BANYUWANGI, KOMPAS.com - Belajar dan menghafal Al-Qur'an kerap diidentikkan dengan aktivitas anak-anak maupun remaja di pondok pesantren.
Namun, pemandangan berbeda tampak di Dusun Krajan 1, Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Di sana, sebuah lembaga pendidikan Al-Qur'an bernama Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali membuka pintunya lebar-lebar bagi para perempuan dan warga lanjut usia (lansia) yang ingin memperdalam bacaan dan hafalan Al-Qur'an tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali didirikan oleh Keluarga Bani Imam Ghozali pada 11 September tahun 2022 lalu.
Rumah Tahfidz ini berdiri di atas lahan dengan luas sekitar 600 meter.
Berdirinya Rumah Tahfidz ini, bermula dari keinginan Almarhumah Hj. Sayyidah untuk mengajak teman-teman seumurannya, yang berusia di atas 50 tahun, untuk belajar mengaji.
"Keinginan ini lahir karena memang belum pernah ada tempat belajar mengaji untuk orang yang berumur di atas 50 tahun, rata-rata TPQ untuk anak-anak," kata Ketua Yayasan Assayyidah Al-Ghozali, H. Lukman Hakim, Kamis (30/7/2026).
Baca juga: Tanda Allah Menghendaki Kebaikan untuk Seseorang, Rasulullah Ungkap dalam Hadis
Lukman Hakim yang merupakan menantu dari Almarhumah Hj Sayyidah menjelaskan, awalnya, hanya ada sekitar lima orang yang mengaji bersama.
Rata-rata mereka adalah teman dan tetangga dekat Hj. Sayyidah saja.
Sejak saat itu, jumlah lansia yang ikut mengaji terus bertambah.
Setahun kemudian, Hj. Sayyidah, wafat.
Sepeninggalnya, pengelolaan Rumah Tahfidz ini diserahkan kepada sembilan saudaranya.
Saat itu, jumlah santri lansia sudah puluhan dan mulai ada santri anak-anak.
"Saat almarhumah meninggal dunia, sudah sekitar 25 santri lansia, anak-anak saat itu masih sedikit karena memang fokusnya lansia," terangnya.
Empat tahun berlalu, jumlah santri lansia terus bertambah.
Saat ini sudah terdapat 96 santri lansia di Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali.
Mereka tidak hanya berasal dari warga sekitar.
Tetapi juga dari tetangga desa dan kecamatan lain.
"Paling muda usianya 50-an, paling tua 70 lebih. Seluruhnya perempuan, karena memang fokusnya ke lansia perempuan," terangnya.
Untuk santri anak, saat ini sudah mencapai 154 santri.
Anak-anak belajar mengaji setiap hari, sore dan malam hari.
Sedangkan untuk lansia, belajarnya setiap hari Sabtu, pukul 08.00 WIB hingga 12.30 WIB.
Tenaga pendidiknya berjumlah 13 orang, terdiri dari 6 Ustazah, satu Ustaz dan enam asisten ustazah.
Dia menegaskan, semua kebutuhan Rumah Tahfidz ini seluruhnya ditanggung oleh keluarga besar Almarhumah Hj Sayyidah.
Mulai honor pengajar, operasional hingga makan bagi para santri.
"Jadi santri yang mengaji di sini semua gratis," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pengelola yang sekaligus Ustazah di Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali, Nuryatul Mardliyah, menambahkan, awalnya santri-santri tersebut hanya mengaji saja.
Tapi lama-lama akhirnya mereka tertarik menjadi penghafal Al-Qur'an.
Saat ini sudah banyak santri lansia yang hafiz Al-Qur'an hingga beberapa juz.
Begitu juga dengan santri anak-anak.
Bahkan ada santri anak yang sudah hafal 25 juz.
Di Rumah Tahfidz ini, juga dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin setiap bulan, medical check up setiap tiga bulan dan juga senam.
Rumah Tahfidz juga sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dan beberapa kali menggelar senam Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), salah satu programnya.
Selain itu, setiap kali ada keluarga atau tetangga santri lansia yang meninggal dunia, para santri lansia kompak melakukan takziah dan menggelar khotmil Al-Qur'an di rumah duka tanpa harus diminta.
"Ini sebagai wujud kepedulian dan kemanusiaan. Dari situ banyak warga lansia yang semakin tertarik untuk ikut mengaji," ungkapnya.
Dalam belajar, menurutnya, santri lansia dibentuk kelompok-kelompok.
Kelompok A adalah yang sudah bisa membaca Al-Qur'an, Kelompok B mulai bisa, dan Kelompok C yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur'an.
"Untuk jumlahnya, masing-masing kelompok hampir sama," terangnya.
Salah satu santri lansia, Nafiah Huda, 78 tahun, mengatakan, dirinya merupakan salah satu santri lansia pertama di tempat itu.
Saat pertama kali ikut mengaji, dirinya belum fasih.
Bahkan ada dua santri lansia yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur'an.
Namun saat ini mereka sudah pandai melantunkan ayat suci.
"Alhamdulillah sekarang sudah semakin lancar," katanya.
Nafiah yang tinggal tidak jauh dari lokasi Rumah Tahfidz mengaku sangat bersemangat mengaji di tempat itu.
Tidak pernah sedikit pun tebersit rasa malas.
Begitu juga dengan teman-temannya yang lain.
Terbukti, jumlah santri lansia terus bertambah dan tidak pernah ada yang berhenti.
"Saya tidak ingin berhenti, ingin terus mengaji sampai akhir hayat," tegasnya.
Meskipun sudah berdiri sejak tahun 2022, namun secara resmi Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali baru diresmikan pada Kamis (30/7/2026). Peresmian dilakukan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar.
Dalam sambutannya, Akhmad Sruji Bahtiar mengatakan, keberadaan Rumah Tahfidz ini sejalan dengan prinsip bahwa mencari ilmu tidak mengenal usia.
Baca juga: Doakan Korban Majelis Taklim Bogor, Menag: Wafat Saat Mengaji, Semoga Syahid
Rumah Tahfidz Assayyidah Al-Ghozali tidak hanya menerima santri anak tetapi juga lansia.
"Jadi Rumah Tahfidz ini sudah sesuai sebagai tempat belajar mulai anak-anak hingga lansia. Jangan merasa malu untuk bisa, untuk belajar untuk paham. Usia berapa pun jangan malu belajar," tegasnya.
Kehadiran Rumah Tahfidz ini, kata dia, sesungguhnya adalah upaya untuk menjaga ayat-ayat Allah, kalamullah. Menurutnya, cara terbaik menjaga kalamullah adalah dengan memperbanyak hafiz dan hafizah.
"Jadi bukan hanya sekadar untuk belajar Al-Qur'an, tapi menjaga kalamullah.
Menjaga kalamullah adalah sebuah kemuliaan," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang