Editor
MANGGARAI BARAT, KOMPAS.com - Potensi kepiting bakau hingga produk olahan mangrove di Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilirik untuk dikembangkan melalui pemberdayaan berbasis zakat.
Kementerian Agama (Kemenag) menilai potensi ekonomi tersebut dapat menjadi jalan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga penerima zakat atau mustahik tidak terus bergantung pada bantuan.
Dalam jangka panjang, masyarakat yang telah mandiri secara ekonomi bahkan diharapkan dapat bertransformasi dari penerima menjadi pemberi zakat atau muzaki.
“Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi seberapa jauh masyarakat menjadi berdaya, mandiri, dan mampu mengembangkan potensi mereka. Dari mustahik, kita ingin mereka tumbuh menjadi masyarakat yang mandiri, bahkan kelak menjadi muzaki,” kata Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Waryono Abdul Ghafur dikutip dari kemenag.go.id, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Waryono menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan dan dialog pemberdayaan di Desa Golo Sepang.
Kunjungan melibatkan unsur Kementerian Sosial, United Nations Development Programme (UNDP), Lembaga Amil Zakat (LAZ) Baitul Maal Hidayatullah, LAZ Yakesma, LAZ Al Irsyad, serta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Waryono menilai Golo Sepang memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat.
Selain perikanan dan pertanian, desa tersebut memiliki potensi kepiting bakau, kawasan mangrove, pariwisata, hingga produk olahan hasil lingkungan.
Potensi tersebut diharapkan dapat dikembangkan melalui Program Kampung Zakat Kemenag yang menempatkan pemberdayaan sebagai salah satu cara mendorong mustahik menuju kemandirian.
“Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi penerima bantuan. Pemberdayaan harus mampu mengubah potensi yang ada menjadi kekuatan ekonomi dan sosial masyarakat,” ujar Waryono.
Salah satu potensi yang telah dikembangkan masyarakat adalah kawasan mangrove.
Baca juga: Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Kepala Desa Golo Sepang Saverius Banskoan mengatakan, Program Desa Mandiri Peduli Mangrove telah dijalankan pada 2025 oleh Kelompok Alam Sejati.
Program tersebut antara lain mengembangkan budidaya kepiting bakau dengan sistem apartemen kepiting.
Masyarakat juga mulai mengolah hasil hutan bukan kayu dari kawasan mangrove menjadi sejumlah produk, seperti sirup, stik, dan sambal.
Pemanfaatan mangrove tersebut diarahkan untuk menjaga lingkungan sekaligus menciptakan sumber pendapatan bagi masyarakat.
Potensi lainnya datang dari kepiting soka yang memiliki pasar hingga ke luar daerah.
Permintaan terhadap komoditas tersebut antara lain datang dari kawasan pariwisata Labuan Bajo.
Namun, kapasitas produksi masyarakat saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang untuk membangun rantai usaha lokal, mulai dari produksi dan pengolahan, peningkatan kualitas produk, hingga pemasaran.
Sementara itu, sebagian masyarakat Golo Sepang masih menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pertanian tradisional.
Nelayan antara lain masih menggunakan perahu kayu atau ketinting, genset, serta alat tangkap tradisional. Sedangkan kegiatan pertanian masih banyak bergantung pada sawah tadah hujan.
Menurut Waryono, pengembangan potensi tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), LAZ, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga mitra pembangunan.
Waryono mengingatkan, program pemberdayaan harus menggunakan data yang akurat agar bantuan ataupun pendampingan sesuai dengan kondisi masyarakat.
“Kalau datanya tidak benar, intervensinya juga tidak akan tepat. Kita harus memastikan siapa yang membutuhkan, apa kebutuhannya, dan program apa yang paling tepat,” tegas Waryono.
Kemenag mendorong sinkronisasi data dengan Kementerian Sosial, pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), pemerintah desa, Baznas, dan LAZ.
Data tersebut diperlukan karena masih ditemukan masyarakat yang secara faktual berada dalam kondisi miskin, termasuk miskin ekstrem, tetapi belum seluruhnya terakomodasi secara cepat dalam pemutakhiran data.
Kemenag juga mendorong penggunaan sistem informasi zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) untuk membantu pemetaan dan verifikasi penerima manfaat.
Di balik potensi ekonominya, Golo Sepang masih menghadapi sejumlah persoalan dasar.
Banjir antara lain kerap terjadi pada Januari hingga Maret ketika air dari wilayah hulu meluap menuju permukiman dan lahan pertanian.
Persoalan tersebut diperparah sampah rumah tangga dan sampah kiriman yang terbawa melalui aliran sungai.
Sejumlah wilayah juga masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik dan jaringan komunikasi.
Air bersih menjadi persoalan lainnya. Di sejumlah titik, pengeboran sumur hingga kedalaman sekitar 30 meter menghasilkan air yang terasa asin sehingga masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Menurut Kemenag, berbagai persoalan tersebut perlu ditangani dalam satu ekosistem pemberdayaan dan tidak berhenti pada pemberian bantuan.
Pendekatan kolaboratif diharapkan dapat menghubungkan pengentasan kemiskinan dengan pengembangan ekonomi, pengelolaan sampah, pelestarian mangrove, hingga penguatan ketahanan lingkungan masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang