KOMPAS.com – Indonesia kembali menjadi negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia pada musim haji 2026.
Dengan kuota lebih dari 221.000 orang, penyelenggaraan haji Indonesia melibatkan operasi pelayanan yang sangat kompleks, mulai dari proses keberangkatan, akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga pemulangan jemaah ke Tanah Air.
Namun, di tengah besarnya skala penyelenggaraan tersebut, muncul pertanyaan yang cukup banyak diperbincangkan publik.
Baca juga: Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
Mengapa Indonesia tidak masuk dalam daftar penerima Labbaytum Award 2026, penghargaan yang diberikan Kerajaan Arab Saudi kepada negara-negara dengan pelayanan haji terbaik?
Padahal, selama bertahun-tahun Indonesia dikenal memiliki pengalaman panjang dalam mengelola jutaan jemaah umrah dan ratusan ribu jemaah haji setiap musim.
Lalu, apa sebenarnya yang menjadi penyebab Indonesia belum berhasil meraih penghargaan tersebut?
Dilansir dari laman resmi AMPHURI, Labbaytum Award merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Penghargaan ini diberikan kepada negara, lembaga, maupun mitra pelayanan yang dinilai berhasil memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji berdasarkan standar yang ditetapkan pemerintah Saudi.
Labbaytum Award bukan sekadar penghargaan simbolik. Program ini merupakan bagian dari transformasi sektor haji dan umrah yang sedang dijalankan Arab Saudi dalam kerangka Visi Saudi 2030, sebuah agenda besar modernisasi pelayanan publik yang digagas kerajaan.
Melalui penghargaan tersebut, Saudi ingin mendorong terciptanya budaya kompetisi yang sehat antarnegara dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu Allah.
Jika dahulu keberhasilan haji lebih banyak diukur dari kelancaran operasional dan kepuasan jemaah, kini Saudi mulai menerapkan ukuran yang jauh lebih luas dan terintegrasi.
Baca juga: Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
Absennya Indonesia dari daftar penerima penghargaan bukan berarti kualitas pelayanan haji Indonesia buruk.
Menurut penjelasan Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama RI tahun 2025, Muchlis M Hanafi, Indonesia juga tidak memperoleh penghargaan serupa pada tahun sebelumnya.
Namun, hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan tingkat kepuasan jemaah haji Indonesia berada pada kategori sangat memuaskan.
Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas jemaah tetap memberikan penilaian positif terhadap pelayanan yang mereka terima selama menjalankan ibadah haji.
Artinya, tidak masuknya Indonesia dalam daftar penerima Labbaytum Award tidak dapat langsung diartikan sebagai kegagalan pelayanan.
Sebaliknya, terdapat perubahan indikator penilaian yang kini digunakan pemerintah Arab Saudi.
Perubahan paling mendasar terletak pada cara Saudi memandang keberhasilan penyelenggaraan haji.
Jika sebelumnya fokus lebih banyak tertuju pada hasil akhir berupa kepuasan jemaah, kini penilaian bergeser pada keseluruhan sistem tata kelola.
Mulai dari tahap perencanaan, kepatuhan terhadap regulasi, ketepatan pelaksanaan timeline, integrasi data, efektivitas koordinasi antarinstansi, inovasi pelayanan, hingga transformasi digital menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.
Dengan kata lain, Saudi tidak hanya menilai apakah jemaah merasa puas atau tidak.
Mereka juga melihat bagaimana negara penyelenggara mampu membangun sistem yang efisien, transparan, terintegrasi, dan adaptif terhadap perubahan.
Dalam konteks inilah, negara-negara yang berhasil melakukan reformasi tata kelola secara menyeluruh memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penghargaan.
Baca juga: Menhaj Evaluasi KKHI Madinah, Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif
Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dibanding banyak negara lain.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, jumlah jemaah yang diberangkatkan setiap tahun juga sangat besar.
Besarnya kuota membuat pengelolaan haji Indonesia menjadi salah satu operasi pelayanan publik paling kompleks di dunia.
Dalam buku Manajemen Haji dan Umrah karya Iskandar Zulkarnain dijelaskan bahwa semakin besar jumlah jemaah yang dilayani, semakin tinggi pula tingkat kompleksitas manajemen yang harus dijalankan.
Proses pelayanan tidak hanya menyangkut aspek ibadah, tetapi juga logistik, kesehatan, keamanan, administrasi, serta koordinasi lintas lembaga.
Kondisi tersebut membuat tantangan yang dihadapi Indonesia jauh lebih besar dibanding negara dengan jumlah jemaah yang lebih sedikit.
Faktor lain yang diduga memengaruhi penilaian adalah tingginya jumlah jemaah lanjut usia (lansia) dan kategori risiko tinggi (risti) dari Indonesia.
Sekretaris Jenderal AMPHURI, Zaky Zakariya Anshary, menilai karakteristik jemaah Indonesia berbeda dengan banyak negara lain.
Setiap tahun, Indonesia memberangkatkan ribuan jemaah lansia yang membutuhkan perhatian dan pelayanan ekstra.
Mereka memerlukan pendampingan kesehatan, mobilitas khusus, hingga pengawasan yang lebih intens selama menjalankan rangkaian ibadah.
Dalam buku Fiqih Haji dan Umrah karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa jemaah lansia memiliki kebutuhan pelayanan yang jauh lebih kompleks dibanding jemaah usia produktif karena kondisi fisik mereka lebih rentan terhadap cuaca ekstrem, kelelahan, maupun penyakit bawaan.
Besarnya jumlah lansia secara otomatis meningkatkan beban pelayanan yang harus disediakan penyelenggara.
Baca juga: Kunjungi Saudi German Hospital Madinah, Menhaj Evaluasi Layanan Kesehatan Jemaah Haji Indonesia
Arab Saudi saat ini juga sangat menekankan aspek digitalisasi dalam penyelenggaraan haji.
Berbagai layanan haji kini terhubung melalui sistem digital, mulai dari visa elektronik, pemetaan pergerakan jemaah, layanan kesehatan, hingga integrasi data antarinstansi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Saudi mendorong seluruh negara pengirim jemaah untuk menyesuaikan diri dengan ekosistem digital tersebut.
Negara yang mampu beradaptasi lebih cepat cenderung memperoleh penilaian lebih baik dalam sistem evaluasi terbaru.
Karena itulah, banyak pengamat menilai bahwa masa depan penyelenggaraan haji tidak hanya ditentukan oleh pengalaman panjang, tetapi juga kemampuan melakukan inovasi dan transformasi teknologi.
Meski belum meraih Labbaytum Award, Indonesia tetap memiliki sejumlah keunggulan yang diakui dunia.
Pengalaman puluhan tahun mengelola jutaan jemaah, sistem bimbingan manasik yang luas, jaringan petugas yang besar, serta dukungan masyarakat yang kuat menjadi modal penting.
Indonesia juga memiliki konsep Tri Sukses Haji yang selama ini menjadi acuan penyelenggaraan.
Konsep tersebut meliputi sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses peradaban dan keadaban jemaah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berfokus pada aspek teknis pelayanan, tetapi juga dampak sosial dan spiritual dari penyelenggaraan haji.
Absennya Indonesia dari daftar penerima Labbaytum Award 2026 dapat dipandang sebagai momentum evaluasi, bukan kegagalan.
Standar penyelenggaraan haji global saat ini sedang berubah. Fokusnya tidak lagi hanya pada kepuasan jemaah, tetapi juga pada kualitas tata kelola secara menyeluruh.
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan pengalaman maupun prestasi.
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam sistem pelayanan yang semakin modern, terintegrasi, berbasis data, dan sesuai dengan standar global yang berkembang.
Dengan jumlah jemaah terbesar di dunia dan pengalaman panjang dalam penyelenggaraan haji, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas tata kelola sekaligus bersaing dalam penghargaan internasional di masa mendatang.
Pada akhirnya, penghargaan memang penting. Namun yang jauh lebih utama adalah memastikan setiap jemaah dapat menunaikan ibadah dengan aman, nyaman, sehat, dan memperoleh pelayanan terbaik selama menjadi tamu Allah di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang