Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 21:17 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Miyos Gangsa telah digelar pada 19 Agustus 2026 di Keraton Yogyakarta sebagai prosesi keluarnya dua gamelan pusaka menuju Masjid Gedhe Kauman.

Prosesi ini menjadi penanda dimulainya rangkaian Sekaten yang digelar masyarakat Yogyakarta untuk menyambut dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Mengenal Gamelan Sekaten Keraton Yogyakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo

Miyos Gangsa Menandai Awal Sekaten

Dilansir dari laman kratonjogja.id, Miyos Gangsa berarti keluarnya gamelan.

Prosesi tersebut dilaksanakan pada 5 Mulud atau Rabiul Awal, ketika dua perangkat gamelan pusaka dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Keraton Yogyakarta.

Baca juga: Keraton Yogyakarta Gelar Grebeg Maulud secara Sederhana

Dua gamelan pusaka, yakni Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, diusung dari Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti menuju Pagongan di kompleks Masjid Gedhe.

Kanjeng Kiai Gunturmadu dikawal oleh Bregada Prawiratama, sedangkan Kanjeng Kiai Nagawilaga dikawal oleh Bregada Jagakarya.

Setelah tiba di Pagongan Masjid Gedhe, kedua gamelan pusaka tersebut akan ditabuh selama tujuh hari.

Rentang penabuhan gamelan inilah yang kemudian menjadi bagian dari rangkaian Sekaten dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kedua gamelan akan dimainkan setiap hari, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang.

Penabuhan berlangsung hingga menjelang 12 Maulud, yang menjadi hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan kemudian dilanjutkan dengan acara Grebeg Maulud.

Sejarah Sekaten untuk Memperingati Maulid Nabi

Sekaten merupakan upacara kebudayaan masyarakat Yogyakarta yang telah dilanggengkan selama ratusan tahun untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini menjadi salah satu bentuk perpaduan antara kebudayaan Jawa dan nilai-nilai Islam.

Dilansir dari laman Kemenag, kata “sekaten” berasal dari “syahadatain” yang berarti dua kalimat syahadat. Yakni sebuah perjanjian ijab-qabul antara seorang hamba dengan Sang Khalik Allah SWT.

Sejarah Sekaten juga berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga yang memanfaatkan seni dan budaya sebagai media untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Dulu pada saat Sunan Kalijaga memainkan gamelan tersebut, banyak masyarakat berbondong-bondong untuk melihat karena penasaran.

Masyarakat mesti melewati parit di masjid sebagai simbol wudhu (penyucian diri). Lalu sebagai syarat untuk bisa mendengarkan alunan gamelan dari jarak dekat, masyarakat umum waktu itu diminta untuk membaca syahadatain.

Sejurus kemudian Sunan Kalijaga memberikan petuah ataupun nasihat moral yang bersumber dari ajaran agama Islam.

Begitulah Sunan Kalijaga menyebarkan nilai moral, menebar benih-benih dakwah bagi masyarakat yang waktu itu sebagian besar masih menganut animisme ataupun dinamisme.

Sunan Kalijaga bukannya antipati, kemudian dengan mudah mencap kafir—sebagaimana yang justru akhir-akhir ini dengan mudahnya muncul ke permukaan—tetapi justru mengakomodir dan mampu memanfaatkan seni budaya Jawa sebagai pintu masuk penyebaran dakwah.

Makna Spiritual Sekaten dan Maulid Nabi

Alunan musik dari gamelan pusaka ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai historis dan spiritual yang mendalam sebagai sarana dakwah serta pelestarian warisan leluhur yang tetap relevan bagi masyarakat hingga saat ini.

Karena itu, perayaan Sekaten dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi spiritual.

Tradisi tersebut tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi pengingat untuk meneladani kehidupan dan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Miyos Gangsa pada 19 Agustus 2026 menjadi awal rangkaian Sekaten di Keraton Yogyakarta untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.

Penabuhan Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga memperlihatkan keterkaitan erat antara budaya Jawa, sejarah Keraton, dan dakwah Islam.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Sekaten dapat menjadi momentum untuk menghayati pesan spiritual Maulid Nabi dan menerapkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Aktual
Menag: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Simbol Toleransi Indonesia Perlu Dikenalkan ke Dunia
Menag: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Simbol Toleransi Indonesia Perlu Dikenalkan ke Dunia
Aktual
Baznas-BKKBN Sinergikan Zakat untuk Perkuat Ekonomi 37.000 Kelompok Usaha
Baznas-BKKBN Sinergikan Zakat untuk Perkuat Ekonomi 37.000 Kelompok Usaha
Aktual
Persiapan Muktamar Ke-35 NU Capai 80 Persen, 1.300 Stan UMKM Disiapkan
Persiapan Muktamar Ke-35 NU Capai 80 Persen, 1.300 Stan UMKM Disiapkan
Aktual
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Wajib Dilakukan Usai Muktamar Ke-35 NU
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Wajib Dilakukan Usai Muktamar Ke-35 NU
Aktual
Benarkah Makan Kurma Harus Ganjil? Ini Penjelasan Sunnah Sesuai Kebiasaan Rasulullah SAW
Benarkah Makan Kurma Harus Ganjil? Ini Penjelasan Sunnah Sesuai Kebiasaan Rasulullah SAW
Aktual
Lukman Hakim Minta NU Tinggalkan Pengelolaan Tambang yang Timbulkan Fitnah dan Mafsadah
Lukman Hakim Minta NU Tinggalkan Pengelolaan Tambang yang Timbulkan Fitnah dan Mafsadah
Aktual
Menag Dukung Guru PPPK Jadi Penuh Waktu dan PNS di 2027: Ini Detailnya
Menag Dukung Guru PPPK Jadi Penuh Waktu dan PNS di 2027: Ini Detailnya
Aktual
Mengenal Huruf Hijaiyah: Jumlah, Urutan, dan Cara Membacanya
Mengenal Huruf Hijaiyah: Jumlah, Urutan, dan Cara Membacanya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar