Editor
KOMPAS.com – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa transformasi pesantren bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman.
Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 yang digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jumat (24/7/2026).
Workshop yang digagas KH Imam Jazuli tersebut merupakan bagian dari program besar untuk membekali 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia dengan strategi transformasi kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.
"Kami menyambut baik langkah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia ini. Mudah-mudahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, pesantren-pesantren akan menjadi sumber bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia yang membanggakan," kata Ahmad Muzani dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/7/2026).
Menurutnya, workshop yang diikuti 308 pengasuh pesantren dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera itu menjadi ikhtiar penting agar pesantren mampu membaca perubahan zaman yang dipengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi.
"Karena itu, pondok pesantren juga harus menyesuaikan berbagai macam kemajuan, perubahan, inovasi, dan transformasi menjadi sebuah keharusan," tegasnya.
Ahmad Muzani menilai Pesantren Bina Insan Mulia telah menunjukkan contoh nyata bagaimana transformasi dapat dilakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Karena itu, ia mengajak para kiai mempelajari model pengelolaan pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Pesantren ini adalah contoh bagaimana perubahan-perubahan itu dilakukan. Karena itu cara berpikir bagaimana perubahan itu dilakukan akan dibedah dalam workshop hari ini," ujarnya.
Di hadapan para pengasuh pesantren yang membina antara 100 hingga 3.000 santri, Ketua MPR menekankan bahwa lulusan pesantren harus mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan kiai untuk mengajarkan ilmu agama, tetapi juga tempat bertanya mengenai persoalan kehidupan, mulai dari pertanian, peternakan hingga peluang usaha.
"Setelah lulus pesantren, para santri harus menjadi solusi atas problem kehidupan di masyarakat, bukan sebatas ngajar ngaji saja," katanya.
Ia juga mengajak pesantren memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana belajar, berinovasi, berwirausaha, sekaligus membuka peluang ekonomi.
"Dari handphone seseorang bisa mendapatkan solusi, promosi, inspirasi, dan transaksi. Handphone harus dijadikan sumber rezeki dan inspirasi," tambahnya.
Dalam sambutannya, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa transformasi pesantren merupakan investasi besar bagi masa depan Indonesia.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah peserta didik usia SD hingga SMA yang memilih pendidikan pesantren masih relatif kecil, yakni sekitar 3–5 persen dari total 53,9 juta pelajar nasional.
"Lewat kegiatan ini saya mengajak para pengasuh pesantren untuk menciptakan daya tarik yang kuat bagi generasi Indonesia untuk masuk pesantren," ujarnya.
Kiai Imam menilai pesantren harus mulai berlomba menghasilkan lulusan yang mampu mengisi posisi-posisi strategis dalam pembangunan nasional.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak alumni pesantren yang menjadi pemimpin birokrasi, profesional, akademisi, maupun pengambil kebijakan.
"Lulusan pesantren yang jadi kiai, ustaz, atau dai sudah terlalu banyak. Sementara di bidang lain yang sangat dibutuhkan Indonesia justru masih sangat sedikit," katanya.
Ia bahkan mengaku sering menanyakan kepada para menteri mengenai jumlah alumni pesantren yang menduduki jabatan eselon I dan II di kementerian.
"Jawabannya sedikit sekali. Saya pernah diminta mencarikan pejabat yang pernah mondok untuk sejumlah posisi strategis di BUMN, saya kesulitan. Kalau mencari calon komisaris banyak," ujarnya yang disambut tawa peserta.
Kiai Imam menegaskan bahwa masyarakat pesantren tidak cukup hanya mengkritik berbagai persoalan bangsa, tetapi juga harus menghadirkan solusi melalui penciptaan sumber daya manusia unggul.
"Solusi yang perlu kita tempuh adalah melakukan transformasi total. Takut istri itu tidak apa-apa bagi para kiai, tapi yang penting jangan sampai takut melakukan perubahan transformasi," ucapnya disambut gelak tawa peserta.
Ia menjelaskan, materi workshop tidak hanya berisi motivasi, tetapi juga strategi praktis, rencana aksi, serta pendampingan implementasi transformasi pesantren.
Kiai Imam turut membagikan pengalaman Pesantren Bina Insan Mulia dalam mengantarkan santri memperoleh beasiswa dan kerja sama pendidikan di 16 negara, serta keberhasilan alumninya menembus berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Baca juga: MUI Dorong Pesantren Jadi Episentrum Ekonomi Umat, Siapkan Roadmap Lahirkan Ribuan Santri-Preneur
Selain itu, ia mengungkapkan rencana menggelar workshop lanjutan bagi para dermawan dan pejabat yang ingin membangun pesantren modern dan berdaya saing.
Ketua panitia, Ubaydillah Anwar, mengatakan seluruh kebutuhan peserta workshop, mulai dari transportasi, akomodasi hotel, konsumsi hingga layanan antar-jemput bandara, ditanggung sepenuhnya oleh Imjaz Foundation.
Menurutnya, program yang berlangsung sejak Juni itu telah mencapai sekitar 80 persen dari target 5.000 pengasuh pesantren.
"Sisanya tinggal wilayah Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur," ujar Ubaydillah.
Workshop berlangsung selama 14 jam, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ditutup dengan pengijazahan Dalailul Khairat oleh KH Imam Jazuli, kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang