tinggi.
Setiap Hari Raya Kurban, jutaan kantong plastik diperkirakan digunakan untuk membagikan daging kepada masyarakat.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat timbulan sampah plastik saat Idul Adha 2024 mencapai sekitar 608 ton yang berasal dari lebih dari 121 juta lembar kantong plastik sekali pakai.
Sementara data Kementerian Pertanian menunjukkan jumlah hewan kurban nasional pada 2024 mencapai sekitar 1,97 juta ekor.
Artinya, potensi sampah plastik saat Idul Adha terus meningkat setiap tahun apabila masyarakat masih mengandalkan kantong kresek sebagai pembungkus utama.
Menurut Agung Nugroho, Idul Adha seharusnya juga menjadi momentum edukasi lingkungan.
“Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan,” ujarnya.
Kesadaran mengurangi sampah plastik sebenarnya sejalan dengan nilai dalam Islam.
Dalam Al Quran Surah Ar-Rum ayat 41 disebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia.
Sementara Surah Al-Qashash ayat 77 mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Dalam buku Ekoteologi Islam karya Prof. Dr. Mujiyono Abdillah dijelaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan lingkungan.
Karena itu, penggunaan wadah ramah lingkungan saat Idul Adha tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup modern, tetapi juga bagian dari implementasi nilai keagamaan.
Kini mulai banyak masyarakat yang beralih menggunakan pembungkus alami maupun wadah reusable untuk distribusi daging kurban.
Selain lebih aman untuk kesehatan, alternatif ini juga membantu mengurangi volume sampah rumah tangga.
Besek bambu menjadi salah satu alternatif paling populer menggantikan kantong plastik.
Wadah tradisional berbahan anyaman bambu ini dikenal kuat, mudah terurai, dan dapat digunakan kembali.
Selain ramah lingkungan, penggunaan besek juga membantu mendukung perajin bambu lokal di berbagai daerah.
Banyak panitia kurban mulai kembali memakai besek karena tampilannya dianggap lebih estetik sekaligus bernilai budaya.
Daun jati sering digunakan masyarakat pedesaan untuk membungkus makanan maupun daging kurban.
Teksturnya lebar dan tidak mudah sobek sehingga cukup kuat menampung potongan daging.
Menariknya, penelitian dari Universitas Syiah Kuala menyebut daun jati memiliki kandungan antimikroba yang membantu menjaga kualitas daging pada suhu ruang.
Selain alami, daun jati juga memberikan aroma khas pada daging.
Di sejumlah daerah seperti Kulon Progo dan Jawa Barat, daun kelapa mulai digunakan sebagai wadah distribusi kurban.
Daun dianyam menyerupai tempat penyimpanan tradisional lalu dilapisi daun jati atau daun pisang sebagai alas.
Selain murah dan mudah ditemukan, daun kelapa lebih cepat terurai dibanding plastik.
Tradisi ini juga sering dikerjakan secara gotong royong oleh warga menjelang Idul Adha.
Bongsang merupakan wadah tradisional khas Betawi berbahan anyaman bambu.
Dulu, bongsang banyak dipakai sebagai pembungkus buah dan makanan. Kini kemasan ini kembali digunakan untuk distribusi daging kurban ramah lingkungan.
Biasanya, daging dibungkus lebih dulu menggunakan daun sebelum dimasukkan ke dalam bongsang.
Selain unik, bongsang juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai.
Baca juga: Berapa Bagian Daging Kurban yang Boleh Dimakan Shohibul Qurban?
Rantang berbahan stainless steel atau plastik tebal menjadi pilihan praktis yang dapat digunakan berulang kali.
Beberapa panitia kurban bahkan mulai mengimbau warga membawa wadah sendiri dari rumah agar pembagian lebih hemat dan ramah lingkungan.
Cara ini dinilai efektif mengurangi sampah sekaligus membangun budaya reuse di masyarakat.
Wadah reusable mulai banyak digunakan masjid dan komunitas lingkungan saat pembagian daging kurban.
Jenisnya beragam, mulai dari kotak makanan food grade, ember kecil bertutup, hingga kontainer khusus yang dapat dipakai berulang kali setiap tahun.
Salah satu penerapan dilakukan Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur yang sejak 2004 menggunakan kontainer reusable untuk distribusi daging kurban kepada warga.
Setiap wadah diberi nama penerima sehingga bisa dikembalikan dan digunakan lagi pada Idul Adha berikutnya.
Selain membantu mengurangi sampah plastik, sistem ini dinilai lebih higienis, rapi, dan ekonomis dalam jangka panjang.
Banyak pihak menilai penggunaan wadah reusable bisa menjadi solusi distribusi daging kurban yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai kepedulian lingkungan.
Kesadaran masyarakat terhadap dampak sampah plastik perlahan mulai meningkat.
Jika sebelumnya pembagian daging kurban identik dengan kantong kresek hitam, kini semakin banyak panitia yang mencoba memakai kemasan alami atau wadah reusable.
Langkah kecil tersebut dianggap penting karena Idul Adha bukan hanya tentang ibadah kurban, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga amanah terhadap lingkungan dan sesama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang