Editor
KOMPAS.com - Al-Battani adalah ilmuwan Muslim yang pertama kali menghitung jumlah hari dalam setahun.
Temuannya tentang panjang hari dalam setahun menjadi fondasi penting bagi sistem kalender dan ilmu astronomi.
Perhitungan ini kemudian memengaruhi ilmuwan Barat hingga pembaruan kalender dunia.
Hingga kini, warisan pemikiran Al-Battani masih digunakan dalam perhitungan waktu global.
Diberitakan Kompas.com (10/4/2022), berikut profil singkat Al-Battani dan ulasan penemuannya, seperti dirangkum dari buku Gunadi, R.A. (2003) yang berjudul “Dari Penakluk Jerusalem hingga Angka Nol”.
Baca juga: 10 Ilmuwan Muslim Abad Klasik yang Jarang Diketahui
Al-Battani dikenal sebagai ahli astronomi dan matematikawan Muslim yang hidup pada abad ke-9 hingga awal abad ke-10.
Ia lahir sekitar tahun 858 di Harran, dekat Urfa, wilayah Turki saat ini, dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Jabir bin Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Battani.
Sejak kecil, Al-Battani telah akrab dengan kajian ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, yang juga digeluti oleh ayahnya.
Ketertarikan ini mendorongnya untuk menekuni pengamatan benda-benda langit secara serius.
Ketika berusia sekitar 20 tahun, keluarga Al-Battani pindah ke Raqqah.
Di kota inilah ia semakin mendalami astronomi dan mulai melakukan pengamatan sistematis.
Ia mempelajari naskah-naskah kuno karya Ptolemy, yang menjadi rujukan utama astronomi pada masanya.
Kajian tersebut justru mendorong Al-Battani untuk menguji ulang teori-teori lama melalui observasi langsung.
Ia tidak sekadar menyalin pemikiran pendahulunya, tetapi mengembangkannya dengan data yang lebih presisi.
Salah satu temuan penting Al-Battani adalah mengenai aphelium, yakni titik terjauh Bumi dari Matahari dalam orbit tahunannya.
Ia menemukan bahwa posisi diameter Matahari berbeda dari penjelasan Ptolemy maupun teori astronom Yunani sebelumnya.
Penelitian Al-Battani berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya ketika pemerintahan berada di bawah kepemimpinan Harun al-Rashid.
Pada era ini, naskah-naskah ilmiah dari berbagai peradaban dikumpulkan dan diterjemahkan, membuka ruang bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Melalui pengamatan berkelanjutan, Al-Battani juga berhasil memperbaiki perhitungan kemiringan sumbu Bumi yang sebelumnya kurang akurat.
Puncak kontribusi Al-Battani adalah temuannya bahwa panjang satu tahun adalah 365,24 hari.
Angka ini dinilai sangat akurat untuk ukuran teknologi abad pertengahan dan menjadi tonggak penting dalam astronomi.
Selain itu, sejak sekitar tahun 918, Al-Battani juga menaruh perhatian besar pada matematika.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang memperkenalkan dan mengembangkan penggunaan trigonometri dalam kajian ilmiah.
Pemikiran dan karya Al-Battani terangkum dalam kitab al-Zij, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi rujukan ilmuwan Eropa.
Karyanya dikutip oleh banyak tokoh, termasuk Nicolaus Copernicus.
Penentuan jumlah hari setahun oleh Al-Battani juga digunakan oleh Christopher Clavius dalam penyempurnaan kalender Julian.
Atas persetujuan Pope Gregory XIII, kalender tersebut direformasi dan dikenal sebagai kalender Gregorian yang mulai digunakan sejak 1582 hingga sekarang.
Al-Battani wafat pada tahun 929 dalam perjalanan dari Qar al-Jiss, Irak, menuju Baghdad.
Meski demikian, warisan ilmunya terus hidup dan menjadikannya dikenal sebagai salah satu astronom terbesar dalam sejarah Islam.
Penemuannya tentang panjang tahun dan kontribusinya dalam astronomi serta matematika menegaskan peran penting ilmuwan Muslim dalam membentuk fondasi ilmu pengetahuan modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang