KOMPAS.com – Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa seolah berjalan sendirian. Doa-doa belum terlihat jawabannya, masalah datang bertubi-tubi, rezeki terasa sempit, dan hati dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit orang mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa ujian datang silih berganti? Mengapa kesulitan belum juga berakhir? Apakah Allah masih mendengar doa-doanya?
Padahal, jauh sebelum manusia menghadapi berbagai persoalan hidup, Al-Qur'an telah memberikan jawaban.
Kitab suci umat Islam itu tidak hanya berisi hukum dan petunjuk ibadah, tetapi juga menjadi sumber penghiburan bagi hati yang sedang lelah.
Di antara pesan paling menenangkan dalam Al-Qur'an adalah janji-janji Allah SWT kepada hamba-Nya.
Janji yang mengingatkan bahwa setiap kesulitan memiliki hikmah, setiap ujian memiliki batas, dan setiap kesedihan tidak akan berlangsung selamanya.
Baca juga: Unik, Alquran Kuningan Abad 18 Jadi Koleksi Museum di Makkah
Dalam kitab Al-Hikam, ulama sufi besar Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan bahwa manusia sering kali mencari pertolongan ke mana-mana saat ditimpa kesulitan, tetapi lupa kepada Zat yang sebenarnya mengatur segala sesuatu.
Beliau menulis:
"Jangan mengadukan musibah kepada selain Allah, karena Allah-lah yang menurunkannya."
Menurut penjelasan Syekh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati dalam syarah Al-Hikam, setiap ujian yang datang sesungguhnya bertujuan mengembalikan manusia kepada Allah SWT.
Saat semua pintu terasa tertutup, manusia akan menyadari bahwa hanya Allah tempat bergantung yang tidak pernah mengecewakan.
Karena itulah, ketika hidup terasa berat, seorang Muslim dianjurkan untuk mengingat kembali janji-janji Allah dalam Al-Qur'an.
Baca juga: Rahasia di Balik Ujian Hidup: Allah Tak Bebani Hamba di Luar Kemampuan
Mungkin inilah ayat yang paling sering menjadi pegangan umat Islam ketika menghadapi cobaan hidup. Saat seseorang merasa tidak sanggup lagi memikul beban, Al-Qur'an mengingatkan bahwa Allah lebih mengetahui kapasitas hamba-Nya dibandingkan dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat.
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya." (QS Al-Baqarah: 286)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia.
Tidak ada ujian yang diberikan secara sia-sia atau melampaui batas kemampuan seseorang. Jika Allah mengizinkan suatu masalah hadir dalam hidup, maka pada saat yang sama Allah juga telah menyiapkan kekuatan untuk menghadapinya.
Banyak orang mampu melihat kesulitan, tetapi tidak semua mampu melihat kemudahan yang sedang dipersiapkan Allah di baliknya. Padahal Al-Qur'an memberikan jaminan yang sangat tegas.
Allah SWT berfirman:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
Fa inna ma‘al ‘usri yusrā. Inna ma‘al ‘usri yusrā.
Artinya: "Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." (QS Al-Insyirah: 5-6)
Menariknya, ayat ini diulang dua kali. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pengulangan tersebut merupakan penegasan bahwa satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan banyak kemudahan yang Allah siapkan.
Dalam buku La Tahzan (Jangan Bersedih) karya Aidh Al-Qarni disebutkan bahwa orang beriman tidak menilai hidup hanya dari keadaan saat ini, tetapi juga dari keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat.
Ada kalanya seseorang merasa tidak dipahami siapa pun. Kesedihan dipendam sendiri dan masalah tidak bisa diceritakan kepada orang lain.
Namun Al-Qur'an mengingatkan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
Wa laqad khalaqnal-insāna wa na‘lamu mā tuwaswisu bihī nafsuh, wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil-warīd.
Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS Qaf: 16)
Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa kesadaran akan kedekatan Allah merupakan salah satu sumber ketenangan terbesar bagi seorang mukmin.
Tidak ada air mata yang luput dari pengetahuan-Nya dan tidak ada doa yang hilang tanpa didengar.
Baca juga: Kisah Siti Hajar, Keteguhan Perempuan dalam Ujian Keimanan
Ketika doa belum terwujud sesuai harapan, sebagian orang mulai merasa putus asa. Padahal Allah telah menjanjikan bahwa Dia selalu mendengar dan mengabulkan doa hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ
Wa idzā sa'alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘watad-dā‘i idzā da‘ān.
Artinya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku." (QS Al-Baqarah: 186)
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa seorang Muslim tidak pernah rugi ketika berdoa.
Doa bisa dikabulkan secara langsung, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik menurut ilmu Allah.
Tidak semua musibah merupakan hukuman. Dalam banyak keadaan, ujian justru menjadi sarana penghapusan dosa dan peningkatan derajat seorang mukmin.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqshim minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, wa basysyirish-shābirīn.
Artinya: "Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 155)
Tentang orang-orang yang sabar itu, Allah berfirman:
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
Alladzīna idzā ashābat-hum mushībah qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.'" (QS Al-Baqarah: 156)
Kemudian Allah menjanjikan:
اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
Ulāika ‘alaihim shalawātum mir rabbihim wa rahmah wa ulāika humul muhtadūn.
Artinya: "Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS Al-Baqarah: 157)
Ketika menghadapi cobaan, pertolongan terbesar sesungguhnya adalah kebersamaan Allah.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Yā ayyuhalladzīna āmanusta‘īnū bish-shabri wash-shalāh, innallāha ma‘ash-shābirīn.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 153)
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebut sabar sebagai salah satu pilar utama keimanan karena dengannya seseorang mampu bertahan dalam ketaatan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi ujian.
Baca juga: Al-Baqarah 286: Ayat Penenang Saat Merasa Ujian Hidup Terasa Berat
Kesabaran tidak hanya mendatangkan ketenangan di dunia, tetapi juga balasan yang luar biasa di akhirat.
Allah SWT berfirman:
وَجَزٰىهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًاۙ
Wa jazāhum bimā shabarū jannatan wa harīrā.
Artinya: "Dia memberikan balasan kepada mereka atas kesabarannya berupa surga dan pakaian sutra." (QS Al-Insan: 12)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap kesedihan yang ditanggung dengan sabar tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
Janji Allah berikutnya bahkan lebih menakjubkan. Jika pahala amal lain memiliki ukuran tertentu, maka pahala kesabaran diberikan tanpa batas.
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Innamā yuwaffash-shābirūna ajrahum bighairi hisāb.
Artinya: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan." (QS Az-Zumar: 10)
Menurut Tafsir Al-Qurthubi, tidak disebutkannya jumlah pahala menunjukkan begitu besarnya ganjaran yang Allah siapkan bagi mereka yang tetap teguh dalam menghadapi ujian hidup.
Selain berbagai janji tersebut, Al-Qur'an juga menyimpan satu ayat yang oleh banyak ulama disebut sebagai ayat paling memberi harapan bagi manusia.
Allah SWT berfirman:
لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا
Lā taqnathū mir rahmatillāh, innallāha yaghfirudz-dzunūba jamī‘ā.
Artinya: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS Az-Zumar: 53)
Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya melihat besarnya masalah. Ingatlah besarnya Allah yang mengatur masalah tersebut.
Sebab dalam setiap ujian, Allah tidak hanya mengirimkan beban, tetapi juga mengirimkan kekuatan, petunjuk, hikmah, dan harapan bagi siapa pun yang tetap bersandar kepada-Nya.
Dalam buku La Tahzan (Jangan Bersedih), Aidh Al-Qarni menulis bahwa banyak manusia tenggelam dalam kesedihan karena terlalu fokus pada masalah dan melupakan janji Allah.
Padahal Al-Qur'an berulang kali mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu lebih dekat daripada yang dibayangkan.
Kesulitan mungkin belum berakhir hari ini. Doa mungkin belum terjawab sesuai harapan. Jalan keluar mungkin belum terlihat jelas.
Namun seorang mukmin memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang: keyakinan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya melihat besarnya masalah. Ingatlah besarnya Allah yang mengatur masalah tersebut.
Sebab dalam setiap ujian, Allah tidak hanya mengirimkan beban. Dia juga mengirimkan kekuatan, petunjuk, dan harapan bagi siapa pun yang tetap bersandar kepada-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang