
HAJATAN Muktamar ke-35 di Tambak Beras, Jombang yang kurang sebulan lagi, bukanlah sekadar ritual lima tahunan bagi Nahdlatul Ulama (NU). Ini adalah garis start untuk lari maraton di abad kedua. Tempatnya pun sarat magis sejarah: Jombang, rahim tempat NU dilahirkan satu abad silam. Kembali ke Jombang berarti kembali ke akar, tetapi bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk melompat lebih jauh.
Seratus tahun lalu, para kiai berkumpul merespons runtuhnya Kekhalifahan Usmani dan cengkeraman kolonialisme. Hari ini, musuhnya berbeda. Musuhnya tidak kelihatan, tetapi ada di kantong setiap orang: algoritma digital, disrupsi kecerdasan buatan, kapitalisme global, hingga pergeseran otoritas keagamaan yang kini berpindah ke layar gawai.
Maka, agenda utama Muktamar Jombang tidak boleh lagi terjebak pada urusan perebutan kursi pimpinan atau fikih klasik yang linier. Di abad kedua ini, taruhannya adalah relevansi. Dan jangkar paling kokoh untuk menjaga relevansi itu ada pada satu titik: transformasi pesantren dan pencetakan SDM unggul.
Baca juga: Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Pesantren adalah DNA-nya NU. Kalau pesantrennya layu, NU ikut layu. Tapi kalau pesantrennya bertransformasi, NU akan memimpin peradaban.
Dulu, ukuran keberhasilan pesantren sangat sederhana: santri bisa membaca kitab kuning, paham nahwu-sharaf, dan menjadi imam tahlil yang fasih di kampungnya. Itu sudah luar biasa untuk abad pertama. Namun, di abad kedua, kemampuan itu baru modal dasar. Itu fardhu ain spiritual. Fardhu kifayah peradabannya adalah bagaimana santri menguasai sains, teknologi, ekonomi global, dan bahasa internasional.
Zaman sudah berubah drastis, dan pesantren tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri. Kita tidak bisa lagi menghadapi masa depan dengan metodologi masa lalu yang statis. Pesantren harus menjadi laboratorium kemajuan, bukan museum masa lalu.
Dalam peta transformasi inilah, mata saya salah satunya tertuju pada sebuah fenomena menarik dari Cirebon: Pesantren Bina Insan Mulia, yang diasuh oleh Kiai Imam Jazuli. Pesantren ini adalah contoh konkret bagaimana agenda abad kedua NU diterjemahkan di lapangan. Kiai Imam Jazuli tidak gagap menghadapi zaman. Beliau justru mendesain pesantrennya untuk melompat melampaui sekat-sekat tradisional.
Di Bina Insan Mulia, tentu saja nahwu sharaf tetap diajarkan, tetapi santri juga disiapkan untuk menembus universitas-universitas terbaik di dunia, dari Timur Tengah hingga Eropa. Kurikulumnya fleksibel, berwawasan global, dan sangat adaptif. Santri didorong menguasai teknologi dan bahasa asing bukan sebagai suplemen, melainkan sebagai instrumen perjuangan zaman baru. Ini bukan lagi sekadar modernisasi fisik seperti mengganti gedung bambu menjadi beton, melainkan transformasi epistemologis dan mentalitas.
Model seperti Bina Insan Mulia inilah yang harusnya menulari muktamar. Muktamar Jombang harus melahirkan cetak biru (blueprint) nasional tentang bagaimana mencetak SDM unggul dari rahim pesantren. Kita butuh jutaan santri yang fasih membaca kitab, sekaligus lihai coding, paham geopolitik, dan menguasai instrumen ekonomi makro.
NU tidak boleh lagi hanya bangga dengan jumlah jemaahnya yang ratusan juta. Kuantitas tanpa kualitas adalah beban sejarah. Di abad kedua, NU harus mengonversi social capital yang masif itu menjadi human capital yang kompetitif.
Jika Muktamar ke-35 di Jombang ini berhasil merumuskan langkah taktis untuk radikalisasi mutu pendidikan pesantren, maka abad kedua bukan lagi milik peradaban Barat atau Timur Jauh. Abad kedua akan menjadi abadnya kaum sarungan yang mendunia. Saatnya Jombang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru dunia: NU siap memimpin masa depan dengan iman di dada, sains di kepala, dan dunia di genggaman.
Tentu, tantangan terbesar dari agenda besar ini adalah keberanian para peserta muktamar untuk keluar dari pusaran politik praktis. Jombang harus menjadi panggung di mana transaksi gagasan peradaban mengalahkan transaksi kekuasaan jangka pendek. Sudah saatnya energi raksasa organisasi ini dihabiskan untuk memikirkan masa depan generasi muda NU, bukan melanggengkan persaingan faksional.
Langkah lompatan ini sama sekali tidak menanggalkan identitas ke-NU-an, melainkan cara tertinggi menghormati warisan intelektul kakek buyut Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Menjaga tradisi lama yang baik (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih) hari ini berarti memperkokoh tauhid dan akhlak, sembari mengambil hal baru yang lebih baik (wal akhdzu bil jadidil ashlah) melalui penguasaan sains, kecerdasan buatan, dan diplomasi internasional.
Bayangkan satu atau dua dekade dari sekarang, para ahli AI terkemuka, diplomat ulung di PBB, hingga inovator teknologi dunia lahir dari rahim pesantren. Mereka adalah anak-anak muda yang mutqin membaca kitab turats, tetapi juga fasih menentukan arah kebijakan digital global. Di situlah narasi Islam Rahmatan lil 'Alamin tidak lagi berhenti sebagai jargon mimbar, melainkan mewujud dalam aksi nyata.
Baca juga: Resmi! Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Ini Susunan Organisasinya
Lonceng pergantian zaman sudah berbunyi nyaring dari rahim Jombang. Muktamar ke-35 ini tidak boleh berlalu begitu saja sebagai sekadar perayaan seremonial tanpa bekas yang substantif. Ini adalah momen now or never bagi Nahdlatul Ulama: tetap nyaman menjadi penonton sejarah di abad kedua, atau bangkit mengambil alih peran sebagai sutradara peradaban dunia. Wallahu'alam
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang