Editor
KOMPAS.com – Inovasi sederhana yang berangkat dari pemanfaatan limbah buah ketapang berhasil mengantarkan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), Ulinnuha Aqwa, meraih prestasi di tingkat internasional. Penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS itu sukses menyabet Juara II pada ajang The 15th International Invention, Innovation & Design Competition (INDES) 2026 di Malaysia.
Prestasi tersebut diraih pada kategori Business Plan melalui inovasi Keta-Briq, yakni briket biochar ramah lingkungan yang dibuat dari limbah buah ketapang dan dipadukan dengan aroma daun kemangi yang berfungsi sebagai pengusir serangga.
Pimpinan Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan Baznas RI, Idy Muzayyad, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa penerima manfaat Beasiswa Cendekia BAZNAS mampu bersaing di tingkat global sekaligus mengharumkan nama Indonesia.
Baca juga: Baznas Gandeng DPR Optimalkan Potensi Zakat Rp 327 Triliun, Dorong Regulasi Lebih Kuat
"Kami sangat bangga atas pencapaian internasional yang diraih oleh Ulinnuha sebagai bukti nyata bahwa para penerima manfaat Beasiswa Cendekia BAZNAS mampu bersaing dan mengharumkan nama bangsa di level global," ujar Idy Muzayyad dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, inovasi berbasis lingkungan seperti Keta-Briq sejalan dengan visi BAZNAS dalam mencetak generasi muda yang kreatif, solutif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Ajang yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Perak itu, lanjut Idy, juga menjadi bukti bahwa limbah lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi solusi energi alternatif yang bernilai ekonomi.
"Keberhasilan Ulinnuha ini juga membuktikan bahwa dana zakat yang dikelola melalui program beasiswa mampu melahirkan inovator muda yang mandiri, solutif, dan siap menjadi motor penggerak ekonomi berkelanjutan di masa depan," katanya.
Di balik keberhasilannya, Ulinnuha mengaku sempat mengalami masa-masa sulit selama mengikuti kompetisi. Ia bahkan pernah kehilangan semangat dalam proses pengembangan inovasi dan persiapan lomba.
Namun, dukungan keluarga membuatnya mampu bangkit dan menyelesaikan seluruh tahapan kompetisi hingga akhirnya meraih penghargaan di tingkat internasional.
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UII itu kini bertekad terus mengembangkan berbagai inovasi yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Baca juga: Baznas Kaji Zakat Bantu Korban Pinjol Ilegal dan Human Trafficking
"Pengalaman ini mengajarkan saya untuk tidak takut mencoba langkah pertama, dan saya berharap ke depan bisa terus belajar serta menginspirasi lebih banyak anak muda untuk berani mewujudkan ide-ide mereka," tutur Ulinnuha.
Keberhasilan tersebut menjadi contoh bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan kepedulian terhadap lingkungan, limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk berdaya guna sekaligus mengantarkan anak muda Indonesia berprestasi di panggung internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang