Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam

Kompas.com, 17 Juni 2026, 14:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Selama berabad-abad, Danau Issyk-Kul di Kirgistan menyimpan misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Di balik permukaan airnya yang tenang, para peneliti meyakini terdapat jejak sebuah kota kuno yang pernah menjadi pusat perdagangan penting di Jalur Sutra.

Kini, misteri yang hilang selama lebih dari enam abad itu perlahan mulai terungkap.

Tim arkeolog internasional berhasil menemukan sisa-sisa permukiman besar abad pertengahan yang tenggelam di dasar Danau Issyk-Kul.

Temuan tersebut tidak hanya mengungkap sejarah perdagangan kuno Asia Tengah, tetapi juga memperlihatkan jejak kuat peradaban Islam yang pernah berkembang di kawasan tersebut.

Baca juga: Jejak Kerajaan Nabi Sulaiman Mulai Terungkap? Temuan Arkeologi Ini Bikin Ilmuwan Terkejut

Dilansir dari Heritage Daily, Rabu (17/6/2026), penelitian dilakukan melalui eksplorasi arkeologi bawah air di kawasan perairan dangkal Danau Issyk-Kul dengan kedalaman antara satu hingga empat meter.

Penelitian tersebut merupakan kolaborasi antara Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan Akademi Ilmu Pengetahuan Kirgistan yang bertujuan memetakan kembali situs-situs kuno yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan danau.

Penemuan ini langsung menarik perhatian kalangan akademisi dunia karena memberikan gambaran baru tentang kehidupan masyarakat Jalur Sutra yang selama ini hanya diketahui melalui catatan sejarah dan temuan arkeologi di daratan.

Kota yang Hilang di Dasar Danau

Danau Issyk-Kul dikenal sebagai salah satu danau terbesar di Asia Tengah. Terletak di kaki Pegunungan Tian Shan, kawasan ini sejak dahulu menjadi titik penting dalam jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan China, Asia Tengah, Timur Tengah, hingga Eropa.

Selama berabad-abad para sejarawan menduga terdapat sejumlah kota besar yang pernah berdiri di sekitar danau tersebut.

Namun sebagian kota itu menghilang tanpa jejak dan hanya tersisa dalam catatan perjalanan para pedagang serta kronik sejarah kuno.

Melalui penggunaan drone bawah air, pemetaan sonar, penyelaman langsung, dan pengeboran arkeologi, para peneliti akhirnya berhasil mengidentifikasi empat bagian permukiman yang tenggelam.

Ekspedisi yang dipimpin Maxim Menshikov dan Valery Kolchenko berfokus pada kompleks Toru-Aygyr yang berada di pesisir barat laut Danau Issyk-Kul.

Di lokasi tersebut ditemukan berbagai struktur bangunan yang menunjukkan keberadaan sebuah kota besar dengan tata ruang yang terorganisasi.

Para arkeolog mendokumentasikan jalan-jalan kuno, dinding bata bakar, area produksi, bangunan publik, hingga berbagai fasilitas yang menunjukkan aktivitas ekonomi yang berkembang pesat pada masanya.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan itu pernah menjadi salah satu pusat perdagangan utama di Jalur Sutra.

Baca juga: Menguak Sejarah Sumur Ghars: Sumber Air Kesukaan Rasulullah SAW

Jalur Sutra, Nadi Perdagangan Dunia Kuno

Jalur Sutra bukan sekadar rute perdagangan biasa. Selama lebih dari seribu tahun, jaringan jalur darat dan laut ini menjadi penghubung berbagai peradaban besar dunia.

Dalam buku The Silk Roads: A New History of the World karya Peter Frankopan dijelaskan bahwa Jalur Sutra merupakan urat nadi pertukaran barang, budaya, agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang menghubungkan Timur dan Barat.

Melalui jalur inilah sutra dari China, rempah-rempah dari Asia Tenggara, logam mulia dari Asia Tengah, hingga berbagai manuskrip keilmuan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Karena posisinya yang strategis, kota-kota yang berada di sepanjang Jalur Sutra berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat peradaban.

Danau Issyk-Kul termasuk salah satu kawasan penting dalam jaringan tersebut karena menjadi titik persinggahan para pedagang yang melakukan perjalanan lintas benua.

Jejak Peradaban Islam yang Mengejutkan

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bukti kuat keberadaan komunitas Muslim yang pernah hidup dan berkembang di kawasan tersebut.

Para peneliti menemukan indikasi bangunan yang diduga merupakan masjid, pemandian umum, serta madrasah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa kota kuno itu bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan keagamaan.

Yang lebih mencengangkan, para arkeolog menemukan kompleks pemakaman Muslim seluas sekitar 14 hektare yang berada dalam kawasan warisan Jalur Sutra UNESCO.

Beberapa makam masih memperlihatkan pola penguburan yang sesuai dengan tradisi Islam, termasuk orientasi posisi jenazah yang menghadap kiblat.

Sebagian makam bahkan mulai terlihat akibat erosi yang terjadi selama ratusan tahun karena aktivitas gelombang dan perubahan lingkungan danau.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana Islam telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Asia Tengah pada masa abad pertengahan.

Dalam buku The Venture of Islam karya Marshall G.S. Hodgson dijelaskan bahwa Asia Tengah merupakan salah satu wilayah yang memainkan peran besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kebudayaan Islam ke berbagai penjuru dunia.

Banyak ulama, ilmuwan, dan pedagang Muslim lahir dari kawasan tersebut dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban Islam global.

Baca juga: Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam

Sebelum Islam: Wilayah yang Multikultural

Penelitian juga mengungkap bahwa sebelum Islam berkembang luas, kawasan Issyk-Kul merupakan wilayah yang sangat multikultural.

Berbagai tradisi keagamaan hidup berdampingan di sepanjang Jalur Sutra.

Sejarawan mencatat bahwa masyarakat setempat pernah dipengaruhi oleh kepercayaan Tengrisme, Buddhisme, hingga Kristen Nestorian.

Hal ini sejalan dengan karakter Jalur Sutra yang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya dan keyakinan.

Dalam buku Empires of the Silk Road karya Christopher I. Beckwith dijelaskan bahwa Asia Tengah merupakan wilayah pertemuan beragam bangsa yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya secara intensif.

Ketika Islam mulai berkembang di kawasan tersebut, agama ini tidak hanya membawa perubahan spiritual, tetapi juga mendorong pertumbuhan pendidikan, perdagangan, dan kehidupan perkotaan.

Diduga Tenggelam Akibat Gempa Besar

Lalu bagaimana kota besar itu bisa hilang? Para peneliti menduga bencana alam menjadi penyebab utama tenggelamnya permukiman tersebut.

Danau Issyk-Kul berada di kawasan yang aktif secara tektonik karena berada dekat dengan rangkaian Pegunungan Tian Shan.

Berdasarkan analisis awal, kota tersebut kemungkinan runtuh akibat gempa bumi besar yang terjadi pada awal abad ke-15.

Gempa itu diduga menyebabkan sebagian kawasan pesisir turun dan akhirnya terendam air danau.

Seiring berjalannya waktu, bangunan-bangunan yang tersisa tertutup lapisan sedimen hingga menghilang dari permukaan selama ratusan tahun.

Untuk memastikan teori tersebut, para ilmuwan kini melakukan analisis lingkaran tahun pada kayu atau tree-ring analysis serta penanggalan radiokarbon terhadap berbagai material organik yang ditemukan di lokasi.

Metode ini diharapkan dapat membantu menentukan waktu pasti terjadinya bencana yang menyebabkan kota tersebut tenggelam.

Baca juga: Isi Kabah yang Jarang Diketahui, Ada Ruang Sederhana Bermakna Sejarah dan Spiritual

Mengungkap Kehidupan Masyarakat Abad Pertengahan

Selain meneliti struktur bangunan, para ilmuwan juga mempelajari sisa-sisa kerangka manusia yang ditemukan di kawasan pemakaman.

Analisis laboratorium diharapkan mampu mengungkap asal-usul penduduk, pola makan, kondisi kesehatan, hingga hubungan perdagangan yang mereka bangun dengan wilayah lain.

Data tersebut akan membantu para peneliti memahami bagaimana masyarakat Jalur Sutra hidup, bekerja, beribadah, dan berinteraksi satu sama lain.

Temuan ini penting karena memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat yang selama ini hanya dikenal melalui catatan sejarah.

Warisan Peradaban yang Masih Menunggu Terungkap

Meski telah menemukan banyak bukti penting, para arkeolog meyakini masih banyak rahasia yang tersimpan di dasar Danau Issyk-Kul.

Penelitian lanjutan terus dilakukan untuk mendokumentasikan kawasan perdagangan, permukiman, serta fasilitas publik yang pernah menjadi bagian dari kota kuno tersebut.

Setiap artefak yang berhasil ditemukan berpotensi membuka lembaran baru sejarah Jalur Sutra dan peradaban Islam di Asia Tengah.

Penemuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Jalur Sutra bukan hanya jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah dunia, tetapi juga ruang pertemuan peradaban yang melahirkan pertukaran ilmu pengetahuan, budaya, dan agama.

Di bawah permukaan Danau Issyk-Kul yang tenang, jejak kejayaan masa lalu itu ternyata masih tersimpan. Dan sedikit demi sedikit, sejarah yang hilang selama ratusan tahun mulai kembali berbicara kepada dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret
Hati-hati, Niat Tak Membayar Utang Bisa Membuat Rezeki Seret
Aktual
Niat Shalat Qashar Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Niat Shalat Qashar Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Doa dan Niat
Niat Shalat Jamak Taqdim dan Jamak Takhir Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Niat Shalat Jamak Taqdim dan Jamak Takhir Lengkap dengan Tata Cara serta Syaratnya
Doa dan Niat
Madinah Bertransformasi Pesat, Dikunjungi 21 Juta Wisatawan dalam Setahun
Madinah Bertransformasi Pesat, Dikunjungi 21 Juta Wisatawan dalam Setahun
Aktual
Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Aktual
Ada Kalimat Syahadat, FIFA Perlakukan Bendera Arab Saudi Secara Khusus
Ada Kalimat Syahadat, FIFA Perlakukan Bendera Arab Saudi Secara Khusus
Aktual
HUT Jakarta ke-499, Haul Akbar Ulama Betawi Siap Digelar di Monas
HUT Jakarta ke-499, Haul Akbar Ulama Betawi Siap Digelar di Monas
Aktual
142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
142 Jemaah Haji Sakit Dipulangkan Lewat Tanazul, Ini Prosesnya
Aktual
Bolehkah Melagukan Bacaan Al-Quran? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Melagukan Bacaan Al-Quran? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam
Arkeolog Temukan Kota Jalur Sutra Tenggelam, Ada Jejak Peradaban Islam
Aktual
Menapaki Jejak Rasulullah Saat Perang Badar dan Lokasi Jabal Malaikat
Menapaki Jejak Rasulullah Saat Perang Badar dan Lokasi Jabal Malaikat
Aktual
7 Cara Allah SWT Menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Saat Isra Miraj
7 Cara Allah SWT Menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, Salah Satunya Saat Isra Miraj
Aktual
Menhaj Sambut 375 Jemaah Haji Surabaya, Koridor Biometrik Resmi Digunakan
Menhaj Sambut 375 Jemaah Haji Surabaya, Koridor Biometrik Resmi Digunakan
Aktual
Apakah Berdoa Harus Menggunakan Bahasa Arab? Ini Penjelasan MUI
Apakah Berdoa Harus Menggunakan Bahasa Arab? Ini Penjelasan MUI
Doa dan Niat
Niat dan Doa Shalat Hajat Lengkap, Amalan Sunnah untuk Memohon Kemudahan kepada Allah
Niat dan Doa Shalat Hajat Lengkap, Amalan Sunnah untuk Memohon Kemudahan kepada Allah
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com