KOMPAS.com – Sakit adalah bagian dari ujian hidup yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia.
Dalam ajaran Islam, kondisi ini tidak hanya dipandang sebagai penderitaan fisik, tetapi juga sebagai momentum spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di sinilah doa memainkan peran penting, bukan sekadar ucapan, melainkan bentuk ikhtiar batin yang sarat makna.
Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan berbagai doa untuk orang sakit, sekaligus mengajarkan pentingnya menjenguk sebagai bentuk kepedulian sosial dan spiritual.
Lantas, bagaimana doa-doa yang diajarkan dalam Islam untuk kesembuhan? Dan mengapa menjenguk orang sakit memiliki keutamaan yang begitu besar?
Dalam berbagai riwayat hadis, Rasulullah SAW memberikan contoh doa yang dapat dibaca saat menjenguk orang sakit. Salah satu doa yang paling masyhur berbunyi:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allahumma rabban-nāsi ażhibil ba'sa isyfi antasy syafi là syifa'a illä syifa'uka syifa'an là yugadiru saqama.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”
Doa ini diriwayatkan dalam hadis sahih dan sering diamalkan ketika menjenguk orang sakit. Dalam konteks teologis, doa tersebut menegaskan bahwa kesembuhan sejati berasal dari Allah, sementara manusia hanya berikhtiar.
Dalam buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah karya H. Aminudin dan Harjan Syuhada, dijelaskan bahwa mendoakan orang sakit merupakan bagian dari akhlak mulia yang mencerminkan kepedulian dan keimanan seorang Muslim.
Baca juga: 4 Malaikat yang Datang Saat Seseorang Sakit, Salah Satunya Bertugas Menghapus Dosa
Selain doa utama di atas, terdapat beberapa doa lain yang juga diajarkan dalam hadis dan praktik ulama.
أَسْأَلُ الله رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيكَ
As’alullāha rabbal ‘arsyil ‘azhim an yasyfiyaka (dibaca 7 kali)
Artinya: “Aku memohon kepada Allah, Tuhan Arsy yang agung, agar menyembuhkanmu.”
Dalam riwayat disebutkan bahwa doa ini memiliki keutamaan besar jika dibaca tujuh kali kepada orang yang belum mendekati ajalnya.
Rasulullah SAW pernah mendoakan sahabatnya yang sakit dengan kalimat sederhana namun penuh makna:
يَا سَلْمَانُ، شَفَى اللَّهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِينِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ
Ya salmaanu syafallaahu saqamaka, waghafara dzanbaka, wa 'aafaaka fii dii-nika wa jismika ila muddati ajalika
Artinya: "Wahai Salman... semoga Allah menyembuhkan penyakitmu dan mengampuni dosamu, memberikan kesehatan dalam agamamu, juga badan mu sampai kelak tiba ajalmu." (HR. Ibnu Sunni)
Kesederhanaan doa ini menunjukkan bahwa inti dari doa bukan pada panjangnya lafaz, tetapi ketulusan hati.
Dalam kitab-kitab klasik, para ulama juga merumuskan doa-doa yang menggabungkan dzikir dan permohonan kesembuhan.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَبِاللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِالْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، أَسْكُنْ أَيُّهَا الْوَجَعُ سَكَنْتُكَ بِالَّذِي يُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ الرَّحِيمُ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَبِاللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، أَسْكُنْ أَيُّهَا الْوَجَعُ سَكَنْتُكَ بِالَّذِي يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُوْلاً وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ، أَنَّهُ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Bismillaahirrahmanirrahiim, wabillaahi walaa haula walaa quwwata illa bil-laahil 'aliyyil 'adziim, uskun ayyuhal waja' sakantuka billadzii yumsikus samaa-a 'an taqa'a 'alal ardhi illaa biidznihi, innallaaha bin naasi larauufur rahiimu. bismillaahir-rahmanirrahiim. wabillaahi walaa haula walaa quwwata illa bil-laahil 'aliyyil 'adziim, uskun ayyuhal waja' sakantuka billadzii yumsikus samaa-wati wal ardha an tazuulaa, walain zaalataa in amsakahuma min ahadim mim ba'dihi, innahu kaana haliiman ghafuura
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pe-nyayang. Demi Allah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali datang dari Allah Zat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, diamlah wahai pe-nyakit. Aku menahanmu dengan nama Zat Yang menahan langit untuk jatuh diatas bumi kecuali atas izin-Nya. Sesungguhnya Allah kepada manusia adalah Tuhan yang Maha Belas Kasih dan Maha penyayang. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penya-yang. Demi Allah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali datang dari Allah Zat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, diamlah wahai penyakit. Aku menahanmu dengan nama Zat Yang menahan langit dan bumi su-paya jangan lenyap. Dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguh-nya Dia adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Pengampun."
Dalam buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa karya Ahmad Zacky El-Syafa, disebutkan bahwa doa-doa tersebut sering diamalkan sebagai bentuk ikhtiar spiritual yang melengkapi usaha medis.
Baca juga: Doa Nabi Ayub AS Ketika Sakit, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya
Doa untuk orang sakit tidak hanya berfungsi sebagai permohonan, tetapi juga memiliki dimensi psikologis dan spiritual.
Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, doa adalah bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia.
Ketika seseorang berdoa, ia sedang menempatkan dirinya sebagai hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Di sisi lain, doa juga memberikan ketenangan batin, baik bagi yang sakit maupun yang mendoakan.
Dalam kondisi sakit, ketenangan ini sering menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan.
Menjenguk orang sakit (iyadah) bukan sekadar tradisi sosial, tetapi merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.
Dalam berbagai hadis, disebutkan bahwa orang yang menjenguk saudaranya yang sakit akan mendapatkan pahala besar.
Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa seseorang yang menjenguk orang sakit akan berada dalam “taman surga” hingga ia kembali.
Menjenguk orang sakit mempererat hubungan antar sesama. Dalam kondisi lemah, kehadiran orang lain menjadi bentuk dukungan moral yang sangat berarti.
Melihat orang sakit sering kali menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah nikmat yang tidak boleh disia-siakan.
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an, dijelaskan bahwa pengalaman melihat penderitaan orang lain dapat menumbuhkan kesadaran spiritual.
Dalam ajaran Islam, sakit dapat menjadi penggugur dosa. Dengan menjenguk, seseorang turut serta dalam proses kebaikan tersebut melalui doa dan empati.
Menjenguk orang sakit juga menjadi momen refleksi. Ia mengingatkan manusia akan keterbatasannya dan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Baca juga: Saat Sakit, Allah Kirim Malaikat? Ini Penjelasan Menurut Islam
Selain dianjurkan, menjenguk orang sakit juga memiliki adab yang perlu diperhatikan:
Etika ini penting agar kunjungan benar-benar menjadi sumber kebaikan, bukan sebaliknya.
Islam tidak memisahkan antara usaha lahir dan batin. Berobat secara medis tetap menjadi kewajiban, sementara doa menjadi pelengkap yang menyempurnakan ikhtiar.
Dalam banyak literatur klasik, para ulama menekankan bahwa kesembuhan adalah kombinasi antara usaha manusia dan kehendak Allah.
Doa, dalam hal ini, bukan pengganti pengobatan, tetapi penguat harapan.
Pada akhirnya, doa untuk orang sakit adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus. Ia melampaui kata-kata biasa, menjadi jembatan antara manusia dan Tuhannya.
Menjenguk orang sakit pun bukan sekadar kunjungan, tetapi bentuk kehadiran yang menguatkan.
Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin hal sederhana seperti mendoakan dan menjenguk justru menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri.
Dan di balik setiap doa yang dipanjatkan, selalu ada harapan, bahwa kesembuhan, pada waktunya, akan datang dengan cara terbaik dari Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang