Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Waktu Berhenti Sejenak di Arafah...

Kompas.com, 27 Mei 2026, 19:31 WIB
Add on Google
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

ARAFAH, KOMPAS.com- "Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika lak.."

Suara talbiyah bersahut-sahutan dari hamparan tenda-tenda di Padang Arafah. Siang itu, Selasa (26/5/2026), waktu seolah sejenak berhenti berputar di Arafah.

Air mata jemaah tumpah. Doa-doa meminta ampunan mengalun perlahan dari tenda-tenda.

Hanya ada hamba dan juga Tuhannya dalam kesunyian. Baju ihram dengan warna sama yang dikenakan ribuan manusia di Arafah, menghapus sekat-sekat sosial.

"Di Padang Arafah ini manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan," ungkap salah satu Amirul Hajj KH. Asep Saifuddin Chalim, dalam khutbah wukuf, Selasa (26/5/2026).

Baca juga: Seorang Jemaah Haji Embarkasi Banjarmasin Wafat Saat Wukuf di Padang Arafah

Berdiam di kedalaman iman

Secara etimologi, wukuf adalah berhenti atau berdiam sejenak. Namun bukan hanya berdiam begitu saja,manusia akan terlahir kembali seperti bayi jika mereka memohon ampunan.

Asep Saifuddin menganalogikan pengampunan Allah itu sebagai jamuan Tuhan pada tamu yang diundangnya di Padang Arafah.

"Ketika mereka (jemaah haji) meminta ampunan kepada Allah, maka akan diampuni dan ketika mereka memanjatkan permohonan maka akan dikabulkan oleh Allah," katanya.

Proses wukuf juga mengajarkan manusia pada sebuah proses penempaan. Suhu Arafah yang mencapai lebih dari 40 derajat Celcius, lautan manusia, dan tantangan menjauhi larangan ihram menjadi tempaan terbaik bagi kesabaran manusia.

Selain wukuf, dalam rukun haji ada tawaf yang mengajarkan pada manusia bahwa hidup selalu berputar atas kehendak Allah.

"Maka ketika datang cobaan kita akan mengganggap biasa karena hidup memang terus berputar, kadang ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah," paparnya.

Sedangkan proses sai mengajarkan bahwa manusia harus berusaha keras bertakwa pada Allah.

"Ada tantangan, ada godaan namun kita akan terus bisa menghadapinya," imbuh Asep.

Baca juga: Wukuf Arafah: Doa Jemaah Haji Indonesia dan Harapan Terkabul

Pribadi yang baru

Penempaan selama proses haji akan melahirkan pribadi baru. Bukan hanya sekadar gelar haji, namun ada tanggung jawab dan kontribusi sosial yang harus diberikan seorang hamba pada lingkungan mereka.

Kemabruran haji seseorang ditunjukkan pada sejumlah aspek perubahan positif kebribadian. Seperti kedermawanan, empati sosial, hingga ucapan yang baik.

Jika setiap jemaah menyadari hal tersebut, perubahan positif dan signifikan di tengah masyarakat sangat mungkin terjadi. Selamat Lebaran Haji, Labbaikallahuma labaik..

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com