KOMPAS.com - Setiap kali bulan Muharram tiba, umat Islam di Indonesia tidak hanya menyambut datangnya tahun baru Hijriah.
Ada satu tradisi yang hampir selalu hadir di berbagai daerah, yaitu kegiatan santunan anak yatim.
Masjid, mushala, majelis taklim, lembaga zakat, hingga organisasi kemasyarakatan berlomba-lomba menggelar acara berbagi kepada anak-anak yatim, terutama pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura.
Fenomena ini begitu melekat sehingga banyak masyarakat menyebut tanggal 10 Muharram sebagai "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama". Sebutan tersebut bahkan sudah dikenal lintas generasi dan diwariskan secara turun-temurun.
Namun muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji. Mengapa Muharram identik dengan anak yatim? Apakah ada dalil khusus yang memerintahkan santunan anak yatim pada tanggal 10 Muharram?
Ataukah tradisi tersebut merupakan bentuk budaya Islam yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Muslim?
Untuk memahami hal tersebut, perlu ditelusuri sejarahnya, dasar keagamaannya, serta bagaimana para ulama memandang tradisi yang telah mengakar kuat di Indonesia ini.
Baca juga: Mengenal Bulan Muharram, Pembuka Tahun Hijriah yang Mulia dan Diharamkan untuk Berperang
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36.
Empat bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif karya ulama besar abad ke-8 Hijriah, Ibnu Rajab Al-Hanbali, dijelaskan bahwa Muharram merupakan bulan pembuka tahun Hijriah sekaligus salah satu waktu yang sangat istimewa untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."
Keutamaan inilah yang membuat umat Islam sejak masa awal Islam berusaha mengisi bulan Muharram dengan berbagai amal kebajikan.
Baca juga: Puasa Asyura Hapus Dosa Setahun, Ini Keutamaan 10 Muharram
Ketika membahas hubungan Muharram dengan anak yatim, banyak ulama mengaitkannya dengan keteladanan Rasulullah SAW sendiri.
Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum Nabi dilahirkan. Ketika berusia enam tahun, Nabi kembali kehilangan ibundanya, Siti Aminah.
Sejak kecil beliau merasakan secara langsung kehidupan sebagai anak yatim.
Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa pengalaman masa kecil tersebut membentuk karakter Nabi menjadi pribadi yang sangat peduli terhadap kelompok lemah, termasuk fakir miskin, janda, dan anak yatim.
Karena itulah perhatian terhadap anak yatim menjadi salah satu tema yang paling sering muncul dalam Al-Qur'an maupun hadis.
Tidak kurang dari 23 ayat Al-Qur'an membahas tentang anak yatim, mulai dari perlindungan hak-haknya, larangan memakan hartanya, hingga anjuran untuk memperlakukannya dengan kasih sayang.
Perhatian Islam terhadap anak yatim sangat besar.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 220, Allah SWT berfirman:
"Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik."
Sementara dalam Surah Ad-Dhuha ayat 9 Allah memberikan peringatan:
"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa siapa pun yang pernah merasakan kelemahan hidup harus menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang mengalami keadaan serupa.
Pesan ini sangat dekat dengan perjalanan hidup Rasulullah SAW yang pernah menjadi yatim.
Islam tidak hanya memerintahkan untuk menjaga hak anak yatim, tetapi juga menjanjikan kemuliaan besar bagi orang yang merawat mereka.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
"Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini."
Kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah yang berdampingan.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang mengasuh, mendidik, dan memenuhi kebutuhan anak yatim dengan penuh kasih sayang.
Karena itu, perhatian kepada anak yatim bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ibadah yang memiliki nilai spiritual sangat tinggi.
Baca juga: Kalender Islam Juni 2026: Catat Tanggal 1 Muharram 1448 H dan Tahun Baru Islam
Di sinilah letak pembahasan yang sering menimbulkan pertanyaan.
Para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat hadis sahih yang secara tegas menetapkan tanggal 10 Muharram sebagai hari raya anak yatim.
Namun terdapat sejumlah riwayat yang menganjurkan memperluas kebaikan pada Hari Asyura, termasuk kepada anak yatim dan fakir miskin.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi disebutkan beberapa riwayat tentang keutamaan mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura.
Sebagian besar ahli hadis menilai riwayat-riwayat tersebut berstatus dhaif atau lemah. Meski demikian, para ulama menyatakan bahwa hadis dhaif dapat digunakan untuk mendorong amal-amal keutamaan (fadhail al-a'mal) selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.
Karena itulah tradisi berbagi kepada anak yatim pada 10 Muharram tetap berkembang luas di berbagai wilayah Muslim.
Sejarah mencatat bahwa Hari Asyura memiliki kedudukan khusus dalam Islam.
Menurut hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW berpuasa pada 10 Muharram karena hari tersebut merupakan hari diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Selain itu, sejumlah kitab sejarah Islam juga mencatat berbagai peristiwa penting yang diyakini terjadi pada Hari Asyura, seperti diterimanya taubat Nabi Adam AS dan berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS setelah banjir besar.
Berbagai peristiwa tersebut membuat Hari Asyura dipandang sebagai hari penuh keberkahan.
Dalam perkembangan budaya Islam, keberkahan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk memperbanyak amal sosial, termasuk memberi makan fakir miskin dan menyantuni anak yatim.
Dari sinilah lahir tradisi yang di Indonesia populer dengan nama Lebaran Anak Yatim.
Indonesia menjadi salah satu negara Muslim yang memiliki tradisi santunan anak yatim paling hidup ketika Muharram tiba.
Di berbagai daerah, kegiatan santunan biasanya diselenggarakan oleh masjid, pesantren, majelis taklim, organisasi keagamaan, hingga lembaga filantropi Islam.
Acara tersebut tidak hanya berupa pemberian uang atau sembako.
Sering kali kegiatan dikemas dalam bentuk pengajian, doa bersama, pembacaan shalawat, makan bersama, lomba anak-anak, hingga pemberian perlengkapan sekolah.
Tradisi ini berkembang kuat karena masyarakat memandang Muharram sebagai momentum untuk berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
Baca juga: Kapan Puasa 1 Muharram 1448 H? Catat Tanggal, Niat, dan Keutamaannya
Sejumlah ulama Nusantara memberikan perhatian terhadap tradisi ini.
KH Sholeh Darat dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah menyebut bahwa Hari Asyura merupakan waktu yang baik untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan.
Sementara sejumlah ulama Nahdlatul Ulama menilai tradisi santunan anak yatim pada Muharram sebagai bentuk pelaksanaan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat baik.
Di sisi lain, sebagian ulama Muhammadiyah mengingatkan bahwa tidak ada ketentuan syariat yang mewajibkan santunan hanya pada 10 Muharram. Menurut mereka, menyantuni anak yatim dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun.
Meski demikian, kedua pandangan tersebut bertemu pada satu titik yang sama, yaitu pentingnya menjaga dan memuliakan anak yatim.
Di tengah kehidupan modern, keberadaan anak yatim masih menjadi perhatian besar.
Data berbagai lembaga sosial menunjukkan bahwa banyak anak yatim menghadapi tantangan ekonomi, pendidikan, dan psikologis setelah kehilangan orang tua.
Karena itu, tradisi Muharram menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.
Tradisi ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan anak-anak.
Saat mereka mendapatkan perhatian, diajak bermain, diberi hadiah, dan didoakan bersama, mereka merasakan bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap masa depan mereka.
Salah satu manfaat terbesar dari tradisi Lebaran Anak Yatim adalah nilai edukasinya.
Anak-anak yang ikut menyaksikan atau terlibat dalam kegiatan santunan belajar tentang empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Mereka memahami bahwa Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga kepedulian terhadap sesama manusia.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia akan menjadi lembut ketika terbiasa melihat dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Pesan ini sangat relevan dengan tradisi santunan anak yatim yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Meskipun identik dengan anak yatim, Muharram sesungguhnya memiliki banyak amalan utama lainnya.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Asyura pada 10 Muharram dan puasa Tasu'a pada 9 Muharram.
Selain itu, Muharram menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri karena merupakan awal tahun baru Hijriah.
Dengan demikian, santunan anak yatim sebaiknya dipahami sebagai salah satu bentuk amal saleh yang melengkapi berbagai ibadah lainnya.
Muharram identik dengan anak yatim bukan karena adanya dalil sahih yang menetapkan Hari Asyura sebagai hari raya anak yatim, melainkan karena kuatnya ajaran Islam tentang pentingnya memuliakan mereka.
Tradisi yang berkembang di Indonesia merupakan perpaduan antara nilai-nilai agama, keteladanan Rasulullah SAW, dan budaya gotong royong masyarakat Muslim.
Selama berabad-abad, tradisi ini telah menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial sekaligus menghidupkan pesan-pesan kemanusiaan dalam Islam.
Di balik santunan yang diberikan, tersimpan makna yang jauh lebih besar, yakni mengingatkan umat bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah pribadinya, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.
Muharram pada akhirnya bukan sekadar penanda pergantian tahun Hijriah. Ia adalah pengingat bahwa kasih sayang kepada anak yatim merupakan salah satu jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT dan teladan yang diwariskan langsung oleh Rasulullah SAW kepada umatnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang