Editor
KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi momen ibadah dan penyembelihan hewan kurban bagi umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi budaya di berbagai daerah Indonesia.
Setiap wilayah memiliki cara khas dalam menyambut dan merayakan Idul Adha yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi tersebut memadukan nilai keagamaan dengan budaya lokal yang masih terus dijaga hingga sekarang.
Baca juga: Menag Nasaruddin Sebut Idul Adha di Istiqlal Jadi Model Pelaksanaan Kurban di Asia Tenggara
Meski berbeda bentuk dan pelaksanaannya, seluruh tradisi itu tetap mengandung pesan pengorbanan, rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Di berbagai daerah, tradisi Idul Adha menjadi bagian penting yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya. Berikut ragam tradisi khas Idul Adha di Indonesia yang sarat nilai budaya dan spiritual.
Baca juga: Idul Adha 2026 di Gaza Kembali Dirayakan Tanpa Tradisi Sembelih Hewan Kurban
Perayaan Idul Adha di Yogyakarta dan Solo identik dengan tradisi Grebeg Besar dengan ciri khas adanya gunungan.
Tradisi ini berjalan hampir serupa, yaitu dengan menampilkan arak-arakan gunungan berbentuk kerucut yang tersusun dari hasil bumi seperti sayur-mayur, buah, dan aneka makanan.
Gunungan diarak dari Keraton menuju Masjid Gede dengan pengawalan prajurit keraton.
Setelah doa bersama dipanjatkan, hasil bumi tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan harapan keberkahan.
Masyarakat Pulau Madura memiliki tradisi Toron dan Nyalasi saat Idul Adha.
Toron merupakan tradisi pulang kampung para perantau Madura menjelang hari raya untuk berkumpul bersama keluarga.
Setelah itu, masyarakat melaksanakan Nyalasi, yakni penyembelihan hewan kurban di halaman rumah atau masjid.
Daging kurban kemudian diolah menjadi hidangan khas seperti sate dan gulai kambing untuk disantap bersama keluarga serta tetangga.
Warga Semarang merayakan Idul Adha melalui tradisi Apitan sebagai bentuk rasa syukur.
Dalam tradisi ini, hasil pertanian dan peternakan diarak lalu dibagikan kepada masyarakat.
Tradisi Apitan juga mengajarkan nilai kebersamaan dan semangat berbagi kepada sesama.
Masyarakat Pasuruan memiliki tradisi unik bernama Manten Sapi.
Dalam tradisi tersebut, sapi yang akan dikurbankan dimandikan dan dihias menggunakan kain serta berbagai aksesoris sehari sebelum penyembelihan.
Setelah dihias, sapi diarak menuju lokasi penyembelihan sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan kurban dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.
Tradisi Mepe Kasur menjadi bagian dari perayaan Idul Adha masyarakat Banyuwangi.
Warga menjemur kasur di halaman rumah sebagai simbol penolak bala dan doa agar keluarga dijauhkan dari mara bahaya.
Selain itu, tradisi ini juga memperkuat nilai gotong royong dan keharmonisan rumah tangga.
Masyarakat Muslim di Bali memiliki tradisi Ngejot saat Idul Adha.
Tradisi ini dilakukan dengan saling berbagi makanan kepada tetangga dan kerabat setelah penyembelihan hewan kurban selesai.
Daging kurban diolah menjadi berbagai masakan seperti sate, gulai, dan rendang sebelum dibagikan.
Tradisi Ngejot menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, dan toleransi antarwarga.
Tradisi Meugang selalu hadir menjelang Idul Adha di Aceh.
Tradisi ini dilakukan satu hingga dua hari sebelum Idul Adha dengan menyembelih hewan ternak dan memasak daging untuk disantap bersama keluarga.
Meugang telah ada sejak masa Kesultanan Aceh ketika daging dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma.
Hingga kini, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai simbol kebersamaan keluarga dan kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang