Editor
KOMPAS.com - Pemerintah terus memperkuat pengawasan kesehatan jemaah haji 2026 sejak sebelum keberangkatan hingga kepulangan ke Tanah Air.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah skrining kesehatan ketat serta active case finding atau penemuan kasus aktif di pintu masuk negara.
Pemerintah menilai langkah tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan jemaah sekaligus mencegah potensi penyebaran penyakit menular.
Baca juga: Wamenhaj Tegur Garuda Indonesia Usai Pesawat Jamaah Haji Delay Berjam-jam di Jeddah
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor utama yang mendukung keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji tahun ini.
Dilansir dari Antara, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus menegaskan bahwa kolaborasi dan penguatan deteksi dini melalui active case finding di pintu masuk negara, seperti Bandara Soekarno-Hatta, menjadi kunci keberhasilan dalam melindungi kesehatan jemaah haji dan masyarakat.
Baca juga: Kemenhaj: Penerapan Istithaah Kesehatan Berhasil Tekan Angka Kematian Jemaah Haji
Benny mengatakan, fase debarkasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Pada tahap ini, pemerintah memastikan setiap jemaah memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal sekaligus menjalani pemantauan kesehatan secara menyeluruh untuk mendeteksi kemungkinan penyakit menular maupun gangguan kesehatan lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Benjamin juga menyoroti efektivitas skrining kesehatan ketat yang telah diterapkan sejak fase keberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Menurutnya, kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan terbukti memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian jemaah haji.
"Jadi waktu sebelumnya saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, saya cek ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pola deteksi dini tersebut terus dilanjutkan saat jemaah kembali ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Dalam peninjauannya di area debarkasi, petugas kesehatan melakukan observasi visual dan pemeriksaan menggunakan alat pemindai suhu tubuh atau thermo scanner terhadap seluruh jemaah yang baru tiba.
Jemaah yang menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan langsung diarahkan ke pos kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Benjamin mengatakan petugas kesehatan bergerak cepat ketika menemukan jemaah yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah tiba di Tanah Air.
"Begitu kelihatan jemaah yang sudah pulang ini ada suspek tidak sehat, langsung dilakukan cek kesehatan. Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya, sekarang masih ada yang diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan hingga timbul sakit. Nah, ini bisa langsung dikontrol dari sini," katanya.
Menurut dia, langkah tersebut memungkinkan petugas melakukan pengawasan sejak dini sehingga kondisi kesehatan jemaah dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Wamenkes menegaskan keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak.
"Ada teman-teman dari AirNav yang mengatur lalu lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura yang menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus. Ambulans standby untuk kondisi darurat. Ini membuktikan sinergi lintas sektor berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis," tutupnya.
Ia menilai kolaborasi tersebut memungkinkan pelayanan kesehatan berjalan lebih efektif, termasuk dalam penanganan kondisi darurat yang memerlukan respons cepat.
Senada dengan Wamenkes, Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta Naning Nugrahini mengatakan active case finding dilakukan terhadap seluruh jemaah haji yang tiba di wilayah kerjanya.
Bandara Soekarno-Hatta melayani pemulangan jemaah dari Embarkasi Jakarta yang mencakup Asrama Haji Pondok Gede untuk wilayah DKI Jakarta dan Lampung, Embarkasi Banten, serta Embarkasi Jakarta-Bekasi yang melayani wilayah Jawa Barat bagian barat seperti Bekasi dan Bogor.
"Pada saat jemaah haji lewat, petugas kami melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya tanda dan gejala sakit seperti batuk, pilek, atau panas. Jika ditemukan gejala tersebut, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium," kata Naning.
Naning mengungkapkan bahwa kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jemaah yang baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas.
"Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung, atau penyakit kronis lainnya. Prinsip kami adalah memberikan pertolongan pertama dan langsung merujuk ke rumah sakit terdekat dari lokasi kegawatdaruratan," ujarnya.
Untuk melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji pada Selasa, BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan lengkap selama 24 jam.
Tim tersebut terdiri atas dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, sopir ambulans, tenaga humas, hingga tenaga pendukung lainnya guna memastikan seluruh proses pemantauan kesehatan berjalan optimal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang