Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gus Ipang Wahid
Pimpinan Pesantren

Wakil Pengasuh Pesantren Trensains Jombang dan Komisaris Telkomsel. 

Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 11:34 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

HAJATAN Muktamar ke-35 di Tambak Beras, Jombang yang kurang sebulan lagi, bukanlah sekadar ritual lima tahunan bagi Nahdlatul Ulama (NU). Ini adalah garis start untuk lari maraton di abad kedua. Tempatnya pun sarat magis sejarah: Jombang, rahim tempat NU dilahirkan satu abad silam. Kembali ke Jombang berarti kembali ke akar, tetapi bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk melompat lebih jauh.

Seratus tahun lalu, para kiai berkumpul merespons runtuhnya Kekhalifahan Usmani dan cengkeraman kolonialisme. Hari ini, musuhnya berbeda. Musuhnya tidak kelihatan, tetapi ada di kantong setiap orang: algoritma digital, disrupsi kecerdasan buatan, kapitalisme global, hingga pergeseran otoritas keagamaan yang kini berpindah ke layar gawai.

Maka, agenda utama Muktamar Jombang tidak boleh lagi terjebak pada urusan perebutan kursi pimpinan atau fikih klasik yang linier. Di abad kedua ini, taruhannya adalah relevansi. Dan jangkar paling kokoh untuk menjaga relevansi itu ada pada satu titik: transformasi pesantren dan pencetakan SDM unggul.

Baca juga: Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan

Pesantren adalah DNA-nya NU. Kalau pesantrennya layu, NU ikut layu. Tapi kalau pesantrennya bertransformasi, NU akan memimpin peradaban.

Dulu, ukuran keberhasilan pesantren sangat sederhana: santri bisa membaca kitab kuning, paham nahwu-sharaf, dan menjadi imam tahlil yang fasih di kampungnya. Itu sudah luar biasa untuk abad pertama. Namun, di abad kedua, kemampuan itu baru modal dasar. Itu fardhu ain spiritual. Fardhu kifayah peradabannya adalah bagaimana santri menguasai sains, teknologi, ekonomi global, dan bahasa internasional.

Zaman sudah berubah drastis, dan pesantren tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri. Kita tidak bisa lagi menghadapi masa depan dengan metodologi masa lalu yang statis. Pesantren harus menjadi laboratorium kemajuan, bukan museum masa lalu.

Dalam peta transformasi inilah, mata saya salah satunya tertuju pada sebuah fenomena menarik dari Cirebon: Pesantren Bina Insan Mulia, yang diasuh oleh Kiai Imam Jazuli. Pesantren ini adalah contoh konkret bagaimana agenda abad kedua NU diterjemahkan di lapangan. Kiai Imam Jazuli tidak gagap menghadapi zaman. Beliau justru mendesain pesantrennya untuk melompat melampaui sekat-sekat tradisional.

Di Bina Insan Mulia, tentu saja nahwu sharaf tetap diajarkan, tetapi santri juga disiapkan untuk menembus universitas-universitas terbaik di dunia, dari Timur Tengah hingga Eropa. Kurikulumnya fleksibel, berwawasan global, dan sangat adaptif. Santri didorong menguasai teknologi dan bahasa asing bukan sebagai suplemen, melainkan sebagai instrumen perjuangan zaman baru. Ini bukan lagi sekadar modernisasi fisik seperti mengganti gedung bambu menjadi beton, melainkan transformasi epistemologis dan mentalitas.

Model seperti Bina Insan Mulia inilah yang harusnya menulari muktamar. Muktamar Jombang harus melahirkan cetak biru (blueprint) nasional tentang bagaimana mencetak SDM unggul dari rahim pesantren. Kita butuh jutaan santri yang fasih membaca kitab, sekaligus lihai coding, paham geopolitik, dan menguasai instrumen ekonomi makro.

NU tidak boleh lagi hanya bangga dengan jumlah jemaahnya yang ratusan juta. Kuantitas tanpa kualitas adalah beban sejarah. Di abad kedua, NU harus mengonversi social capital yang masif itu menjadi human capital yang kompetitif.

Jika Muktamar ke-35 di Jombang ini berhasil merumuskan langkah taktis untuk radikalisasi mutu pendidikan pesantren, maka abad kedua bukan lagi milik peradaban Barat atau Timur Jauh. Abad kedua akan menjadi abadnya kaum sarungan yang mendunia. Saatnya Jombang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru dunia: NU siap memimpin masa depan dengan iman di dada, sains di kepala, dan dunia di genggaman.

Tentu, tantangan terbesar dari agenda besar ini adalah keberanian para peserta muktamar untuk keluar dari pusaran politik praktis. Jombang harus menjadi panggung di mana transaksi gagasan peradaban mengalahkan transaksi kekuasaan jangka pendek. Sudah saatnya energi raksasa organisasi ini dihabiskan untuk memikirkan masa depan generasi muda NU, bukan melanggengkan persaingan faksional.

Langkah lompatan ini sama sekali tidak menanggalkan identitas ke-NU-an, melainkan cara tertinggi menghormati warisan intelektul kakek buyut Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Menjaga tradisi lama yang baik (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih) hari ini berarti memperkokoh tauhid dan akhlak, sembari mengambil hal baru yang lebih baik (wal akhdzu bil jadidil ashlah) melalui penguasaan sains, kecerdasan buatan, dan diplomasi internasional.

Bayangkan satu atau dua dekade dari sekarang, para ahli AI terkemuka, diplomat ulung di PBB, hingga inovator teknologi dunia lahir dari rahim pesantren. Mereka adalah anak-anak muda yang mutqin membaca kitab turats, tetapi juga fasih menentukan arah kebijakan digital global. Di situlah narasi Islam Rahmatan lil 'Alamin tidak lagi berhenti sebagai jargon mimbar, melainkan mewujud dalam aksi nyata.

Baca juga: Resmi! Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Ini Susunan Organisasinya

Lonceng pergantian zaman sudah berbunyi nyaring dari rahim Jombang. Muktamar ke-35 ini tidak boleh berlalu begitu saja sebagai sekadar perayaan seremonial tanpa bekas yang substantif. Ini adalah momen now or never bagi Nahdlatul Ulama: tetap nyaman menjadi penonton sejarah di abad kedua, atau bangkit mengambil alih peran sebagai sutradara peradaban dunia. Wallahu'alam

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Aktual
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Aktual
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Aktual
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Aktual
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Aktual
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Aktual
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
Aktual
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Aktual
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Aktual
Tayamum: Tata Cara, Niat, Syarat, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui
Tayamum: Tata Cara, Niat, Syarat, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui
Doa dan Niat
Dua Hafidz Muda Kaltim Wakili Indonesia di MTQ Internasional Maroko
Dua Hafidz Muda Kaltim Wakili Indonesia di MTQ Internasional Maroko
Aktual
Doa Tahajud Farrah, Santri Medan yang Lolos Beasiswa S1-S2 dan Al-Azhar Kairo
Doa Tahajud Farrah, Santri Medan yang Lolos Beasiswa S1-S2 dan Al-Azhar Kairo
Aktual
Tak Hanya Tenda dan Tali-temali, Pramuka Santri Diajak Belajar Merawat Bumi
Tak Hanya Tenda dan Tali-temali, Pramuka Santri Diajak Belajar Merawat Bumi
Aktual
Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Assalamualaikum Artinya Apa? Ini Tulisan, Jawaban, dan Adabnya dalam Islam
Doa dan Niat
Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar