Editor
KOMPAS.com — Tidak semua pekerjaan yang dilakukan umat Islam otomatis bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Ada sejumlah faktor yang justru dapat menggugurkan nilai ibadah tersebut, meski pekerjaan itu dilakukan setiap hari.
Hal ini diungkap dalam jurnal "Prinsip Bekerja Sebagai Ibadah Menurut Perspektif Islam" karya Mariana Binti Mohd Ismail dari Universiti Islam Antarabangsa Malaysia, yang dipublikasikan di jurnal World of Work.
Baca juga: Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Menurut jurnal tersebut, setidaknya terdapat enam faktor yang dapat menyebabkan sebuah pekerjaan kehilangan nilai ibadahnya.
Islam melarang keras memberi maupun menerima suap untuk memuluskan suatu pekerjaan karena hukumnya haram.
Mariana menyoroti pentingnya menjaga aurat, termasuk dalam lingkungan kerja. Sebagai contoh yang disebutkan dalam jurnal, pekerja perempuan di sektor perhotelan yang diwajibkan memakai seragam tidak menutup aurat dinilai berpotensi mendatangkan dosa dan fitnah.
Seorang pemimpin dalam organisasi dituntut menjaga etika dan tidak menzalimi karyawan di bawahnya, karena tindakan tersebut dilarang dalam ajaran Islam.
Jika niat bekerja semata-mata untuk mengejar kekayaan duniawi tanpa mengaitkannya dengan Allah SWT, maka pekerjaan tersebut disebut akan sia-sia secara spiritual.
"Jangan memaksudkan bahwa rezeki adalah hasil kerja, karena kerja itu adalah ibadah sedangkan rezeki itu adalah urusan Allah SWT," tulis Mariana dalam jurnalnya.
Bekerja keras namun melupakan kewajiban shalat lima waktu dinilai membuat rezeki yang diperoleh kehilangan keberkahan.
Contoh yang disebutkan antara lain memanipulasi jam kerja, seperti absen tepat waktu namun keluar untuk sarapan hingga satu jam, serta kecurangan dalam berdagang, misalnya menjual produk dengan berat yang tidak sesuai label.
Menurut Mariana, memahami keenam faktor ini penting agar umat Islam dapat menjadikan pekerjaan sehari-hari sebagai sarana ibadah yang sesungguhnya, bukan sekadar rutinitas mencari penghasilan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang