BANYUWANGI, KOMPAS.com - Bagi seorang muslim yang terbiasa menjaga ritme ibadahnya, jatuh sakit atau harus menempuh perjalanan jauh (safar) sering kali menghadirkan perasaan mengganjal di dada.
Ada rasa rindu yang membuncah ketika sajadah shalat malam terpaksa ditinggal tidur lebih awal karena badan meriang, atau ketika puasa sunah Senin-Kamis harus absen demi menjaga stamina di atas kendaraan.
Namun, Islam tidak pernah sesempit itu.
Di balik uzur yang melemahkan fisik, ada pintu rahmat yang justru terbuka lebar.
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira melalui sabdanya:
«إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»
“Jika seorang hamba sakit atau safar, maka dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa ia kerjakan ketika ia mukim dan sehat.” (HR Bukhari, no 2996)
Baca juga: Doa untuk Orang Sakit agar Cepat Sembuh, Lengkap Arab dan Artinya
Hadits yang diriwayatkan dari jalur sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu ini laksana oase bagi jiwa-jiwa yang haus akan pahala.
Melalui untaian kalimat yang ringkas ini, Allah Ta'ala menunjukkan betapa menghargai setiap tetes niat baik hamba-Nya.
Menanggapi hadis ini, Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, memberikan penjelasan mendalam mengenai esensi di balik kemudahan tersebut.
"Hadits ini adalah bentuk 'investasi' bagi seorang mukmin. Ketika seseorang jujur dalam niatnya dan konsisten menjaga amal shalih di masa sehat dan mukimnya, Allah tidak akan memutus pahala tersebut saat ia dilanda uzur syar'i seperti sakit atau safar. Allah Maha Tahu, andai fisik hamba-Nya mampu, ia pasti akan mengerjakannya," ujar Ustadz Ahsanul Falihin.
Ia juga menegaskan bahwa keutamaan luar biasa ini tidak hanya berlaku untuk amalan sunah, tetapi juga ibadah wajib.
Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa shalat wajib dengan berdiri tegak, lalu suatu hari divonis sakit hingga hanya bisa shalat sambil duduk atau berbaring, maka Allah tetap mengganjarnya dengan pahala sempurna layaknya shalat berdiri.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa "fasilitas" istimewa ini tidak datang cuma-cuma.
Ada syarat mutlak yang harus dipenuhi: konsistensi (mudāwamah) di masa lalu.
Fasilitas otomatis ini hanya berlaku bagi mereka yang memang sudah menjadikan ibadah tersebut sebagai rutinitas harian saat kondisinya prima.
Sebaliknya, kemudahan ini tidak berlaku bagi mereka yang meninggalkan ibadah murni karena rasa malas atau menunda-nunda pekerjaan.
Jika ditelaah lebih jauh, setidaknya ada beberapa hikmah besar yang bisa kita petik dari madrasah hadis ini:
Baca juga: Doa untuk Orang Sakit Sesuai Sunnah & Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Melalui lisan suci Nabi SAW dan warisan ilmu yang dijaga oleh para ulama serta asatidzah hingga hari ini, kita diajarkan bahwa dalam Islam, niat yang jujur terkadang mampu melesat melampaui keterbatasan fisik.
Sehingga, selagi raga masih bugar dan kaki belum melangkah jauh dari rumah, mari hiasi hari-hari kita dengan konsistensi amal.
Sebab kita tidak pernah tahu, di hari sakit atau safar yang mana, tabungan amalan masa sehat itu yang akan menyelamatkan kita.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang