KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, mimbar-mimbar masjid mulai dipenuhi dengan pesan persiapan spiritual.
Para khatib memiliki peran strategis untuk mengingatkan jemaah bahwa Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur, melainkan momentum besar untuk menata ulang iman, akhlak, dan hubungan sosial.
Khutbah Jumat menjelang Ramadhan menjadi pintu masuk penting untuk membangun kesadaran kolektif umat.
Melalui khutbah inilah jamaah diajak memahami makna Ramadhan secara utuh, menyiapkan diri secara ruhani, serta membangun komitmen agar ibadah di bulan suci tidak berlalu tanpa bekas.
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Siap
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan itulah sebaik-baik bekal hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Waktu terus berjalan, hari demi hari berlalu tanpa terasa. Tidak lama lagi, bulan suci Ramadhan akan kembali hadir menyapa kita. Bulan yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman. Bulan yang Allah muliakan di atas bulan-bulan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
«أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ النَّارِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ»
(HR. Ahmad)
Artinya: Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Namun, jemaah yang dirahmati Allah, pertanyaan pentingnya adalah: apakah Ramadhan benar-benar kita sambut dengan kesiapan hati?
Ataukah Ramadhan hanya kita pandang sebagai rutinitas tahunan yang datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas dalam kehidupan?
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan membentuk ketakwaan. Ramadhan datang untuk mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan berperilaku.
Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah, Ramadhan mengajarkan kesabaran.
Jika sebelumnya kita lalai dari shalat, Ramadhan mengajak kita kembali ke masjid.
Jika sebelumnya hati kita keras, Ramadhan hadir untuk melunakkannya.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Puasa Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tetapi ibadah batin. Rasulullah SAW mengingatkan:
«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ»
(HR. Ibnu Majah)
Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.
Hadis ini menjadi peringatan bagi kita semua, agar Ramadhan tidak berlalu sia-sia. Puasa yang tidak disertai penjagaan lisan, pandangan, dan perbuatan hanya akan melelahkan tubuh, tetapi tidak menyucikan jiwa.
Oleh karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar datang, marilah kita mulai mempersiapkan diri, membersihkan hati dengan taubat, meluruskan niat ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan pendidikan ruhani. Allah mendidik kita melalui lapar agar kita rendah hati, melalui shalat malam agar kita dekat dengan-Nya, dan melalui Al-Qur’an agar hidup kita terarah.
Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil.
(QS. Al-Baqarah: 185)
Maka Ramadhan seharusnya mendekatkan kita kembali kepada Al-Qur’an. Bukan hanya membacanya, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Marilah kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik kehidupan. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan. Jangan biarkan ia pergi tanpa meninggalkan bekas kebaikan dalam diri kita.
Semoga Ramadhan menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertakwa.
اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا عَلَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Memaknai Keutamaan Bulan Syaban
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
Aku wasiatkan kepada diriku sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Takwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Tidak lama lagi, kita akan kembali kedatangan tamu yang sangat agung, tamu yang hanya hadir sekali dalam setahun, tamu yang membawa ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Dialah bulan Ramadhan.
Namun, jujurlah pada diri kita sendiri.
Berapa kali Ramadhan datang…
lalu pergi…
tanpa benar-benar mengubah kita?
Ramadhan kita sambut dengan spanduk dan ucapan, tetapi hati kita belum siap.
Ramadhan kita isi dengan menu berbuka, tetapi ruh kita tetap lapar.
Ramadhan kita jalani dengan puasa, tetapi akhlak kita tidak berubah.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
«أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ النَّارِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ»
(HR. Ahmad)
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan puasa di dalamnya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jika pintu surga dibuka, mengapa kita tidak masuk?
Jika pintu neraka ditutup, mengapa maksiat masih kita lakukan?
Jika setan dibelenggu, mengapa dosa tetap merajalela?
Jawabannya sering kali pahit: karena yang membelenggu kita bukan setan, tetapi hawa nafsu kita sendiri.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. البقرة: 183)
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian agar kalian bertakwa.
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan tujuan, melainkan jalan.
Bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri.
Bukan sekadar menahan haus, tetapi menundukkan nafsu.
Bukan sekadar rutinitas, tetapi proses perubahan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Betapa sering Ramadhan hadir sebagai tamu agung, tetapi kita perlakukan seperti tamu biasa.
Ia kita sambut seadanya, kita sibukkan dengan urusan dunia, lalu kita lepaskan tanpa rasa kehilangan.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan dengan sangat keras:
«مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ»
(HR. الطبراني)
Barang siapa mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya, maka sungguh Allah menjauhkannya.
Ini peringatan serius, bahwa menyia-nyiakan Ramadhan adalah kerugian besar, kerugian yang tidak tergantikan.
Oleh karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar datang, mari kita bertanya pada diri sendiri:
apakah kita siap menyambutnya sebagai tamu agung,
atau kita akan kembali mengabaikannya seperti tahun-tahun sebelumnya?
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ramadhan adalah bulan pendidikan jiwa. Di dalamnya Allah mendidik kita agar menjadi manusia yang lebih bersih, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(QS. البقرة: 185)
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Maka jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa Al-Qur’an di tangan dan di hati kita. Jangan biarkan Ramadhan pergi tanpa doa, tanpa taubat, tanpa perubahan nyata.
Jika Ramadhan adalah tamu agung, maka sambutlah ia dengan:
taubat yang sungguh-sungguh,
niat ibadah yang lurus,
dan tekad untuk berubah menjadi hamba yang lebih baik.
Semoga Ramadhan tahun ini bukan Ramadhan yang kita abaikan, tetapi Ramadhan yang mengubah arah hidup kita.
اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ، وَاجْعَلْنَا فِيْهِ مِنَ الْمَغْفُوْرِ لَهُمْ وَالْمُعْتَقِيْنَ مِنَ النَّارِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
Aku wasiatkan kepada diriku sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang tidak hanya tampak dalam ibadah lahir, tetapi juga hidup dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan yang sangat mulia, bulan yang sejak awal ditetapkan Allah sebagai bulan Al-Qur’an, yaitu bulan Ramadhan. Namun, sebuah kenyataan yang harus kita akui bersama adalah bahwa hubungan kita dengan Al-Qur’an, khususnya di bulan Ramadhan, mulai terasa renggang.
Ramadhan datang, tetapi Al-Qur’an tetap tertutup.
Ramadhan tiba, tetapi ayat-ayat Allah jarang dibaca, apalagi direnungi.
Ramadhan hadir, tetapi waktu kita lebih banyak tersita oleh layar gawai daripada mushaf Al-Qur’an.
Padahal Allah SWT berfirman dengan sangat jelas:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(QS. البقرة: 185)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil.
Ayat ini menegaskan bahwa identitas utama Ramadhan adalah Al-Qur’an. Tanpa Al-Qur’an, Ramadhan kehilangan ruhnya. Puasa tanpa Al-Qur’an hanya akan menjadi rutinitas menahan lapar dan haus, bukan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam memuliakan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
(HR. البخاري ومسلم)
Rasulullah adalah manusia paling dermawan, dan beliau paling dermawan di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an.
Para ulama menjelaskan, Jibril menemui Rasulullah setiap malam Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an, mengulang ayat demi ayat. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah waktu mempererat hubungan dengan Al-Qur’an, bukan menjauhinya.
Namun hari ini, banyak di antara kita yang justru membaca Al-Qur’an sekadarnya, bahkan ada yang hanya membuka mushaf saat Ramadhan tiba, lalu menutupnya kembali ketika Ramadhan pergi.
Allah SWT menggambarkan keluhan Rasulullah di hari kiamat:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
(QS. الفرقان: 30)
Dan Rasul berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
Para mufassir menjelaskan bahwa mahjur (ditinggalkan) tidak hanya berarti tidak dibaca, tetapi juga:
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Inilah tanda bahwa hubungan kita dengan Al-Qur’an mulai renggang. Kita menghormatinya secara simbolik, tetapi belum menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Padahal Ramadhan adalah momen terbaik untuk memperbaiki hubungan itu. Bulan ketika hati lebih lembut, waktu lebih lapang, dan pahala dilipatgandakan.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ramadhan seharusnya menjadi bulan rekonsiliasi kita dengan Al-Qur’an. Jika selama ini kita jauh, maka Ramadhan adalah waktu untuk kembali. Jika selama ini kita lalai, maka Ramadhan adalah saat untuk memulai lagi.
Rasulullah SAW bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
(HR. أحمد)
Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat.
Namun syafaat itu hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat, bukan sekadar hiasan.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan Ramadhan kali ini berbeda:
Jangan biarkan Ramadhan berlalu sementara Al-Qur’an tetap asing di hati kita. Jangan biarkan Al-Qur’an hanya kita muliakan dengan suara, tetapi kita abaikan dalam perbuatan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang kembali mesra dengan Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُوْمِنَا.
اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا فِيْهِ عَلَى تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
Aku berwasiat kepada diriku sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam ibadah ritual maupun dalam kehidupan sosial.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ramadhan adalah bulan ibadah. Namun, sering kali ibadah Ramadhan dipersempit maknanya hanya pada hubungan vertikal antara hamba dan Allah SWT. Puasa dipahami sebatas menahan lapar dan dahaga, shalat malam sebatas menggugurkan kewajiban, dan sedekah hanya sekadar tambahan amal.
Padahal, Ramadhan sejatinya adalah bulan pendidikan sosial, bulan yang mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi harus melampaui kepentingan pribadi dan menjelma menjadi kepedulian terhadap sesama.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. البقرة: 183)
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Para ulama menjelaskan bahwa takwa bukan hanya kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial. Takwa melahirkan kepekaan, empati, dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.
Ketika kita merasakan lapar saat berpuasa, sejatinya Allah sedang mengajarkan kita untuk memahami rasa lapar orang-orang miskin yang setiap hari hidup dalam kekurangan, bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang tahun.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menjadikan Ramadhan sebagai bulan kepedulian sosial. Dalam hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
(HR. البخاري ومسلم)
Rasulullah adalah manusia paling dermawan, dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadhan.
Kedermawanan Rasulullah tidak terbatas pada harta, tetapi juga dalam perhatian, empati, dan keberpihakan kepada kaum lemah. Ramadhan bagi Rasulullah adalah momentum memperluas manfaat bagi orang lain.
Allah SWT mengingatkan bahwa ibadah tanpa kepedulian sosial tidak memiliki nilai di sisi-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
(QS. الماعون: 1–3)
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Ayat ini menunjukkan bahwa pengingkaran terhadap agama bukan hanya dalam akidah, tetapi juga dalam sikap abai terhadap persoalan sosial.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ramadhan seharusnya menjadikan kita pribadi yang lebih peka terhadap ketidakadilan, kemiskinan, dan penderitaan di sekitar kita. Puasa tanpa kepedulian sosial berisiko melahirkan kesalehan yang egois, yang hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri tanpa peduli pada nasib orang lain.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ramadhan mengajarkan bahwa kesempurnaan ibadah terletak pada manfaatnya bagi sesama. Oleh karena itu, Islam mewajibkan zakat fitrah di akhir Ramadhan, agar kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk fakir dan miskin.
Rasulullah SAW bersabda:
طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
(HR. أبو داود)
Zakat fitrah berfungsi untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.
Hadits ini menegaskan bahwa Ramadhan tidak akan sempurna tanpa kepedulian sosial. Puasa yang benar akan melahirkan keinginan untuk berbagi, bukan menumpuk kenikmatan pribadi.
Marilah kita jadikan Ramadhan sebagai momentum:
Allah SWT berfirman:
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(QS. البقرة: 195)
Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Semoga Ramadhan kali ini menjadikan kita bukan hanya hamba yang taat secara ritual, tetapi juga manusia yang peduli, peka, dan bermanfaat bagi sesama.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا صِيَامَ الصَّائِمِينَ، وَقِيَامَنَا قِيَامَ الْخَاشِعِينَ.
اَللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوْسَنَا، وَلَيِّنْ قُلُوْبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الرَّاحِمِينَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِهِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi tercermin dalam sikap, perilaku, dan arah hidup kita sehari-hari.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah tahunan. Ramadhan adalah titik balik kehidupan, momentum besar yang Allah berikan agar seorang mukmin tidak kembali menjadi pribadi yang sama setelah bulan suci berlalu.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. البقرة: 183)
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah takwa, dan takwa berarti perubahan. Tidak mungkin seseorang mencapai takwa jika tidak ada pergeseran cara berpikir, cara bersikap, dan cara hidup.
Ramadhan datang untuk menghentikan kebiasaan lama yang buruk dan membangun kebiasaan baru yang diridhai Allah. Ia hadir sebagai kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, dengan sesama manusia, dan bahkan dengan diri sendiri.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak semua orang yang berpuasa benar-benar mendapatkan hasil dari Ramadhan. Beliau bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
(HR. ابن ماجه)
Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.
Hadits ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Ramadhan tidak otomatis mengubah seseorang, kecuali jika ia menjadikannya sebagai titik balik kesadaran dan perbaikan diri.
Puasa melatih kita menahan diri dari yang halal, agar kita lebih mampu meninggalkan yang haram. Puasa mendidik kesabaran, kejujuran, pengendalian emosi, dan keikhlasan—nilai-nilai yang seharusnya terus hidup setelah Ramadhan berakhir.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
(QS. الرعد: 11)
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah kesempatan perubahan, tetapi hasilnya bergantung pada kesungguhan kita.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ramadhan seharusnya meninggalkan jejak perubahan dalam diri seorang mukmin. Jika sebelum Ramadhan kita lalai shalat, maka setelahnya kita lebih menjaga shalat. Jika sebelumnya ringan berbuat dosa, maka setelahnya hati terasa berat untuk bermaksiat. Inilah tanda Ramadhan diterima.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(HR. البخاري ومسلم)
Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Ampunan ini bukan akhir, tetapi awal kehidupan baru yang lebih bersih dan terarah.
Ramadhan mengajarkan bahwa hidup bukan hanya mengejar dunia, tetapi juga menyiapkan akhirat. Ia mengingatkan bahwa waktu sangat terbatas, dan kesempatan untuk bertobat tidak selalu datang dua kali.
Allah SWT berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
(QS. النور: 31)
Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
Marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik balik sejati, bukan sekadar rutinitas tahunan. Titik balik menuju kehidupan yang lebih taat, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رَمَضَانَ لَنَا بَدْءَ تَغْيِيْرٍ إِلَى الْخَيْرِ، وَلَا تَجْعَلْهُ آخِرَ عَهْدِنَا مِنْهُ.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَوْبَتَنَا.
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ بَعْدَ رَمَضَانَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang