Editor
KOMPAS.com - Perjalanan Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) atau Tapak Suci tidak terlepas dari sosok Muhammad Barie Irsyad yang mengembangkan pencak silat sebagai sarana pembinaan fisik sekaligus pendidikan keagamaan.
Pemikirannya tentang pencak silat yang rasional, dinamis, dan berlandaskan akidah menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan Tapak Suci.
Sebagai organisasi pencak silat di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi otonom (ortom) ke-11, Tapak Suci berdiri pada tahun 1963 di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, melalui penyatuan tiga aliran pencak silat, yakni Cikauman, Seranoman, dan Kasegu.
Baca juga: Sejarah Tapak Suci, Organisasi Pencak Silat Muhammadiyah
Dari Kampung Kauman Yogyakarta, gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan pencak silat Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah hingga mancanegara.
Kiprah Barie Irsyad juga menunjukkan bagaimana seni bela diri dapat dipadukan dengan dakwah, kaderisasi, dan pembentukan akhlak.
Baca juga: Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Di balik berdirinya Tapak Suci terdapat sosok Muhammad Barie Irsyad, putra Kauman Yogyakarta yang lahir pada 3 Agustus 1934.
Ia tumbuh di lingkungan kampung santri yang menjadi basis sekaligus tempat lahirnya Muhammadiyah.
Lingkungan tersebut membentuk Barie dengan pondasi akidah Islam yang kuat. Nilai tersebut kemudian turut membentuk kepribadiannya yang rasional, ilmiah, dinamis, serta berani membela kebenaran.
Pada era 1930-an, Kauman tidak hanya dikenal sebagai kampung santri, tetapi juga memiliki tradisi pencak silat yang kuat.
Mengikuti tradisi tersebut, Barie kecil berlatih di Perguruan Cikauman dan tercatat sebagai murid generasi keenam.
Bakat Barie dalam pencak silat terlihat menonjol sehingga ia kemudian diproyeksikan menjadi salah satu calon penerus tradisi pencak Kauman.
Setelah masa perang kemerdekaan, ia semakin mendalami ilmu pencak, terutama di tengah kondisi politik negara yang belum stabil.
Pada masa tersebut, banyak pendekar Tapak Suci yang gugur sehingga tradisi pencak di Kauman sempat mengalami pelemahan.
Kondisi itu mendorong Barie untuk semakin serius mempelajari dan mengembangkan ilmu bela diri.
Dengan bekal akidah Muhammadiyah yang kuat, Barie muda mempelajari berbagai aliran pencak yang berkembang di masyarakat.
Ia tetap berpegang pada prinsip keagamaannya dan menolak praktik mistis maupun ritual yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama.
Pada masa itu, sejumlah praktik pencak silat masih mengandalkan ilmu mistis dan ilmu hitam.
Berbeda dari pandangan tersebut, Barie memandang pencak sebagai ilmu gerak yang rasional sehingga harus dipelajari, diajarkan, dan dikembangkan melalui metode ilmiah.
Penguasaan teknik dapat diuji secara objektif, sedangkan pengembangannya dilakukan secara terbuka melalui “adu kaweruh” atau pertukaran pengetahuan antarp pendekar.
Dari pemikiran tersebut kemudian berkembang konsep pencak yang metodis dan dinamis, yang menjadi salah satu ruh Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah ketika didirikan pada 31 Juli 1963.
Bagi Barie Irsyad, kemampuan pencak silat secara fisik saja tidak cukup. Ia tidak memandang ilmu bela diri sebagai sarana untuk menjadi orang yang ampuh, tetapi sebagai jalan untuk mencari keselamatan di dunia dan akhirat.
Karena itu, Barie berpandangan bahwa pencak silat juga harus memiliki aspek pendidikan mental dan spiritual.
Agama harus menjadi landasan yang tertanam kuat dalam diri seorang pendekar sehingga kemampuan fisik berjalan bersama pembentukan karakter.
Pemikiran tersebut kemudian melahirkan kurikulum pendidikan Tapak Suci yang memadukan pendidikan ragawi dan pendidikan ruhani.
Dari konsep itu pula lahir motto Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang berbunyi “Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat, Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah”.
Sikap Barie terhadap Tapak Suci Muhammadiyah juga berkaitan dengan semangat amar ma'ruf nahi munkar yang selaras dengan filosofi gerakan Muhammadiyah.
Prinsip tersebut diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid di berbagai bidang.
Pesilat putri Tapak Suci menunjukkan keahliannya dalam demonstrasi di ajang festival internasional. Kehadiran ratusan pesilat dari 24 negara akan memeriahkan Muktamar Tapak Suci 2026 di Semarang, mempertegas visi internasionalisasi Tapak Suci Muhammadiyah.Memasuki era 1950-an, keresahan Barie Irsyad terhadap praktik pencak silat yang berkaitan dengan ilmu hitam dan mengarah pada Tahayul, Bid'ah, dan Churafat (TBC) semakin kuat.
Pada 1957, sebagai murid generasi keenam pencak Kauman, Barie telah menyelesaikan serangkaian ujian dari sejumlah guru pencaknya dan memperoleh izin untuk menerima murid.
Setelah mendapat restu dari para gurunya, Barie yang saat itu berusia 23 tahun melakukan sejumlah langkah penting.
Pertama, ia mendirikan paguron pencak Kasegu (Kauman Serba Guna) dan berlatih secara intensif bersama bendera paguron tersebut.
Kedua, Barie Irsyad menciptakan senjata bernama “SEGU” (Serba Guna) yang berbentuk lafal Mim Ha Mim Dal. Jika digabungkan, rangkaian huruf tersebut membentuk kata Muhammad.
Ketiga, dengan berbekal akidah, ilmu, perguruan, murid, serta senjata SEGU, Barie menghadapi kondisi masyarakat pada era 1950-an yang masih banyak dipengaruhi praktik TBC.
Upaya memberantas TBC dilakukan melalui perguruan bela diri yang dibangunnya. Barie tidak serta-merta menggunakan cara keras, tetapi bersama para ulama terlebih dahulu menemui para pendekar dan dukun aliran klenik untuk berdialog secara persuasif serta memberikan nasihat.
Namun, upaya tersebut tidak menemukan titik temu. Pada akhirnya disepakati “adu kaweruh” sebagai bentuk pembuktian keilmuan pencak secara adil dan terbuka.
Dengan ilmu pencak fisiknya yang metodis dan dinamis, Barie berhasil mengalahkan pendekar klenik dan mengusirnya agar tidak lagi beroperasi di Kampung Kauman.
Langkah tersebut kemudian menjadi bagian dari kiprahnya dalam menghadapi praktik yang dinilai bertentangan dengan akidah.
Adu kaweruh tidak hanya dilakukan untuk memberantas TBC, tetapi juga karena Barie merasa terpanggil untuk membela dan mendukung para ulama di kampungnya.
Kiprah tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjuangan Barie Irsyad dalam melawan kemungkaran akidah.
Kemenangan atas penganut aliran ilmu hitam menjadi bukti bahwa pencak fisik yang berlandaskan akidah yang benar tidak dapat dikalahkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan TBC.
Setelah praktik dukun dan pencak aliran hitam berhenti beroperasi di Kauman pada 1957, kampung tersebut kemudian secara perlahan mendeklarasikan diri sebagai kampung yang “bebas takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC)”.
Cita-cita tersebut selaras dengan ikhtiar yang telah lama dilakukan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.
Perjuangan Barie Irsyad tidak berhenti pada upaya memberantas praktik TBC. Memasuki dekade 1960-an, ia kembali menghadapi situasi sosial dan politik yang penuh gejolak, termasuk meningkatnya ketegangan menjelang peristiwa G30S/PKI.
Untuk merespons kondisi tersebut sekaligus mencegah potensi perpecahan antarpaguron pencak di Kauman, muncul gagasan menyatukan sejumlah perguruan pencak yang memiliki aliran yang sama.
Perguruan tersebut terdiri atas Paguron Cikauman yang didirikan Achmad Dimyati dan M Wahib pada 1925, Seranoman yang didirikan Moh Syamsuddin pada 1930-an, serta Kasegu yang didirikan Barie Irsyad pada 1957.
Setelah melalui berbagai musyawarah dan adu kaweruh untuk membuktikan keilmuan masing-masing, para guru pencak Kauman akhirnya sepakat mendirikan Tapak Suci pada 1963.
Setelah Tapak Suci berdiri, Barie Irsyad bersama rekan-rekannya bergerak melakukan advokasi kepada umat menghadapi gangguan kelompok-kelompok komunis yang mulai menunjukkan aktivitas menjelang G30S/PKI.
Pada 1 Oktober 1965, peristiwa kudeta G30S/PKI meletus. Hari-hari setelahnya, kondisi Yogyakarta menjadi mencekam dan Barie Irsyad memimpin Tapak Suci berhadapan dengan PKI. Kondisi tersebut berlangsung hingga pembubaran PKI pada 1966.
Perjuangan Tapak Suci pada dekade 1960-an tidak hanya berkaitan dengan penyatuan tiga perguruan pencak di Kauman dan menghadapi kelompok komunis.
Persoalan lain yang melatarbelakangi penyelenggaraan Konferensi Nasional I Tapak Suci pada 1966 adalah kebutuhan memperkuat eksistensi organisasi yang mulai berkembang ke berbagai daerah sejak 1964.
Pada 1964, Tapak Suci yang baru didirikan pada 1963 dan berada di bawah naungan Muhammadiyah mulai menerima permintaan pembukaan cabang di sejumlah daerah.
Pada periode tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diketuai KH. Ahmad Badawi merestui Tapak Suci menjadi organisasi otonom Muhammadiyah sehingga kemudian digunakan nama Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Perubahan tersebut menjadi fase penting dalam perjalanan Tapak Suci. Organisasi yang sebelumnya merupakan perguruan pencak lokal di Yogyakarta kemudian berkembang menjadi organisasi otonom di bawah Persyarikatan Muhammadiyah.
Transformasi itu ditandai dengan pemantapan struktur organisasi, perluasan ke berbagai daerah, serta penguatan fungsi bela diri sebagai sarana pengaderan umat.
Pada 1966, Tapak Suci untuk pertama kalinya menyelenggarakan Konferensi Nasional I. Forum tersebut dihadiri para utusan Perguruan Tapak Suci yang mulai tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Dalam konferensi tersebut, Tapak Suci secara resmi menunjuk H. Djarnawi Hadikusumo sebagai Ketua Umum pertama Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Sementara itu, Barie Irsyad sebagai pendiri Tapak Suci memusatkan perhatiannya pada pengembangan teknik, penyusunan kurikulum metodis, serta pengaderan pesilat.
Konferensi Nasional I juga menjadi momentum pemantapan organisasi secara nasional. Tapak Suci kemudian dikembangkan sebagai gerakan dan lembaga yang memiliki jaringan di berbagai daerah.
Perkembangan tersebut berlanjut hingga Tanwir Muhammadiyah pada 1967 yang menetapkan Tapak Suci secara resmi sebagai organisasi otonom Muhammadiyah ke-11.
Perkembangan Tapak Suci terus berlangsung setelah penguatan organisasi pada dekade 1960-an. Memasuki era 2000-an, organisasi ini mulai memperluas kiprahnya secara lebih masif hingga ke tingkat internasional.
Sejak merintis kiprah internasional pada 2000-an, Tapak Suci kini telah berkembang hingga 24 negara. Di tingkat nasional, organisasi ini telah tersebar dalam 34 Pimpinan Wilayah.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dibangun dari gagasan Barie Irsyad mengenai pencak silat sebagai ilmu bela diri yang metodis, dinamis, serta berlandaskan akidah dan akhlak.
Kehidupan Muhammad Barie Irsyad sebagai seorang pendekar diabdikan untuk membesarkan Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Keteguhan akidah, keberanian membela kebenaran, serta konsistensinya menjadikan pencak silat sebagai media dakwah membuat sosoknya dikenang sebagai salah satu teladan perjuangan bagi kader Muhammadiyah.
Pada 2003, ketika Tapak Suci Putera Muhammadiyah mulai merintis langkah menuju panggung internasional, Barie Irsyad berpulang di Yogyakarta pada usia 68 tahun.
Kepergiannya mengakhiri perjalanan hidup seorang pendekar, tetapi tidak menghentikan cita-cita dan gagasan yang telah ia tanamkan dalam Tapak Suci.
Lebih dari enam dekade setelah Tapak Suci didirikan pada 31 Juli 1963, warisan pemikiran Barie Irsyad terus berkembang.
Gagasannya tidak berhenti pada pengembangan teknik bela diri, tetapi tumbuh menjadi gerakan yang memadukan keunggulan teknik, kemurnian akidah, pembinaan akhlak, serta semangat amar ma'ruf nahi munkar.
Dari Kampung Kauman, kampung kelahiran Muhammad Barie Irsyad, warisan tersebut kemudian berkembang ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Perjalanan Tapak Suci membuktikan bahwa pencak silat dapat menjadi media dakwah, pembentukan karakter, sekaligus sarana melestarikan budaya bangsa dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang