Editor
KOMPAS.com - Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai tidak boleh membuat generasi muda kehilangan semangat belajar, karakter, dan tradisi keilmuan Islam.
Kemudahan akses informasi melalui teknologi harus diimbangi dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan menjaga nilai-nilai moral.
Pesantren pun dinilai tetap memiliki peran penting di tengah era digital karena membentuk adab dan karakter generasi muda. Karena itu, pemanfaatan AI perlu dibarengi dengan penguatan tradisi keilmuan dan nilai-nilai Al-Qur'an.
Baca juga: Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya
Pesan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, dalam Orasi Ilmiah Wisuda Santri Akhirussanah XIX Pondok Pesantren Al-Qur'aniyyah, Tangerang Selatan, di Gedung SC STAN Bintaro, Minggu (21/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'aniyyah sekaligus Ketua LPTQ Kota Tangerang Selatan KH Muhammad Sobron Zayyan, Wakil Rektor I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr A Tholabi Kharlie, Camat Pondok Aren, para wali santri, serta wisudawan dan wisudawati Akhirussanah Angkatan XIX.
Baca juga: DPR Setujui Anggaran Kemenag Rp 41,8 Triliun untuk Madrasah dan Insentif Guru
Dalam orasi bertajuk Dari Tradisi Keilmuan Menuju Peradaban: Menjadi Generasi Qur'ani di Era Kecerdasan Buatan, Muchlis mengajak para wisudawan menjadikan Al-Qur'an sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban.
Menurut Muchlis, sejarah mencatat bahwa kejayaan peradaban Islam tidak lahir karena kekuatan militer maupun kekayaan semata, tetapi karena penghormatan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, ulama, dan para ilmuwan.
“Peradaban Islam dibangun oleh generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai energi dan sumber inspirasi untuk berkarya. Dari tradisi itulah lahir para ulama dan ilmuwan besar seperti Imam al-Bukhari, Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn al-Haytsam, dan Al-Biruni yang karya-karyanya memberi manfaat bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.
Muchlis menjelaskan, para ulama terdahulu membangun tradisi keilmuan dengan pengorbanan yang luar biasa. Mengutip sejumlah kisah dalam kitab Shafahat min Shabr al-'Ulama karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, ia menggambarkan bagaimana para ulama rela menghabiskan usia, tenaga, harta, bahkan menghadapi penjara dan penderitaan demi menjaga integritas ilmu.
“Imam al-Bukhari menempuh perjalanan ribuan kilometer, dari Bukhara Uzbekistan hingga ke kota-kota pusat keislaman di Timur Tengah, hanya untuk memverifikasi kesahihan hadis. Imam Ahmad bin Hanbal rela dipenjara dan dicambuk oleh penguasa Duinasti Abbasiyah demi mempertahankan kebenaran pendapat ilmiahnya. Para ulama dahulu membayar ilmu dengan usia, tenaga, harta, bahkan penderitaan,” katanya.
Menurut Muchlis, generasi saat ini patut bersyukur karena kemajuan teknologi telah menghadirkan kemudahan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya.
Jika dahulu kitab-kitab harus dicari melalui perjalanan panjang dan disalin dengan tangan, kini ribuan kitab, tafsir, hadis, dan berbagai referensi keilmuan dapat diakses dalam hitungan detik melalui perangkat digital.
Namun, kemudahan teknologi tersebut tidak otomatis melahirkan kesungguhan dalam belajar.
“Generasi terdahulu kekurangan sarana, tetapi memiliki semangat yang luar biasa. Kita hari ini memiliki sarana yang melimpah, tetapi sering kali kekurangan kesungguhan. Yang melahirkan karya besar bukan teknologi, melainkan ketulusan dalam berdedikasi dan kesungguhan dalam memanfaatkan teknologi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Muchlis juga menyoroti perkembangan AI yang semakin luas digunakan dalam pendidikan, penelitian, dan layanan keagamaan.
Menurutnya, AI merupakan alat yang sangat bermanfaat dan perlu dimanfaatkan secara optimal. Namun, AI tidak dapat menggantikan akal, hati, pengalaman spiritual, maupun bimbingan manusia.
“AI dapat membantu menemukan ayat, hadis, kitab tafsir, atau pendapat ulama dalam hitungan detik. Namun AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, tidak memiliki pengalaman spiritual, dan tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban yang diberikannya. Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar soal informasi yang benar, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkannya, bagaimana cara memperolehnya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertainya,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Muchlis, AI dapat membantu proses belajar dan memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru, ulama, dan tradisi talaqqi yang menjadi ciri khas keilmuan Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga sekarang.
Muchlis menilai keberadaan pesantren tetap sangat relevan di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, adab, integritas, dan keteladanan.
Pesantren juga menjaga tradisi sanad keilmuan dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi dengan penuh tanggung jawab intelektual.
“Dunia masa depan tidak membutuhkan manusia yang hanya memiliki informasi. Dunia membutuhkan manusia yang memiliki karakter, akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Di sinilah nilai-nilai Al-Qur'an menjadi semakin penting dan semakin dibutuhkan di era kecerdasan buatan, karena dimensi moral, spiritual, dan kemanusiaan tidak dapat digantikan oleh AI,” katanya.
Kepada para wisudawan, Muchlis berpesan agar tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pedoman dalam berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Jangan hanya menjadi penjaga bacaan Al-Qur’an. Jadilah pembangun peradaban dengan Al-Qur’an. Jadilah generasi yang memadukan kemurnian wahyu dengan kecanggihan teknologi, memadukan kedalaman ilmu dengan kemuliaan akhlak, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang