Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Dinilai Tidak Bisa Gantikan Guru dan Tradisi Keilmuan Islam

Kompas.com, 22 Juni 2026, 19:15 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai tidak boleh membuat generasi muda kehilangan semangat belajar, karakter, dan tradisi keilmuan Islam.

Kemudahan akses informasi melalui teknologi harus diimbangi dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan menjaga nilai-nilai moral.

Pesantren pun dinilai tetap memiliki peran penting di tengah era digital karena membentuk adab dan karakter generasi muda. Karena itu, pemanfaatan AI perlu dibarengi dengan penguatan tradisi keilmuan dan nilai-nilai Al-Qur'an.

Baca juga: Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya

Pesan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, dalam Orasi Ilmiah Wisuda Santri Akhirussanah XIX Pondok Pesantren Al-Qur'aniyyah, Tangerang Selatan, di Gedung SC STAN Bintaro, Minggu (21/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'aniyyah sekaligus Ketua LPTQ Kota Tangerang Selatan KH Muhammad Sobron Zayyan, Wakil Rektor I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr A Tholabi Kharlie, Camat Pondok Aren, para wali santri, serta wisudawan dan wisudawati Akhirussanah Angkatan XIX.

Baca juga: DPR Setujui Anggaran Kemenag Rp 41,8 Triliun untuk Madrasah dan Insentif Guru

Dalam orasi bertajuk Dari Tradisi Keilmuan Menuju Peradaban: Menjadi Generasi Qur'ani di Era Kecerdasan Buatan, Muchlis mengajak para wisudawan menjadikan Al-Qur'an sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban.

Kejayaan Islam Lahir dari Tradisi Ilmu

Menurut Muchlis, sejarah mencatat bahwa kejayaan peradaban Islam tidak lahir karena kekuatan militer maupun kekayaan semata, tetapi karena penghormatan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, ulama, dan para ilmuwan.

“Peradaban Islam dibangun oleh generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai energi dan sumber inspirasi untuk berkarya. Dari tradisi itulah lahir para ulama dan ilmuwan besar seperti Imam al-Bukhari, Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn al-Haytsam, dan Al-Biruni yang karya-karyanya memberi manfaat bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Muchlis menjelaskan, para ulama terdahulu membangun tradisi keilmuan dengan pengorbanan yang luar biasa. Mengutip sejumlah kisah dalam kitab Shafahat min Shabr al-'Ulama karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, ia menggambarkan bagaimana para ulama rela menghabiskan usia, tenaga, harta, bahkan menghadapi penjara dan penderitaan demi menjaga integritas ilmu.

“Imam al-Bukhari menempuh perjalanan ribuan kilometer, dari Bukhara Uzbekistan hingga ke kota-kota pusat keislaman di Timur Tengah, hanya untuk memverifikasi kesahihan hadis. Imam Ahmad bin Hanbal rela dipenjara dan dicambuk oleh penguasa Duinasti Abbasiyah demi mempertahankan kebenaran pendapat ilmiahnya. Para ulama dahulu membayar ilmu dengan usia, tenaga, harta, bahkan penderitaan,” katanya.

Teknologi Mempermudah Akses, tetapi Tidak Menjamin Kesungguhan Belajar

Menurut Muchlis, generasi saat ini patut bersyukur karena kemajuan teknologi telah menghadirkan kemudahan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Jika dahulu kitab-kitab harus dicari melalui perjalanan panjang dan disalin dengan tangan, kini ribuan kitab, tafsir, hadis, dan berbagai referensi keilmuan dapat diakses dalam hitungan detik melalui perangkat digital.

Namun, kemudahan teknologi tersebut tidak otomatis melahirkan kesungguhan dalam belajar.

“Generasi terdahulu kekurangan sarana, tetapi memiliki semangat yang luar biasa. Kita hari ini memiliki sarana yang melimpah, tetapi sering kali kekurangan kesungguhan. Yang melahirkan karya besar bukan teknologi, melainkan ketulusan dalam berdedikasi dan kesungguhan dalam memanfaatkan teknologi,” tegasnya.

AI Tidak Bisa Menggantikan Guru dan Sanad Keilmuan

Dalam kesempatan tersebut, Muchlis juga menyoroti perkembangan AI yang semakin luas digunakan dalam pendidikan, penelitian, dan layanan keagamaan.

Menurutnya, AI merupakan alat yang sangat bermanfaat dan perlu dimanfaatkan secara optimal. Namun, AI tidak dapat menggantikan akal, hati, pengalaman spiritual, maupun bimbingan manusia.

“AI dapat membantu menemukan ayat, hadis, kitab tafsir, atau pendapat ulama dalam hitungan detik. Namun AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, tidak memiliki pengalaman spiritual, dan tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban yang diberikannya. Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar soal informasi yang benar, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkannya, bagaimana cara memperolehnya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertainya,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Muchlis, AI dapat membantu proses belajar dan memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru, ulama, dan tradisi talaqqi yang menjadi ciri khas keilmuan Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga sekarang.

Pesantren Tetap Relevan di Era Kecerdasan Buatan

Muchlis menilai keberadaan pesantren tetap sangat relevan di tengah perkembangan teknologi.

Menurutnya, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, adab, integritas, dan keteladanan.

Pesantren juga menjaga tradisi sanad keilmuan dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi dengan penuh tanggung jawab intelektual.

“Dunia masa depan tidak membutuhkan manusia yang hanya memiliki informasi. Dunia membutuhkan manusia yang memiliki karakter, akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Di sinilah nilai-nilai Al-Qur'an menjadi semakin penting dan semakin dibutuhkan di era kecerdasan buatan, karena dimensi moral, spiritual, dan kemanusiaan tidak dapat digantikan oleh AI,” katanya.

Kepada para wisudawan, Muchlis berpesan agar tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pedoman dalam berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.

“Jangan hanya menjadi penjaga bacaan Al-Qur’an. Jadilah pembangun peradaban dengan Al-Qur’an. Jadilah generasi yang memadukan kemurnian wahyu dengan kecanggihan teknologi, memadukan kedalaman ilmu dengan kemuliaan akhlak, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Munas Alim Ulama NU 2026 Dorong Pemerintah Lindungi Data Pribadi WNI dari Akses Negara Asing
Munas Alim Ulama NU 2026 Dorong Pemerintah Lindungi Data Pribadi WNI dari Akses Negara Asing
Aktual
AI Dinilai Tidak Bisa Gantikan Guru dan Tradisi Keilmuan Islam
AI Dinilai Tidak Bisa Gantikan Guru dan Tradisi Keilmuan Islam
Aktual
Ketua MUI Bidang Fatwa Sebut Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Fitrah, Minta Ada Rehabilitasi
Ketua MUI Bidang Fatwa Sebut Orientasi Seksual Sesama Jenis Bukan Fitrah, Minta Ada Rehabilitasi
Aktual
Alasan Fatwa MUI Banyak Mengacu ke Mazhab Syafii, Ini Penjelasan Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Alasan Fatwa MUI Banyak Mengacu ke Mazhab Syafii, Ini Penjelasan Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Aktual
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Aktual
Jelang Munas dan Konbes NU, Ulama dan Pengurus PCNU se-Jatim Bedah Kitab KH Zulfa Mustofa
Jelang Munas dan Konbes NU, Ulama dan Pengurus PCNU se-Jatim Bedah Kitab KH Zulfa Mustofa
Aktual
DPR Setujui Anggaran Kemenag Rp 41,8 Triliun untuk Madrasah dan Insentif Guru
DPR Setujui Anggaran Kemenag Rp 41,8 Triliun untuk Madrasah dan Insentif Guru
Aktual
Arab Saudi Mulai Panen Kurma Perdana, Varietas Sukkari hingga Khalas Siap Penuhi Pasar
Arab Saudi Mulai Panen Kurma Perdana, Varietas Sukkari hingga Khalas Siap Penuhi Pasar
Aktual
Hadiah untuk Pejabat dalam Perspektif Islam
Hadiah untuk Pejabat dalam Perspektif Islam
Aktual
Aisyiyah Usulkan Gizi Ibu dan Anak Jadi Prioritas Sejak Masa Darurat saat Bencana
Aisyiyah Usulkan Gizi Ibu dan Anak Jadi Prioritas Sejak Masa Darurat saat Bencana
Aktual
Kisah Ipang, WNI yang Sukses Jual 500 Porsi Bakso per Hari di Jabal Magnet Madinah
Kisah Ipang, WNI yang Sukses Jual 500 Porsi Bakso per Hari di Jabal Magnet Madinah
Aktual
Baznas Kaji Zakat Bantu Korban Pinjol Ilegal dan 'Human Trafficking'
Baznas Kaji Zakat Bantu Korban Pinjol Ilegal dan "Human Trafficking"
Aktual
Jemaah Berangsur Pulang, Bus Shalawat Berakhir Operasi 22 Juni 2026
Jemaah Berangsur Pulang, Bus Shalawat Berakhir Operasi 22 Juni 2026
Aktual
Tutup MTQ Disabilitas, Bahlil Dorong Regulasi Lebih Berpihak ke Penyandang Disabilitas
Tutup MTQ Disabilitas, Bahlil Dorong Regulasi Lebih Berpihak ke Penyandang Disabilitas
Aktual
Bahlil Puji Istikamah KH Chalwani dan Akan Bangunkan Asrama Ponpes
Bahlil Puji Istikamah KH Chalwani dan Akan Bangunkan Asrama Ponpes
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com