MADINAH, KOMPAS.com - Usia lebih dari satu abad rupanya bukan penghalang untuk merampungkan ibadah fisik seperti ibadah haji.
Hal ini dibuktikan oleh Mbah Marsiyah, jemaah haji tertua Indonesia tahun 2026 berusia 105 tahun asal Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur yang tidak pernah sakit selama di Arab Saudi.
Di usianya, ia terlihat tetap bugar dan tak pernah mengeluhkan sakit selama sebulan penuh menjalani rukun Islam kelima di Tanah Suci. Kini Marsiyah telah berada di Madinah sambil menanti jadwal kepulangan ke Tanah Air.
Baca juga: Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia
Ditemui tim Media Center Haji, Mbah Marsiyah merespons dengan senyum sumringah saat ditanya bagaimana perasaannya.
"Senang," jawabnya pada tim Media Center Haji.
Di saat banyak jemaah haji lain kerap tumbang terserang batuk atau pilek usai fase puncak haji, Mbah Marsiyah justru tetap sehat.
"Alhamdulillah, tidak batuk, suka makanannya," ucap Mbah Marsiyah.
Baca juga: Kemenhaj Akan Evaluasi Program City Tour Haji yang Dinilai Picu Kelelahan Jemaah
Bahkan masih memiliki tenaga untuk berziarah ke berbagai tempat bersejarah setelah puncak haji.
"Ke Jabal Rahmah, Jabal Nur," jawabnya.
Kunci utama dari kesehatan Mbah Marsiyah rupanya berawal dari rasa syukur dan nafsu makan yang baik. Ketua Kloter SUB 112, Aniswatun Nadhiroh, dan anak Mbah Marsiyah yang turut mendampingi, Maidah menceritakan hal tersebut.
"Awake dhewe ki adoh paran, dadi opo sing dikei neng kene yo dipangan (kita ini jauh dari perantauan, jadi apa yang diberi di sini ya dimakan),” kata Menurut Anis menceritakan perkataan Mbah Marsiyah.
Hal senada diamini oleh Maidah. Ia menyebut sang ibu selalu makan dengan lahap.
"Ibu hampir selalu menghabiskan makanannya dan nggak pilih-pilih makanan," ujar Maidah.
Sebagai tambahan nutrisi segar yang mudah dicerna, Maidah juga membelikannya pisang secara berkala.
"Hampir setiap tiga hari sekali, saya belikan buah pisang."
Di balik fisik bugar dan kelancaran ibadahnya di Tanah Suci, terdapat kisah perjuangan panjang yang sangat menginspirasi.
Marsiyah berhasil berangkat haji berkat ketekunannya menyisihkan uang receh hasil berjualan bubur sejak puluhan tahun lalu.
Sisa uang belanja sehari-hari selalu ia masukkan ke dalam sebuah kaleng bekas biskuit.
Sedikit demi sedikit, tabungan kaleng tersebut akhirnya cukup untuk biaya pendaftaran haji berkat tambahan dana dari anak-anaknya.
Ia resmi mendaftar pada tahun 2021 dan langsung mendapatkan kuota prioritas karena masuk kategori lanjut usia (lansia).
Sembari menunggu waktu keberangkatan, Mbah Marsiyah ternyata sangat disiplin berjalan kaki ringan untuk melatih otot dan rajin meminum susu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang