KOMPAS.com - Direktur NU Online Hamzah Sahal menegaskan bahwa pesantren-pesantren besar di Indonesia telah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dengan mengembangkan sains, olahraga, hingga seni.
Menurutnya, anggapan bahwa pesantren hanya berkutat pada pendidikan agama sudah tidak lagi sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini.
Hamzah mengatakan banyak pesantren modern yang berhasil memadukan pendidikan keagamaan dengan berbagai bidang ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan generasi muda pada abad ke-21.
Karena itu, pesantren yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman berisiko tertinggal.
“Kalau pesantren tidak mengikuti zaman sudah tidak ada sejak tahun 70-an. Serius. Meskipun ada pesantren-pesantren yang tidak mengikuti perkembangan zaman, sekarang memang agak tertinggal. Tetapi pesantren yang maju jumlahnya banyak sekali,” kata Hamzah di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Tak Cuma Pesantren, Wasekjen PBNU Desak PBNU Bangun Sekolah di Area Urban
Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor yang membuat pesantren tetap bertahan dan terus diminati masyarakat hingga saat ini.
Berbeda dengan anggapan sebagian orang, pesantren modern tidak hanya mencetak calon ulama atau guru agama, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkiprah di berbagai bidang.
Hamzah mencontohkan sejumlah pesantren besar yang terus melakukan inovasi dalam sistem pendidikan mereka.
Di antaranya adalah pesantren-pesantren yang berada di lingkungan Nahdlatul Ulama yang telah mengembangkan kurikulum berbasis sains, teknologi, olahraga, hingga seni.
“Saya sering menyampaikan bahwa banyak sekali pesantren yang berdiri pada abad ke-21 ini orientasinya sudah berubah. Mereka bukan hanya mengajarkan ilmu keagamaan, tetapi juga mengembangkan banyak bidang lain yang dibutuhkan anak-anak sekarang,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah pesantren yang dinilainya berhasil bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, seperti Pesantren Darul Ulum di Jombang, Pesantren Tebuireng, Pesantren Krapyak Yogyakarta, hingga sejumlah pesantren baru yang bermunculan dalam dua dekade terakhir.
“Pesantren Darul Ulum, Tebuireng, Krapyak dan banyak pesantren lain terus berkembang. Di Jogja misalnya ada banyak pesantren baru yang orientasinya sudah sangat maju. Mereka menggabungkan pendidikan agama dengan berbagai disiplin ilmu,” jelas Hamzah.
Baca juga: Wasekjen PBNU: Konflik Internal Jadi Beban Berat Generasi Muda NU
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren tidak menutup diri terhadap perubahan sosial maupun perkembangan ilmu pengetahuan.
Justru, banyak pesantren yang kini menjadi ruang lahirnya generasi muda dengan kemampuan yang semakin beragam.
Hamzah juga menyoroti munculnya pesantren yang fokus pada pengembangan sains dan teknologi.
Salah satunya adalah pesantren yang mengelola SMA berbasis sains dan Al-Qur'an sebagai upaya menjawab kebutuhan pendidikan modern.
“Sekarang sudah banyak sekali. Minat studinya juga beragam. Tidak hanya ilmu sosial dan humaniora, tetapi juga sains. Banyak santri yang belajar bidang-bidang ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren,” ungkapnya.
Baca juga: Sekjen MUI Tanggapi Tuduhan terhadap Kiai Pesantren, Minta Tabayun dan Hindari Fitnah
Selain sains, pesantren juga mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan bakat di bidang olahraga.
Menurut Hamzah, sejumlah pesantren telah menunjukkan prestasi yang membanggakan dalam cabang olahraga tertentu.
“Sekarang ada pesantren yang futsalnya bagus, sepak bolanya bagus. Bahkan ada liga santri yang menurut saya menginspirasi banyak pesantren untuk membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan minat dan bakat santri,” tuturnya.
Ia menilai perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa pesantren tidak lagi memandang olahraga sebagai aktivitas pelengkap semata, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan pengembangan potensi peserta didik.
Tak hanya olahraga, bidang seni juga mendapat perhatian yang semakin besar. Hamzah mencontohkan adanya pesantren yang berhasil membangun kelompok paduan suara atau choir dengan kualitas yang mampu bersaing di tingkat yang lebih luas.
“Di Pesantren Bumi Cendekia misalnya, saya dengar paduan suaranya bagus sekali. Itu sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan 20 atau 30 tahun lalu. Orang mungkin bertanya, kok ada pesantren yang choir-nya bagus? Tetapi sekarang itu nyata,” ujarnya.
Menurut Hamzah, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kreativitas dan kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam.
“Pesantren mengikuti perkembangan zaman bukan berarti meninggalkan tradisinya. Justru tradisi keilmuan yang kuat itu menjadi fondasi untuk menghadapi tantangan baru,” katanya.
Ia juga menepis anggapan bahwa regenerasi intelektual di lingkungan pesantren mengalami kemunduran.
Menurutnya, banyak anak muda lulusan pesantren yang kini aktif sebagai penulis, akademisi, peneliti, hingga penggerak komunitas sosial.
“Penulis-penulis intelektual Nahdlatul Ulama itu banyak sekali dan sekarang semakin beragam kemampuan serta minat studinya. Ini menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi tempat yang produktif untuk melahirkan sumber daya manusia berkualitas,” ungkap Hamzah.
Baca juga: Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa modernisasi pesantren harus tetap dibangun di atas fondasi pemahaman keagamaan yang kuat.
Menurutnya, penguasaan ilmu agama tetap menjadi identitas utama pesantren yang tidak boleh ditinggalkan.
“Yang paling penting secara paham keagamaan harus sama dulu karena itu fondasi. Kalau fondasinya kuat, maka pengembangan sains, olahraga, seni, dan bidang lainnya akan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Hamzah optimistis pesantren akan terus menjadi salah satu pilar penting pendidikan Indonesia.
Dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman, pesantren dinilai memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu bersaing dalam berbagai bidang kehidupan modern.
“Pesantren yang maju adalah pesantren yang mampu membaca perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Itu yang sekarang banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang