KOMPAS.com – Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, Madinah selama ini dikenal sebagai kota tempat bersemayamnya Nabi Muhammad SAW dan tujuan utama ziarah setelah menunaikan ibadah haji maupun umrah.
Namun di balik identitasnya sebagai kota suci, Madinah kini tengah mengalami perubahan besar yang menarik perhatian dunia.
Kota yang menjadi pusat peradaban Islam sejak lebih dari 14 abad lalu itu perlahan menjelma menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi, pariwisata, kesehatan, dan inovasi tercepat di Arab Saudi.
Transformasi tersebut sejalan dengan program besar Visi Saudi 2030 yang digagas Kerajaan Arab Saudi untuk melakukan diversifikasi ekonomi dan memperkuat pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor.
Baca juga: Pemulangan Haji Gelombang II dari Madinah Dimulai, 99.497 Orang Tiba di Indonesia
Dilansir dari Saudi Press Agency (SPA), Wilayah Madinah mencatat capaian signifikan sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan terjadi hampir di seluruh sektor strategis, mulai dari pariwisata, kesehatan, investasi, pendidikan, hingga pembangunan kota modern yang ramah bagi masyarakat dan pengunjung.
Pencapaian tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warga lokal, tetapi juga memperkuat posisi Madinah sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di dunia Islam.
Salah satu perkembangan paling mencolok terlihat pada sektor pariwisata. Jumlah pengunjung yang datang ke Madinah meningkat sekitar 21 persen dibandingkan periode sebelumnya hingga mencapai lebih dari 21 juta orang.
Pada saat yang sama, total pengeluaran wisatawan melonjak sekitar 22 persen dan menembus angka 52 miliar riyal Saudi.
Data tersebut menunjukkan bahwa Madinah tidak lagi hanya menjadi kota transit bagi jamaah haji dan umrah.
Kota ini mulai berkembang menjadi destinasi wisata religi yang menawarkan pengalaman lebih luas, mulai dari wisata sejarah Islam, budaya, kuliner, hingga berbagai layanan modern yang mendukung kenyamanan pengunjung.
Bagi banyak peziarah, Madinah memiliki daya tarik spiritual yang unik. Selain Masjid Nabawi, kota ini menyimpan berbagai situs bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW, seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Gunung Uhud, hingga kawasan bekas perkampungan para sahabat Nabi.
Dalam buku The Hajj: Pilgrimage in Islam karya Eric Tagliacozzo dan Shawkat Toorawa dijelaskan bahwa kota-kota suci Islam tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga menjadi pusat pertemuan budaya, ekonomi, dan pertukaran pengetahuan yang memengaruhi perkembangan dunia Muslim dari masa ke masa.
Fenomena tersebut kini kembali terlihat di Madinah yang mengalami kebangkitan sebagai pusat aktivitas keagamaan sekaligus ekonomi modern.
Peningkatan jumlah pengunjung turut mendorong pertumbuhan sektor perhotelan.
Menurut laporan SPA, jumlah fasilitas akomodasi berlisensi meningkat sekitar 35 persen hingga mencapai lebih dari 610 unit usaha. Sementara itu, jumlah kamar hotel bertambah sekitar 24 persen menjadi lebih dari 76.000 kamar.
Pertumbuhan tersebut menjadi indikator penting meningkatnya kepercayaan investor terhadap masa depan Madinah.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai hotel bertaraf internasional, pusat perbelanjaan modern, kawasan komersial, hingga proyek transportasi terus dibangun untuk memenuhi kebutuhan jutaan jamaah dan wisatawan.
Transformasi ini menjadi bagian dari strategi besar Arab Saudi dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi tamu-tamu yang datang ke dua kota suci, yakni Makkah dan Madinah.
Tidak hanya berkembang dari sisi ekonomi dan pariwisata, Madinah juga menunjukkan kemajuan pesat dalam sektor kesehatan.
King Salman bin Abdulaziz Medical City berhasil meraih peringkat pertama secara nasional dalam penanganan stroke.
Sementara Madinah Cardiac Center menempati posisi kedua di Arab Saudi dalam pelayanan kasus serangan jantung akut atau infark miokard.
Prestasi tersebut menunjukkan meningkatnya kualitas layanan kesehatan di wilayah Madinah.
Perkembangan fasilitas kesehatan modern menjadi kebutuhan penting mengingat jutaan jamaah dari berbagai negara datang setiap tahun dengan karakteristik usia dan kondisi kesehatan yang beragam.
Dalam buku Healthcare in the Kingdom of Saudi Arabia karya Ahmed Abdel Aziz Al-Shehri dijelaskan bahwa modernisasi sistem kesehatan menjadi salah satu pilar utama pembangunan Arab Saudi dalam menghadapi tantangan populasi dan meningkatnya mobilitas global.
Karena itu, investasi pada rumah sakit, pusat jantung, layanan darurat, dan teknologi kesehatan menjadi prioritas nasional.
Baca juga: Menunggu Jadwal Pulang, Jemaah Haji Aceh Perbanyak Ibadah dan Ziarah di Madinah
Transformasi Madinah tidak berhenti pada pembangunan fisik. Kota ini juga mulai memperkuat perannya sebagai pusat inovasi dan teknologi.
Platform Manarah berhasil meraih penghargaan internasional Going Digital Award dalam kategori Geospatial Modeling and Reality.
Penghargaan tersebut diberikan kepada inovasi yang memanfaatkan teknologi pemodelan spasial dan digital untuk mendukung pembangunan kota.
Di sisi lain, Kota Industri Yanbu yang berada di wilayah Madinah resmi bergabung dalam UNESCO Global Network of Learning Cities atau Jaringan Kota Pembelajaran Global UNESCO.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan di Madinah tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi berbasis pengetahuan.
Dalam buku The New Islamic Civilization karya Robert W. Hefner disebutkan bahwa kebangkitan dunia Islam pada abad ke-21 sangat bergantung pada kemampuan negara-negara Muslim mengembangkan pendidikan, inovasi, dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasinya. Madinah tampaknya sedang bergerak ke arah tersebut.
Kemajuan lain terlihat pada sektor transportasi udara. Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz memperoleh penghargaan sebagai bandara internasional terbaik dalam kategorinya.
Bandara ini merupakan salah satu gerbang utama kedatangan jamaah haji dan umrah dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Peningkatan kualitas layanan bandara menjadi bagian penting dalam mendukung pengalaman perjalanan yang nyaman bagi jutaan pengunjung yang datang setiap tahun.
Bagi jamaah Indonesia, bandara ini menjadi titik awal sekaligus titik akhir perjalanan spiritual yang sangat berkesan.
Baca juga: 3 Pesan bagi Jemaah Indonesia yang Bergeser dari Makkah ke Madinah, Termasuk soal City Tour
Meski mengalami modernisasi yang pesat, Madinah tetap mempertahankan identitasnya sebagai kota suci yang sarat nilai sejarah dan spiritualitas.
Perpaduan antara pelestarian warisan Islam dan pembangunan modern menjadi ciri khas transformasi kota ini.
Dalam buku Madinah: City of the Prophet karya Muhammad Abdul Jabbar Beg dijelaskan bahwa kekuatan utama Madinah sejak masa Rasulullah SAW terletak pada kemampuannya menjadi pusat peradaban yang mengintegrasikan nilai agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. Nilai tersebut masih terasa hingga hari ini.
Ketika jutaan peziarah datang untuk beribadah dan berziarah ke Masjid Nabawi, mereka juga menyaksikan bagaimana kota yang dahulu menjadi pusat dakwah Islam kini berkembang menjadi salah satu model pembangunan modern di dunia Muslim.
Transformasi Madinah menunjukkan bahwa pembangunan kota suci tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan inovasi.
Berbagai penghargaan nasional maupun internasional yang diraih menjadi indikator bahwa wilayah ini sedang bergerak menuju tahap baru pembangunan.
Di tengah perubahan tersebut, Madinah tetap mempertahankan daya tarik utamanya sebagai kota yang menyimpan jejak sejarah Islam dan kedekatan spiritual dengan Rasulullah SAW.
Perpaduan antara warisan peradaban Islam dan kemajuan teknologi modern inilah yang menjadikan Madinah semakin menarik untuk diperhatikan dunia.
Bagi jutaan Muslim, Madinah bukan sekadar kota tujuan ziarah. Kini, kota suci itu juga menjadi simbol bagaimana nilai-nilai agama dapat berjalan berdampingan dengan inovasi, pembangunan, dan kemajuan zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang