KOMPAS.com - Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Makkah dengan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya. Julukan itu bukan diberikan oleh keluarga atau pengikutnya, melainkan oleh masyarakat Quraisy karena kejujuran, amanah, dan integritas beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Gelar Al-Amin menjadi salah satu bukti bahwa akhlak Rasulullah telah diakui bahkan sebelum turunnya wahyu. Karena itu, sifat amanah tidak hanya menjadi bagian dari kepribadian Nabi, tetapi juga menjadi teladan utama bagi setiap Muslim dalam memimpin, bekerja, maupun menjalankan hubungan sosial.
Baca juga: Khutbah Jumat: Berbaik Sangka kepada Allah saat Menghadapi Ujian
Secara bahasa, Al-Amin berasal dari kata amana yang berarti aman, terpercaya, atau dapat dipercaya. Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, gelar tersebut menunjukkan bahwa beliau selalu menjaga titipan, menepati janji, serta berkata jujur kepada siapa pun.
Kepercayaan masyarakat kepada Rasulullah sangat besar. Banyak penduduk Makkah menitipkan harta benda mereka kepada Nabi, meskipun sebagian di antara mereka menolak dakwah Islam. Hal itu menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghapus pengakuan mereka terhadap integritas beliau.
Akhlak inilah yang kemudian menjadi fondasi dakwah Islam. Sebelum mengajak manusia kepada tauhid, Rasulullah lebih dahulu memperlihatkan keteladanan melalui perilaku yang dapat dipercaya.
Baca juga: Sholawat Nariyah Lengkap: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Membacanya
Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi ketika Ka'bah direnovasi oleh suku-suku Quraisy. Mereka berselisih mengenai siapa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Perselisihan itu hampir memicu peperangan antarsuku.
Akhirnya, mereka sepakat menunjuk orang pertama yang memasuki Masjidil Haram sebagai penengah. Ketika Nabi Muhammad SAW datang, seluruh pemuka Quraisy berkata, “Hādzal-Amīn” (Inilah orang yang terpercaya). Mereka menerima keputusan beliau tanpa keraguan.
Rasulullah kemudian membentangkan sehelai kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta setiap pemimpin suku memegang ujung kain bersama-sama. Setelah batu itu berada di posisi yang tepat, beliau sendiri meletakkannya pada tempatnya.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa amanah bukan hanya soal menjaga harta, tetapi juga kemampuan menyelesaikan konflik dengan adil dan bijaksana.
Baca juga: Jangan Sampai Ditolak KUA, Ini Ketentuan Baru Daftar Nikah bagi Catin
Allah SWT menggambarkan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Surah Al-Qalam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm.
Artinya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Ayat ini menjadi dasar bahwa akhlak merupakan bagian penting dari risalah Islam. Rasulullah tidak hanya mengajarkan hukum dan ibadah, tetapi juga menghadirkan teladan nyata melalui kejujuran, kesabaran, dan amanah.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ... وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Āyatul munāfiqi tsalāts... wa idzā u'tumina khāna
Artinya: “Tanda orang munafik ada tiga… apabila diberi amanah, ia berkhianat.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga amanah bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari kualitas keimanan seseorang. Sebaliknya, mengkhianati kepercayaan termasuk sifat yang harus dihindari oleh setiap Muslim.
Nilai Al-Amin tetap relevan dalam kehidupan modern. Seorang pemimpin dituntut amanah terhadap jabatan, guru amanah terhadap ilmu, pedagang amanah dalam transaksi, dan pekerja amanah terhadap tanggung jawabnya.
Di era media sosial, amanah juga berarti menyampaikan informasi yang benar, tidak menyebarkan fitnah, serta menjaga kepercayaan publik. Integritas menjadi modal utama untuk membangun hubungan yang sehat di tengah masyarakat.
Gelar Al-Amin mengajarkan bahwa kepercayaan tidak diperoleh melalui jabatan atau popularitas, melainkan dibangun dari kebiasaan berlaku jujur, menepati janji, dan bertanggung jawab. Itulah akhlak yang menjadikan Rasulullah SAW dikenang sebagai manusia paling terpercaya sepanjang sejarah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT