KOMPAS.com - Ketua Umum Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan bahwa kepemimpinan NU di masa depan harus mampu menjawab tantangan era digital dan dinamika global.
Menurutnya, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu tidak lagi bisa dikelola dengan cara-cara lama di tengah perubahan teknologi dan pola hidup masyarakat yang berkembang sangat cepat.
Gus Yahya menjelaskan bahwa skala NU yang sangat besar menuntut adanya transformasi sistem organisasi, termasuk melalui digitalisasi manajemen dan pembentukan kepemimpinan yang memiliki pemahaman luas terhadap teknologi serta persoalan internasional.
“Kalau kita lihat ukuran dari NU itu sendiri yang skalanya begitu besar sampai kurang lebih separuh dari Indonesia, saya bisa langsung sampai pada kesimpulan bahwa tidak mungkin ini dikelola secara manual. Harus ada cara yang lebih efektif untuk bisa melakukan pengelolaan yang mampu mengcover keseluruhan stakeholder dari NU ini,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Tanpa Meritokrasi di NU, Gus Yahya: Semua Orang Bisa Lompat ke Puncak
Oleh karena itu, PBNU saat ini mulai mengembangkan sistem digital untuk mendukung pengelolaan organisasi secara lebih modern dan terintegrasi.
Menurut Gus Yahya, digitalisasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak bagi organisasi sebesar NU.
“Itulah sebabnya kami mengembangkan sistem digital untuk manajemen organisasi dan tentu saja yang dibutuhkan ke depan adalah kepemimpinan yang cukup punya pemahaman tentang soal ini,” katanya.
Namun, tantangan NU menurut Gus Yahya tidak berhenti pada persoalan teknologi semata. Ia mengatakan bahwa NU kini berada dalam situasi global yang membuat organisasi tidak bisa lagi mengasingkan diri dari perkembangan dunia internasional.
“Kita sekarang juga memasuki satu era ketika NU tidak bisa lagi mengasingkan diri dari dinamika masyarakat yang luas, bukan hanya dalam skala nasional tapi juga secara internasional. Kita tidak bisa lari karena sekarang semua orang mencari, memburu NU untuk dilibatkan di dalam berbagai macam agenda yang dibuat oleh berbagai pihak,” tuturnya.
Oleh sebab itu, ia menilai pemimpin NU ke depan harus memiliki kemampuan memahami konstelasi global, isu sosial internasional, hingga problem kemanusiaan lintas negara.
Kepemimpinan yang hanya kuat secara keagamaan tanpa kemampuan membaca perubahan dunia dinilai tidak lagi cukup.
“Kita juga membutuhkan kepemimpinan yang memiliki kapasitas untuk memahami keseluruhan dinamika, konstelasi, dan problematika masyarakat secara luas, baik domestik, nasional maupun secara internasional,” ungkap Gus Yahya.
Baca juga: Krapyak, Rahim Intelektual NU: Dari Gus Dur hingga Gus Yahya
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga melahirkan fenomena baru di kalangan generasi muda, termasuk dalam cara mereka belajar agama.
Gus Yahya mengakui bahwa media sosial dan platform digital kini menjadi ruang utama masyarakat mencari informasi keagamaan.
Menurutnya, fenomena tersebut tidak dapat dihindari karena merupakan konsekuensi perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat modern.
“Ini fenomena yang tak terelakkan karena perkembangan dari platform-platform digital dan juga perkembangan dari bagaimana teknologi mempengaruhi pola hidup masyarakat. Menurut saya sih tidak apa-apa, menurut saya positif saja,” katanya.
Meski demikian, Gus Yahya mengingatkan bahwa belajar agama hanya melalui media sosial memiliki keterbatasan serius.
Ia menilai agama tidak cukup dipahami hanya dari sisi pengetahuan atau aspek kognitif semata.
“Saya ingin katakan bahwa itu tidak cukup. Saya ingin sampaikan kepada generasi muda bahwa hanya mencari informasi keagamaan dari media-media digital itu tidak cukup karena agama itu bukan hanya aspek kognitif,” ucapnya.
Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026
Menurut Gus Yahya, agama juga memiliki dimensi spiritual dan rohani yang tidak bisa diperoleh hanya lewat video pendek, unggahan media sosial, ataupun pesan berantai di aplikasi percakapan.
“Agama itu ada aspek spiritual, aspek rohani dan aspek rohani ini kan tidak bisa di-WA gitu ya. Aspek rohani ini membutuhkan direct engagement, one way or another,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa inti keberagamaan justru terletak pada dimensi ruhani yang membutuhkan hubungan langsung dengan guru, kiai, pesantren, atau lingkungan yang memiliki kapasitas spiritual.
“Transfer dari dimensi ruhaniah agama ini sebetulnya justru inti dari keberagamaan itu sendiri. Kalau cuma pengetahuan kognitif, orang bisa punya banyak pengetahuan tapi kelakuannya bejat itu bisa saja. Itu kenapa? Karena aspek ruhaninya tidak terurus,” ujar Gus Yahya.
Karena itulah, ia mendorong generasi muda agar tidak hanya bergantung pada media sosial dalam memahami agama, tetapi juga mencari jalur pembelajaran yang lebih terstruktur dan mendalam.
“Yang terbaik itu kalau dilakukan secara terstruktur. Artinya bukan hanya sekadar melihat-lihat YouTube atau sharing WA grup, tapi memang belajar secara terstruktur dan itu banyak platform yang menyediakan itu,” jelasnya.
Selain belajar secara sistematis, Gus Yahya juga mengingatkan pentingnya mencari pembimbing spiritual yang benar-benar memiliki kapasitas rohani, bukan sekadar popularitas atau citra di media sosial.
“Ini bukan soal citra ya. Banyak orang yang citranya seolah-olah sakti atau keramat tapi sebetulnya kapasitasnya untuk mentransfer kapasitas ruhani itu dipertanyakan,” ujarnya.
Ia menilai tradisi pesantren dan tarekat di lingkungan NU masih menjadi ruang penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kedalaman spiritualitas agama.
“Dalam tradisi NU itu masih tersedia simpul-simpul yang memang memiliki kredibilitas nyata untuk mampu mentransfer atau mendorong tumbuhnya kapasitas rohani kepada orang lain. Ada pesantren-pesantren dengan kiai-kiai yang memang punya kemampuan seperti itu,” tutur Gus Yahya.
Menurutnya, tantangan terbesar NU di era digital bukan hanya soal kemampuan mengikuti teknologi, tetapi juga bagaimana menjaga dimensi spiritual masyarakat agar tidak hilang di tengah banjir informasi.
Oleh karena itu, Gus Yahya menilai masa depan NU harus dibangun dengan kombinasi antara modernisasi organisasi, penguasaan teknologi, keterbukaan terhadap isu global, dan penguatan tradisi spiritual pesantren yang selama ini menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang