Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masuk Museum Ini, Jemaah Serasa Hidup di Zaman Nabi Muhammad

Kompas.com, 18 Juni 2026, 09:25 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com - Madinah Al-Munawwarah menyimpan memori kuat tentang tonggak peradaban Islam.

Bagi para peziarah yang ingin mengetahui sejarah dan merasakannya secara lebih nyata, ada satu destinasi edukasi yang kini menjadi primadona baru.

Tempat itu adalah The International Fair and Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization atau Museum Sirah Nabi yang berada tak jauh dari Masjid Nabawi.

Museum ini bukan sekadar ruang pameran, melainkan sebuah lorong waktu berteknologi canggih untuk napak tilas kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Lupakan bayangan tentang museum tradisional yang hanya memajang deretan teks usang.

Museum Sirah Nabi mendobraknya dengan menyuguhkan mahakarya visual.

Baca juga: Museum Haramain di Makkah, Wisata Sejarah Islam Dekat Masjidil Haram yang Bisa Diakses Gratis

Melalui perpaduan antara layar interaktif, pemetaan digital (digital mapping), dan rekonstruksi sejarah tiga dimensi, pengunjung seakan masuk ke dalam kapsul waktu.

Pendekatan modern ini memudahkan pengunjung untuk memvisualisasikan bagaimana Rasulullah SAW memimpin, berdakwah, serta menyemai benih keadilan dan persaudaraan di tengah masyarakat Jazirah Arab.

Epik Perjuangan: Dari Mekkah menuju Madinah

Alur pameran dirancang sedemikian rupa agar jemaah haji dan umrah dapat merasakan emosi dari setiap fase dakwah.

Kisah bermula dari lanskap era pra-Islam, lalu bergeser ke momen mendebarkan di Gua Hira saat wahyu pertama turun.

Setelah itu, pengunjung dibawa menyelami beratnya tantangan dakwah di Mekkah.

Fase syiar sembunyi-sembunyi, tekanan fisik dari kaum Quraisy, hingga masa-masa boikot ekonomi yang mencekik Bani Hasyim tergambar dengan jelas.

Puncak dari narasi museum ini adalah momen hijrah.

Di sini, hijrah tidak dimaknai sebatas pergeseran geografis dari Mekkah ke Madinah, melainkan sebagai embrio lahirnya sebuah tatanan sosial yang beradab.

Pengunjung dapat melihat visualisasi pembangunan Masjid Nabawi, momen mengharukan persaudaraan Muhajirin dan Anshar, hingga lahirnya Piagam Madinah yang melegenda.

Berakar pada Warisan Ulama

Meski berbalut teknologi mutakhir abad ke-21, jiwa dari pameran ini tetap berpijak teguh pada warisan keilmuan klasik.

Seluruh narasi yang ditampilkan merupakan hasil ekstraksi dari literatur-literatur sejarah Islam yang otoritatif, di antaranya:

  • As-Sirah An-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam: Referensi esensial terkait nasab, kelahiran, fase dakwah, peperangan, hingga wafatnya Nabi.
  • Sirah Rasulullah karya Ibnu Ishaq: Fondasi literatur awal mengenai sejarah kehidupan Rasulullah.
  • Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir: Mahakarya sejarah komprehensif yang memotret embrio perkembangan Islam.
  • Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakpuri: Rujukan kontemporer yang diakui karena keruntutan penyajiannya.
  • Zad al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah: Membedah dimensi kepemimpinan, akhlak, dan hikmah di balik setiap fase hidup Nabi.
  • Syama’il Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi: Sebuah ensiklopedia yang merinci karakter, perawakan, dan keseharian Rasulullah. 

Kesan Mendalam Jemaah Nusantara

Hadirnya pemandu yang fasih berbahasa Indonesia menjadi nilai tambah yang luar biasa bagi jemaah asal Tanah Air.

Pemahaman yang utuh membuat banyak pengunjung keluar dari museum dengan hati yang haru.

Amir Husni, seorang peziarah asal Semarang, Jawa Tengah, mengungkapkan pengalaman spiritualnya yang membekas.

“Rasanya seperti berada di zaman Nabi, ikut melihat perjalanan masa lalu perjuangan Rasulullah SAW. Ini menjadi renungan bahwa Islam di masa awal dibangun dengan perjuangan panjang yang luar biasa,” ujarnya.

Senada dengan Amir, Deny yang berasal dari Malang, Jawa Timur, mengimbau agar para tamu Allah yang sedang berada di Madinah tidak melewatkan kesempatan emas ini.

“Banyak sejarah yang harus kita lihat secara langsung. Ini bukan hanya cerita, tetapi ada gambaran perjalanan perjuangan Nabi yang bisa kita saksikan di kota perjuangan ini,” katanya.

Baca juga: Tersembunyi di Masjid Nabawi, Museum Ini Simpan Al-Quran Berusia Lebih dari 800 Tahun

Panduan Berkunjung ke Museum Sirah Nabi

Bagi Anda yang merencanakan kunjungan di sela-sela ibadah di Madinah, langsung saja menuju ke Jalan Abu Ayyub Al-Anshari, masih berada di kawasan sekitar Masjid Nabawi.

Jam operasionalnya adalah sebagai berikut:

  • Ahad – Kamis: 08.00 - 22.30 waktu setempat.
  • Jumat: 13.00 - 22.30 waktu setempat.
  • Sabtu: 16.30 - 23.30 waktu setempat.

Harga tiket masuknya sekitar 40 Riyal Saudi untuk dewasa.

Anak di bawah usia 7 tahun dan penyandang disabilitas tidak dipungut biaya.

Terdapat tiket tambahan untuk akses area panorama khusus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
15 Ucapan Selamat Naik Kelas Islami untuk Anak, Penuh Doa dan Motivasi
15 Ucapan Selamat Naik Kelas Islami untuk Anak, Penuh Doa dan Motivasi
Aktual
30 Ucapan Perpisahan Sekolah Paling Menyentuh dan Penuh Doa untuk Teman & Guru
30 Ucapan Perpisahan Sekolah Paling Menyentuh dan Penuh Doa untuk Teman & Guru
Aktual
Jejak Umar bin Khattab Ditemukan pada Prasasti Batu di Madinah
Jejak Umar bin Khattab Ditemukan pada Prasasti Batu di Madinah
Aktual
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Keutamaan Puasa Asyura dan Keistimewaan Bulan Muharram
Khutbah Jumat 19 Juni 2026: Keutamaan Puasa Asyura dan Keistimewaan Bulan Muharram
Aktual
Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Hadiah hingga Rp 10 Juta
Kemenag Buka Kompetisi Film Pendek Islami 2026, Hadiah hingga Rp 10 Juta
Aktual
Kemenag Sebut Ada yang Dipotong dari Pernyataan Menag soal Fir’aun, Apa Itu?
Kemenag Sebut Ada yang Dipotong dari Pernyataan Menag soal Fir’aun, Apa Itu?
Aktual
Masuk Museum Ini, Jemaah Serasa Hidup di Zaman Nabi Muhammad
Masuk Museum Ini, Jemaah Serasa Hidup di Zaman Nabi Muhammad
Aktual
Niat Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan, Lengkap dengan Tata Cara dan Khutbahnya
Niat Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan, Lengkap dengan Tata Cara dan Khutbahnya
Doa dan Niat
Muhammadiyah Minta Program MBG Dibenahi dan Anggarannya Transparan
Muhammadiyah Minta Program MBG Dibenahi dan Anggarannya Transparan
Aktual
Gurun Arab Saudi Ternyata Pernah Jadi Dasar Laut Purba 34 Juta Tahun Lalu
Gurun Arab Saudi Ternyata Pernah Jadi Dasar Laut Purba 34 Juta Tahun Lalu
Aktual
Kemenag Luruskan Pernyataan Menag soal Fir’aun, Sekjen: Jangan Potong Kalimat dan Timbulkan Salah Paham
Kemenag Luruskan Pernyataan Menag soal Fir’aun, Sekjen: Jangan Potong Kalimat dan Timbulkan Salah Paham
Aktual
Timwas Haji DPR: Presiden Minta Antrean Haji Dipangkas Lagi Jadi 26 Tahun
Timwas Haji DPR: Presiden Minta Antrean Haji Dipangkas Lagi Jadi 26 Tahun
Aktual
Anggaran Kemenag 2027 Naik Jadi Rp 41,8 Triliun, Revitalisasi Madrasah dan Insentif Guru Non-ASN Jadi Prioritas
Anggaran Kemenag 2027 Naik Jadi Rp 41,8 Triliun, Revitalisasi Madrasah dan Insentif Guru Non-ASN Jadi Prioritas
Aktual
Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026, Setiap Guru Terima Rp 1,5 Juta
Insentif Guru Madrasah Non ASN Cair Akhir Juni 2026, Setiap Guru Terima Rp 1,5 Juta
Aktual
Prabowo Minta Layanan Haji 2027 Ditingkatkan, Ini Arahannya
Prabowo Minta Layanan Haji 2027 Ditingkatkan, Ini Arahannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com