Editor
KOMPAS.com - Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga meninggalkan kesan bagi warga yang menyaksikannya.
Seorang warga Semarang mengaku terharu, bangga, dan senang melihat kafilah dari 38 provinsi menampilkan busana serta budaya khas daerah masing-masing.
Baca juga: Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Semarak Pawai Taaruf turut menyentuh hati Noor Laila (52), warga Ngaliyan, Kota Semarang.
Ia mengaku terharu ketika menyaksikan langsung rangkaian pawai yang menjadi bagian dari pembukaan MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang.
Laila mengatakan dirinya sebenarnya sudah terbiasa menyaksikan berbagai pawai yang digelar di Kota Semarang, termasuk Pawai Dugderan. Namun, Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI memberikan pengalaman berbeda baginya.
Baca juga: Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
"Kalau pawai yang biasanya kayak pawai dugderan dan sebagainya itu sudah biasa. Kalau Pawai Taaruf MTQ, baru ini," ungkapnya ditemui Tribun Jateng di sela menyaksikan Pawai Taaruf di depan Balaikota.
Sebagai warga Semarang, Laila mengaku senang sekaligus bangga karena kotanya dipercaya menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI Tahun 2026.
"Tahun ini tuan rumahnya Semarang. Seneng, bahagia, bangga," katanya.
Saat menyaksikan Pawai Taaruf secara langsung, Laila merasakan kebahagiaan sekaligus haru. Suasana tersebut bahkan membuatnya terbawa emosi hingga ingin menangis.
"Perasaan saya senang, haru, pengen nangis," ungkapnya.
Laila menilai rasa haru yang muncul tidak semata-mata karena Kota Semarang menjadi tuan rumah MTQ Nasional.
Menurutnya, kemeriahan pawai yang berpadu dengan nuansa keagamaan mampu menumbuhkan rasa emosional sebagai warga negara.
“Senangnya banyak, universal. Ya, ada senangnya sebagai warga negara, ada senangnya dari kegiatan seperti ini. Ya, emosionalnya itu jadi tumbuh. Jadi, rasanya pengin nangis," imbuhnya.
Kesan serupa disampaikan warga lainnya, Irin (34), warga Semarang Barat. Ia sengaja datang bersama anaknya untuk menyaksikan kemeriahan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI.
Irin mengatakan kehadirannya merupakan inisiatif pribadi untuk ikut meramaikan penyelenggaraan MTQ Nasional di Kota Semarang.
Terlebih, anaknya yang masih duduk di kelas 8 SMP juga mengikuti lomba MTQ tingkat Kecamatan dan akan maju ke tingkat selanjutnya pada tahun depan.
“Sangat senang sekali saya sebagai warga Kota Semarang menghadiri Taaruf Pawai MTQ Nasional ini," katanya.
"Insyaallah anak saya maju tingkat Kota tahun 2027," ujarnya.
Bagi Irin, menyaksikan Pawai Taaruf secara langsung juga menjadi kesempatan untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan baru kepada anaknya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menginspirasi sang anak untuk ikut meramaikan MTQ Nasional pada masa mendatang.
“Pengetahuannya bertambah lagi tentang MTQ. Bisa saling mengetahui dari kota-kota, kabupaten, provinsi, semua di nasional-nasional," ujarnya.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Irin adalah keberagaman budaya yang ditampilkan setiap daerah dalam Pawai Taaruf. Busana, adat istiadat, hingga berbagai ornamen khas provinsi di Indonesia hadir dalam rangkaian pawai.
"Memperkenalkan dari adat istiadatnya, dari provinsi-provinsi di Indonesia. Kita tahu dari berbagai provinsinya itu sendiri," tuturnya.
Melihat langsung kafilah dari berbagai daerah juga membuat Irin semakin bangga mengikuti Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI.
"Bangga dan senang," ucapnya.
Semarak Pawai Taaruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 terasa di berbagai kawasan Kota Semarang.
Pawai yang diikuti kafilah dari 38 provinsi se-Indonesia tersebut menghadirkan beragam atraksi dan busana khas daerah yang mencerminkan keberagaman Nusantara.
Suasana semakin meriah dengan kehadiran mobil hias, penampilan marching band, hingga musik hadroh. Berdasarkan pantauan Tribun Jateng, pawai dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dengan pelepasan kafilah di depan Balaikota Semarang, Sabtu (12/9/2026).
Setelah dilepas, rombongan bergerak menuju kawasan Kantor Gubernur Jawa Tengah dengan melintasi kawasan Lawang Sewu-Tugu Muda yang menjadi salah satu ikon Kota Semarang.
Pelepasan kafilah turut dimeriahkan Tari Warak Dugder dan pertunjukan musik Gambus. Marching band juga ambil bagian dalam pawai, disusul penampilan dari Kementerian Agama dan Masjid Agung Semarang.
Kafilah dari berbagai provinsi tampil mengenakan pakaian dan busana khas daerah masing-masing. Sejumlah mobil hias tematik juga membawa ornamen rumah adat, ikon daerah, hingga satwa khas dari berbagai wilayah Indonesia.
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI menjadi ruang bagi warga Semarang untuk menyaksikan langsung pertemuan kafilah dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain menghadirkan kemeriahan, rangkaian pawai memperlihatkan keberagaman budaya melalui busana, kesenian, dan mobil hias daerah.
Bagi warga yang hadir, momentum tersebut juga menjadi pengalaman untuk mengenal lebih dekat tradisi dan budaya dari berbagai provinsi di Indonesia.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul "Noor Laila Terharu dan Pengen Nangis Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional".
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.