Editor
KOMPAS.com - Adzan merupakan syiar Islam yang selalu mengiringi datangnya waktu shalat lima waktu.
Suara adzan yang berkumandang dari masjid bukan hanya menjadi penanda waktu ibadah, tetapi juga seruan kepada umat Islam untuk segera memenuhi panggilan Allah SWT.
Meski hampir setiap hari mendengarnya, masih banyak yang belum memahami makna, hukum, hingga dalil disyariatkannya adzan.
Baca juga: Bacaan Adzan Subuh Lengkap: Arab, Latin, Arti & Doa
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut bacaan dan pengertian adzan beserta kedudukannya dalam ajaran Islam.
Ada dua bacaan adzan, yaitu bacaan adzan pada waktu subuh yang berbeda dengan bacaan adzan Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.
Baca juga: 5 Aktivitas yang Sebaiknya Dihindari Umat Muslim Saat Adzan Berkumandang
Bacaan adzan Subuh memiliki tambahan kalimat "Ash-sholaatu khairum minan-nauum" yang berarti "Shalat lebih baik daripada tidur." Kalimat ini dibaca dua kali setelah Hayya 'alal falah.
Arab:
(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
(٢x) اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ
Latin:
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (2x)
Hayya 'alashsholaah (2x)
Hayya 'alalfalaah (2x)
Ash-sholaatu khairum minan-nauum (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
Artinya:
Allah Maha Besar.
Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Aku menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Marilah shalat.
Marilah menuju kemenangan.
Shalat lebih baik daripada tidur.
Allah Maha Besar.
Tiada Tuhan selain Allah.
Adapun bacaan adzan untuk shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya pada dasarnya sama, hanya tidak terdapat tambahan kalimat sebagaimana pada adzan Subuh.
Arab:
(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ
Latin:
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (2x)
Hayya 'alashsholaah (2x)
Hayya 'alalfalaah (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
Artinya:
Allah Maha Besar.
Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Aku menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Marilah shalat.
Marilah menuju kemenangan.
Allah Maha Besar.
Tiada Tuhan selain Allah.
Adzan adalah seruan yang dikumandangkan untuk mengajak umat Islam menunaikan shalat wajib. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adzan diartikan sebagai ajakan atau panggilan untuk melaksanakan shalat.
Secara umum, adzan dikumandangkan setiap kali memasuki waktu shalat wajib lima waktu, yaitu Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Orang yang bertugas mengumandangkan adzan disebut muadzin.
Dari sisi bahasa, adzan berasal dari kata Arab أَذَنَ (adzana) yang memiliki makna menyampaikan, memberitahukan, atau menyerukan. Akar kata tersebut memiliki padanan dengan kata نَادَى (nādā) yang disebutkan dalam Al-Qur'an dalam berbagai bentuk.
Dalam Al-Qur'an, makna kata tersebut bergantung pada konteks penggunaannya. Jika ditujukan kepada manusia, maknanya adalah panggilan atau seruan. Sementara jika ditujukan kepada Allah SWT, maknanya mengarah pada doa atau permohonan.
Makna adzan sebagai bentuk pemberitahuan juga dijelaskan dalam firman Allah SWT:
وَأَذَانٌ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأَكْبَرِ أَنَّ اللّهَ بَرِيءٌ مِّنْ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya: "Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari Haji Akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Maka jika kamu bertaubat, itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih." (QS. At-Taubah: 3)
Selain itu, kata adzan juga digunakan dalam konteks seruan Nabi Ibrahim AS untuk mengajak manusia menunaikan ibadah haji.
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Artinya: "Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)
Adzan merupakan pemberitahuan bahwa waktu shalat telah tiba dengan menggunakan lafaz-lafaz yang telah ditetapkan dalam syariat. Dalam artikel ini disebutkan bahwa hukum mengumandangkan adzan adalah wajib, sebagaimana didasarkan pada sejumlah hadis sahih.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ.
"Apabila waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan. Dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan adanya perintah Rasulullah SAW untuk mengumandangkan adzan ketika waktu shalat telah masuk.
Dalam kaidah usul fikih, suatu perintah pada dasarnya menunjukkan kewajiban selama tidak terdapat dalil lain yang memalingkannya kepada hukum sunnah.
Dalil lain juga diriwayatkan dari Anas RA mengenai kebiasaan Rasulullah SAW ketika hendak mendatangi suatu kaum.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا غَزَا قَوْمًا لَمْ يَغْزُ حَتَّى يُصْبِحَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ.
"Bahwa Nabi SAW ketika hendak memerangi suatu kaum, beliau tidak langsung menyerang hingga pagi hari. Jika beliau mendengar adzan, maka beliau tidak menyerang mereka. Namun jika tidak mendengar adzan, maka beliau menyerbu mereka." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa adzan juga menjadi salah satu penanda keberadaan komunitas Muslim di suatu tempat.
Muadzin adalah orang yang mengumandangkan adzan sebagai seruan agar umat Islam menunaikan shalat.
Mengumandangkan adzan merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda, “Muadzin diampuni sejauh jangkauan adzannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar adzannya, memohonkan ampunan untuknya.” (HR. Ahmad).
Besarnya pahala adzan membuat Rasulullah SAW menggambarkan bahwa apabila manusia mengetahui keutamaannya, mereka rela berebut kesempatan menjadi muadzin. Beliau bersabda, “Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian untuk itu, niscaya mereka akan melakukan undian.” (HR. Bukhari).
Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa setiap jin, manusia, batu, dan pohon yang mendengar adzan akan menjadi saksi bagi muadzin pada hari kiamat. Hal ini sebagaimana sabdanya, “Tidaklah adzan didengar oleh jin, manusia, batu, dan pohon kecuali mereka akan bersaksi untuknya.” (HR. Abu Ya'la).
Seorang muadzin umumnya menjadi orang yang lebih dahulu datang ke masjid untuk mempersiapkan pelaksanaan shalat berjamaah. Melalui kumandang adzannya, kaum Muslimin berdatangan memenuhi panggilan Allah SWT sehingga masjid menjadi makmur.
Karena perannya tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Muadzin mendapatkan pahala seperti pahala orang yang shalat bersamanya.” (HR. Nasa'i).
Selain itu, dalam Lubab al-Hadits, Imam Jalaluddin as-Suyuthi mengutip sabda Nabi SAW, “Apabila adzan berkumandang, maka dibukalah pintu langit, dan dikabulkanlah doa. Dan apabila telah tiba waktu iqamah, maka doa seseorang tidak akan ditolak.”
Dengan berbagai keutamaan itu, menjadi muadzin merupakan amalan mulia yang memiliki pahala besar di sisi Allah SWT.
Adzan tidak hanya menjadi penanda masuknya waktu shalat, tetapi juga merupakan syiar Islam yang mengajak umat untuk mengingat Allah SWT dan menunaikan kewajiban ibadah.
Dengan memahami pengertian, hukum, serta bacaan adzan, umat Islam dapat semakin menghayati makna seruan suci yang dikumandangkan lima kali setiap hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang