BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pernahkah Anda berada di titik di mana rasa sakit akibat dizalimi begitu menghunjam dada?
Rasa ingin membalas ego, menuntut keadilan, atau melihat orang yang menyakiti kita merasakan kepedihan yang sama, seringkali menjadi riak pertama yang muncul di hati manusiawi kita.
Dalam Islam, keinginan untuk menuntut keadilan itu bukanlah sebuah dosa.
Allah Maha Tahu batas rapuh perasaan hamba-Nya.
Melalui Al-Qur'an Surah Asy-Syura ayat 40, Allah ﷻ berfirman:
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah balasan yang setimpal. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dijamin oleh Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
Ayat yang mulia ini meletakkan sebuah fondasi yang begitu indah tentang keadilan, sekaligus membuka tirai emas menuju sebuah kemuliaan yang lebih tinggi.
Baca juga: Surah Al Anam Ayat 29, Ingatkan Tentang Kehidupan Setelah Kematian
“Ayat yang agung ini mengandung makna tentang keadilan dan qishash. Orang yang dizalimi sebenarnya memiliki hak untuk membalas orang yang menzaliminya setimpal dengan kezaliman yang ia terima, tanpa menambah atau melampaui batas,” ungkap Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin.
Melalui potongan ayat “Dan balasan suatu kejahatan adalah balasan yang setimpal”, Islam menegakkan hukum yang adil.
Tidak boleh ada tirani, dan tidak boleh ada pembalasan yang membabi buta.
Jika terluka, hak asasi manusia untuk menuntut keadilan dijamin dalam koridor syariat.
Namun, Islam tidak berhenti pada hukum hitam di atas putih.
Di balik ketegasan hukum, ada tawaran indah yang langsung datang dari Pemilik Semesta.
Di sinilah letak keindahan teologi Islam.
Setelah memberikan hak keadilan, Allah menawarkan opsi lain yang jauh lebih tinggi derajatnya: pintu pemaafan.
Ustadz Ahsanul Falihin menjelaskan, “Selain qishash, Allah juga menawarkan opsi lain yang mendatangkan keutamaan dan kemuliaan, yaitu dengan memaafkan kesalahan orang yang menzaliminya.
Allah berfirman: 'Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas Allah'. Maksudnya, maafnya itu tidak sia-sia.
Justru dibalas dengan pahala besar nan berlimpah atau dengan penebusan dosa dan peningkatan derajat (kemuliaan).”
Janji Allah ini dipertegas dalam Surah Al-Maidah ayat 45, bahwa melapangkan dada untuk memaafkan luka (bahkan luka fisik) bernilai layaknya sedekah yang menggugurkan dosa-dosa kita: “Maka barangsiapa yang bersedekah (dengan memaafkan), maka itu menjadi penebus dosa baginya.”
Memaafkan mungkin terasa seperti mengalah, tetapi di hadapan Allah, ia adalah lambang kekuatan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sebab pemaafan kecuali kemuliaan.” (HR.
Muslim).
Namun, perlu digarisbawahi bahwa memaafkan dalam Islam bukan berarti bersikap lemah atau membiarkan kejahatan merajalela.
Ada syarat esensial yang harus dipenuhi agar maaf itu bernilai tinggi di sisi Allah.
“Allah mensyaratkan dalam pemaafan itu adanya ishlāh, yaitu adanya perbaikan terhadap pihak lain. Maksudnya, memberi dampak perubahan yang baik bagi orang yang memaafkan dan yang dimaafkan. Bukan sebagai restu pembenaran terhadap kebatilan atau kezaliman pelakunya,” tegas Ustadz Ahsanul Falihin.
Artinya, pemberian maaf itu baru terpuji dan dianjurkan jika memang membawa maslahat dan menolak mudarat.
Jika memaafkan justru membuat pelaku kejahatan semakin tuman dan merugikan orang banyak, maka menegakkan hukum hukum qishash atau keadilan legal menjadi pilihan yang lebih maslahat.
Pada akhir ayat, Allah menutupnya dengan sebuah peringatan keras: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
Ustadz Ahsanul Falihin mengingatkan siapa saja yang termasuk dalam golongan yang dibenci Allah tersebut. “Siapa mereka? Yaitu: orang-orang yang melampaui batas. Maksudnya, baik pihak yang memulai kejahatan maupun yang membalas kejahatan secara berlebihan.”
Ketika seseorang membalas kezaliman melebihi takaran rasa sakit yang ia terima, saat itulah ia telah bergeser dari posisi 'korban yang dizalimi' menjadi 'pelaku kezaliman yang baru'. Dan Allah sama sekali tidak menyukai kezaliman.
Baca juga: Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Kesimpulannya, hidup di dunia seringkali menghadapkan kita pada gesekan ego dan luka hati.
Surah Asy-Syura ayat 40 ini memberikan kita peta navigasi spiritual yang jelas.
Kita diberikan hak untuk menuntut keadilan yang setimpal.
Namun, jika kita mampu melapangkan dada, melihat masa depan yang lebih baik, dan memaafkan demi mengharap rida-Nya seraya memastikan adanya perbaikan (ishlāh), maka Allah sendiri yang menggaransi pahala kita.
Sebuah investasi akhirat yang tak akan pernah merugi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang