KOMPAS.com - Kerajaan Nabi Sulaiman AS selama berabad-abad berada di wilayah yang samar antara keyakinan agama dan penelitian ilmiah.
Dalam tradisi Islam, Nabi Sulaiman dikenal sebagai nabi sekaligus raja dengan kekuasaan yang luar biasa luas.
Namun, dalam kajian arkeologi modern, keberadaan dan skala kerajaan tersebut lama dianggap sulit dibuktikan secara material.
Belakangan, sejumlah temuan arkeologi dan kajian epigrafi mulai memberikan gambaran yang lebih konkret.
Hubungan antara Kerajaan Nabi Sulaiman dan Kerajaan Saba yang dipimpin Ratu Balqis kini tidak lagi dipandang semata sebagai kisah simbolik, melainkan bagian dari jaringan politik dan perdagangan dunia kuno.
Dalam Islam, Nabi Sulaiman AS adalah putra Nabi Daud AS yang mewarisi kenabian sekaligus kekuasaan. Hal ini ditegaskan dalam Al Quran:
Wa waritsa Sulaimānu Dāwūd.
“Dan Sulaiman mewarisi Daud.” (QS. An-Naml: 16)
Ayat ini menunjukkan bahwa warisan yang diterima Nabi Sulaiman bukan hanya garis keturunan, tetapi juga kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai nabi dan raja.
Dalam Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Kerajaan Nabi Sulaiman mencapai puncak kemakmuran karena dijalankan dengan hukum Allah.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil, tegas, dan bijaksana, serta tidak memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman AS: Pemimpin Bijak dengan Karunia Besar
Keistimewaan Nabi Sulaiman ditegaskan dalam doa yang diabadikan Al Quran:
Rabbi hab li mulkan laa yanbaghii li ahadin min ba‘dii.
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku.” (QS. Shad: 35)
Para mufasir, termasuk Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, menjelaskan bahwa doa ini dikabulkan Allah dengan memberikan Nabi Sulaiman kemampuan menundukkan jin, memahami bahasa hewan, serta mengendalikan angin sebagai sarana mobilitas kerajaan.
Keterangan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Nabi Sulaiman bukan kerajaan biasa, melainkan kerajaan dengan sistem pemerintahan yang sangat terorganisir dan berpengaruh luas.
Al Quran menceritakan secara rinci hubungan Nabi Sulaiman dengan Kerajaan Saba dalam Surah An-Naml.
Saba digambarkan sebagai negeri makmur dengan sistem pemerintahan kuat, dipimpin oleh seorang ratu yang cerdas dan berwibawa.
Allah SWT berfirman:
Innii wajadtu imra’atan tamlikuhum wa uutiat min kulli syai’.
“Sesungguhnya aku mendapati seorang perempuan yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu.” (QS. An-Naml: 23)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Ratu Balqis memimpin negeri yang kaya hasil bumi dan perdagangan, tetapi menyembah matahari.
Nabi Sulaiman tidak langsung memeranginya, melainkan mengajak dengan dakwah dan diplomasi.
Baca juga: Kumpulan Doa Nabi Sulaiman dalam Islam dan Penjelasannya
Perdebatan tentang apakah Kerajaan Nabi Sulaiman benar-benar ada secara historis terus berlangsung.
Namun, penelitian yang dilakukan oleh Ben-Gurion University of the Negev dan dipublikasikan dalam Jerusalem Journal of Archaeology pada Januari 2023 memberikan perspektif baru.
Mengutip laporan Live Science, para peneliti berhasil menguraikan prasasti berbahasa Arab Selatan Kuno (Sabaean) yang ditemukan di wilayah Ophel, dekat Yerusalem.
Prasasti tersebut tertulis pada sebuah guci yang berisi labdanum, getah aromatik bernilai tinggi pada zaman kuno.
Daniel Vainstub, peneliti utama, menjelaskan bahwa keberadaan bahasa Sabaean di wilayah Israel menunjukkan adanya hubungan langsung antara Kerajaan Saba dan pemerintahan di Yerusalem pada masa Raja Sulaiman.
Dalam dunia kuno, perdagangan dupa dan rempah-rempah merupakan komoditas strategis. Kerajaan Saba dikenal sebagai pusat produksi dupa, sementara Kerajaan Nabi Sulaiman menguasai jalur perdagangan dari Arabia menuju Laut Mediterania.
Dalam buku Dhofar Through the Ages: An Ecological, Archaeological and Historical Landscape karya Juris Zarins, dijelaskan bahwa kekuatan politik di Jazirah Arab dan Levant kuno sangat ditentukan oleh kendali jalur dagang.
Kerajaan yang menguasai rute perdagangan otomatis memiliki pengaruh ekonomi dan diplomatik.
Hal ini selaras dengan keterangan Al Quran bahwa Kerajaan Nabi Sulaiman memiliki jaringan kekuasaan luas dan terorganisir.
Kendali atas perdagangan menjelaskan bagaimana hubungan antara Sulaiman dan Saba bersifat diplomatis, bukan semata konflik.
Sebagian arkeolog modern masih berhati-hati dalam menyimpulkan skala Kerajaan Nabi Sulaiman.
Namun, dalam buku Archaeology: History Beneath Solomon's City karya Steven Ortiz, disebutkan bahwa bukti arsitektur, tembikar, dan sistem administrasi pada abad ke-10 SM menunjukkan adanya pemerintahan terpusat yang kuat.
Islam tidak memisahkan antara kekuasaan spiritual dan politik Nabi Sulaiman. Dalam Tahdzib Ibnu Asakir, Al-Hafiz Ibnu Asakir menegaskan bahwa Nabi Sulaiman adalah nabi sekaligus raja yang memerintah dengan hukum Allah.
Baca juga: Doa Nabi Sulaiman untuk Mengusir Semut di Rumah, Lengkap dengan Bacaan Arab dan Artinya
Al Quran tidak diturunkan sebagai buku sejarah atau arkeologi, tetapi sebagai petunjuk. Namun, ketika sains modern mulai menemukan fragmen yang selaras dengan kisah wahyu, dialog antara iman dan ilmu pun terbuka.
Allah SWT berfirman:
Sanuriihim aayaatinaa fil aafaaqi wa fii anfusihim.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.” (QS. Fussilat: 53)
Ayat ini sering dikutip oleh para ulama sebagai penegasan bahwa kebenaran wahyu akan terus terungkap seiring berkembangnya pengetahuan manusia.
Meski sejumlah bukti mulai bermunculan, Kerajaan Nabi Sulaiman AS tetap menyimpan banyak teka-teki.
Di mana tepat istananya berdiri, seberapa luas wilayah kekuasaannya, dan bagaimana sistem pemerintahannya secara detail masih menjadi kajian panjang.
Namun, dalam perspektif Islam, nilai terpenting dari kisah Nabi Sulaiman bukan semata kemegahan kerajaan, melainkan bagaimana kekuasaan dijalankan dengan keadilan, kebijaksanaan, dan ketundukan kepada Allah SWT.
Di antara wahyu dan sains, kisah Kerajaan Nabi Sulaiman terus hidup, bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai cermin tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang