KOMPAS.com - "Ke kantin, yuk..." Suara Khairina memecah keheningan ruang redaksi Kompas.com Biro Solo, Jawa Tengah.
Begitulah keseharian wanita yang akrab kami sapa Kak Bund, Bunda Irin, atau Bundo.
Nyaris setiap sore, ajakan itu menjadi "penyelamat" teman-teman redaksi dari keseriusan memberitakan beragam isu dari penjuru Indonesia, bahkan dunia.
Kak Bund membuat kami berhenti menatap layar. Menyingkirkan penat dari berita kondisi yang seringkali tidak baik-baik saja.
Kak Bund ibarat jam dinding yang berdentang tidak pernah lewat dari waktu. Membuat kami rehat sejenak, mengambil napas, dan menyadarkan makna bahwa jurnalis juga manusia.
Tetapi, Minggu (26/7/2026) pagi, kabar duka datang. Pada dini hari, maut datang menjemput Kak Bund seperti pencuri.
Sore-sore kami ke depan, tak ada lagi seseorang yang dengan rela menyelamatkan kami.
Perkenalan pribadi saya (Asisten Redpel Kompas.com, Mahardini) dengan Kak Bund terjadi jauh sebelum kami menjadi rekan kerja.
Medio 2016 silam, ia masih aktif menjadi staf humas di kampus UNS, usai bertugas menjadi jurnalis di Harian Kompas.
Saya kerap mencari “suaka” untuk menulis berita seusai liputan grass root di ruang kerjanya, sedangkan Kak Bund merampungkan tugas-tugas kehumasan di sana.
Rasanya sulit mengingat-ingat momen perkenalan perdana kami.
Tapi, masih lekat dalam ingatan, Kak Bund dengan seragam biru muda, dipadukan serasi dengan jilbab segi empat biru tua, dan senyum khasnya. Senyum yang ternyata tak pernah berubah.
Bertahun-tahun berselang, ketika kami dipertemukan di satu atap kantor, senyum itu masih sama.
Bahkan, pada hari-hari terakhir ketika tubuhnya berjuang menghadapi miom dan hasil pemeriksaan usia menjalani operasi menunjukkan keganasan.
Delapan tahun sudah Kak Bund bergabung di Kompas.com. Usianya di kantor kami nyaris berbarengan dengan usia kantor cabang ini di Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah.
Kami sebagai juniornya kerap berkelakar, Kak Bund sebagai sosok yang ikut peletakan batu pertama.
Kak Bund yang disenggol, cuma cengar-cengir sebal lantaran dianggap senior. Ia memang rendah hati.
Di akhir hayatnya, Kak Bund bertugas menjadi asisten editor di kanal Cahaya, kanal yang lekat dengan renjananya.
Namun, kalau harus menjelaskan Kak Bund kepada orang-orang yang mengenalnya di kantor, mungkin perannya bukan hal pertama yang bakal disebut.
Mereka mungkin akan lebih mengingat ajakan, “Potluck, yuk…”
Ya, Kak Bund adalah salah satu inisiator makan bareng rutin ini di kantor. Rasanya haram memulai acara sebelum beliau nongol di tengah-tengah kami.
Kak Bund selalu punya cara sederhana untuk membuat orang berkumpul.
Ia seperti selalu punya energi mengajak orang lain makan, mengobrol, atau sebentar mengingatkan ada kehidupan di luar pekerjaan yang harus kami jalani.
Di balik sosok yang getol mengajak orang kumpul-kumpul, Kak Bund rupanya menyimpan satu mimpi yang sangat personal.
“Ya Allah, izinkan saya melihat payung-payung di Nabawi secara langsung,” kata dia.
Bahkan, katanya, kalau belum pantas masuk, melihatnya saja sudah cukup. Tetapi, yang diberikan ternyata jauh lebih dari itu.
Kak Bund tak hanya melihat deretan payung-payung raksasa itu. Setelah gigih berupaya, ia lolos dan mendapatkan kesempatan bertugas sebagai anggota Media Center Haji 2024.
Penempatannya di Madinah, tempat Masjid Nabawi bersemayam.
Di sana, ia bisa bersujud berkali-kali, membantu melayani jemaah haji, sekaligus membuat laporan jurnalistik yang komprehensif.
"Saya hanya bisa menangis, menangis, menangis," kata dia mengenang cara Tuhan memeluk mimpi-mimpinya.
Semangat yang kurang lebih sama juga terlihat ketika pandemi Covid-19 belum sepenuhnya usai.
Di tengah ketidakpastian saat turbulensi membuat banyak orang kelabakan, Kak Bund mengikuti fellowship jurnalistik tingkat ASEAN tentang perlindungan perempuan. Ia lolos dan menjadi salah satu peserta terbaik dalam program yang digelar di Filipina itu.
Jurnalis Kompas.com Khairina atau akrab disapa Kak Bund yang wafat pada Minggu (26/7/2026) dini hari. Air putih
Spirit Kak Bund juga kentara kala berjuang mencari cara sembuh dari penyakitnya.
Beberapa bulan terakhir, ia getol konsul dokter, mencari rumah sakit rujukan, hingga akhirnya menjalani operasi.
Kelar menjalani operasi di RSUD Dr Moewardi Solo, kami bertanya apa yang paling ia inginkan.
Jawabannya ringan, “Sekarang air putih jadi menu favoritku, Kak.”
“Oke, nanti aku bawain air mineral di vending machine di lantai bawah,” seloroh saya waktu itu.
Tapi batin rasanya nyeri. Keinginan sederhana itu datang setelah hari-hari panjang tubuhnya harus beradaptasi dengan bekas operasi dan selang alat bantu napas memenuhi ruang tenggorokan.
Bahkan, ketika kami datang menjenguk, Kak Bund berupaya duduk setengah rebah untuk menyambut kami dengan senyum terbaiknya.
Percakapan terakhir dengan Kak Bund, Kamis (23/7/2026) malam untuk membincangkan kondisi kesehatannya rupanya menjadi obrolan terakhir kami.
Sebelum sempat menjalani kemoterapi perdananya, kondisi Kak Bund kembali menurun. Jumat (24/7/2026) pagi, ia dilarikan ke rumah sakit.
Pada Minggu (26/7/2026) pukul 01.40 WIB, Kak Bund berpulang pada usia 46 tahun.
Minggu siang, Kak Bund dimakamkan tak jauh dari rumahnya, di tengah perjalanan yang biasa kami lalui ketika bertandang ke kediamannya.
Setelah ini, kantor akan tetap sibuk, tenggat akan tetap datang, grup percakapan redaksi tetap ramai, dan mungkin suatu hari nanti akan ada rekan lain yang silih-berganti mengajak kami rehat sejenak.
Tapi, kami akan teringat pada satu orang yang selama bertahun-tahun paling rajin mengajak kami, “Kantin, yuk…”
Selamat jalan, Kak Bund. Terang jalanmu di keabadian...
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang